RADAR TULUNGAGUNG- Pergerakan IHSG pada perdagangan 23 Februari 2026 diproyeksikan masih bergerak sideways di kisaran 8.200 hingga 8.400. Analis dari Mandiri Sekuritas menilai indeks masih kesulitan menembus area resistance 8.300–8.400, sementara indikator teknikal mulai menunjukkan kondisi jenuh beli.
Dalam program Saham Pilihan, analis yang akrab disapa Kang Hadi menjelaskan bahwa bursa Amerika Serikat seperti Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq memang sempat dibuka positif. Namun secara mingguan cenderung konsolidasi. Nasdaq bahkan telah terkoreksi cukup dalam dari level tertingginya dan osilator mulai melemah.
“IHSG masih sideways. Resistance di 8.300–8.400 cukup berat ditembus. Intraday support ada di 8.200,” ujarnya.
Kondisi global turut dipengaruhi sejumlah sentimen, mulai dari pembatalan tarif global era pemerintahan sebelumnya oleh Mahkamah Agung AS, data inflasi AS (PCE) yang naik 3,3 persen year on year, hingga pertumbuhan ekonomi kuartal IV yang melambat menjadi 1,4 persen.
Saham Emas Masih Menarik
Dari sisi komoditas, harga emas dunia kembali menguat dan berhasil menembus level resistance 5.100. Penguatan emas ini dinilai berpotensi menopang saham-saham berbasis emas di Bursa Efek Indonesia.
Kang Hadi menyebut dua emiten yang paling responsif terhadap kenaikan emas adalah PT Aneka Tambang Tbk atau Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Hartadinata Abadi Tbk atau Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).
Secara teknikal, kedua saham tersebut menunjukkan tren kenaikan yang lebih kuat dibandingkan emiten tambang lain. Namun untuk ANTM, ia mengingatkan agar investor berhati-hati karena pergerakan saham ini sering kali lebih mengikuti harga nikel dibanding emas.
“Kalau ANTM sudah di atas 4.200–4.300 biasanya rawan profit taking. Idealnya beli di bawah 4.000,” jelasnya.
ADMR dan Saham Tambang Lain
Untuk PT Adaro Minerals Indonesia Tbk atau Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), peluang kenaikan masih terbuka dengan resistance di 2.300 dan support kuat di 2.000.
Sementara itu, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk atau Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dinilai memiliki karakteristik fluktuatif. Meski sempat breakout, saham ini kerap mengalami pullback setelah menembus resistance.
“Kalau bisa break 955 berpeluang cetak all time high lagi. Support kuatnya di 800,” paparnya.
Sedangkan PT Merdeka Copper Gold Tbk atau Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berpotensi melanjutkan kenaikan jika mampu menembus area 4.000. Namun jika gagal break 3.680, risiko koreksi ke 3.400 tetap terbuka.
Baca Juga: Run The City by Grand Filano Jadi Cara Baru Anak Muda untuk Menikmati Olahraga Sambil Hangout Bareng
Perbankan dan Saham Konsolidasi
Dari sektor perbankan syariah, PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dinilai menarik untuk strategi buy on weakness di area 2.300 dengan potensi rebound jangka pendek.
Sementara itu, saham-saham seperti PT Telkom Indonesia Tbk atau Telkom Indonesia Tbk (TLKM) masih berada dalam tren naik jangka menengah, tetapi cenderung konsolidasi di rentang 3.400–3.600 untuk jangka pendek.
PT Astra International Tbk atau Astra International Tbk (ASII) juga disebut masih sideways, dengan area menarik di sekitar 6.400 untuk akumulasi.
Waspadai Saham Konglomerasi
Analis mengingatkan agar investor berhati-hati pada saham-saham konglomerasi yang sudah menutup gap dan gagal melanjutkan kenaikan. Beberapa saham grup besar dinilai rawan koreksi jangka pendek jika tidak mampu menembus resistance penting.
IHSG sendiri diperkirakan masih bergerak dalam pola konsolidasi. Indikator stochastic mulai memasuki area overbought, menandakan potensi koreksi minor tetap ada meski tren besar masih relatif terjaga.
Strategi: Trading Cepat dan Disiplin
Dalam kondisi pasar seperti ini, strategi trading jangka pendek dinilai lebih relevan. Investor disarankan menerapkan teknik hit and run serta buy on weakness di area support kuat.
Selain itu, pemilihan saham berbasis komoditas emas dinilai masih menarik selama harga emas global bertahan di atas resistance penting. Namun tetap diperlukan disiplin stop loss jika terjadi pembalikan arah.
Dengan IHSG yang masih sideways dan sentimen global yang campuran, pendekatan selektif menjadi kunci. Fokus pada saham dengan katalis kuat dan hindari euforia di saham yang sudah naik terlalu tinggi tanpa dukungan volume.
Editor : Cholifatun Nisak