RADAR TULUNGAGUNG - Bitcoin 2025 kembali memasuki fase “extreme fear”. Namun di balik kepanikan investor ritel, justru terjadi pergeseran besar dalam kepemilikan Bitcoin. Data terbaru menunjukkan individu ramai-ramai menjual asetnya, sementara institusi, ETF, hingga pemerintah justru meningkatkan akumulasi.
Fenomena Bitcoin 2025 ini menjadi sorotan karena mencerminkan pola klasik pasar kripto: saat harga terkoreksi dan sentimen memburuk, investor ritel cenderung panik dan melepas aset. Sebaliknya, perusahaan besar, dana investasi, dan negara justru memanfaatkan momentum diskon untuk memborong.
Sepanjang 2025, tercatat peningkatan signifikan kepemilikan Bitcoin oleh bisnis, funds, ETF, dan pemerintah. Sementara itu, porsi kepemilikan individu justru menyusut. Pergeseran ini dinilai sebagai sinyal kuat perubahan struktur pasar kripto secara global.
Institusi Global Borong Bitcoin
Salah satu contoh mencolok datang dari Abu Dhabi. Dana investasi mereka dilaporkan membangun alokasi Bitcoin karena dianggap sebagai store of value yang mirip emas. Bahkan, sovereign wealth fund dari Uni Emirat Arab meningkatkan kepemilikan spot Bitcoin ETF hingga 45 persen menjadi sekitar USD 630 juta.
Selain itu, dana tersebut kini tercatat memegang lebih dari USD 1 miliar di iShares Bitcoin ETF (IBIT) milik BlackRock. Nama-nama besar lain seperti Morgan Stanley dan Jane Street juga tercatat sebagai pembeli signifikan.
Yang menarik, ada entitas misterius berbasis Hong Kong bernama Luror Ltd yang masuk dalam laporan 13F sebagai pemegang IBIT senilai USD 436 juta. Perusahaan ini tidak memiliki jejak publik yang jelas. Spekulasi berkembang bahwa ini bisa menjadi indikasi awal masuknya modal institusional asal Tiongkok ke Bitcoin melalui jalur ETF.
Jika benar, ini bisa menjadi titik balik penting bagi adopsi kripto di Asia, terutama mengingat pembatasan langsung kepemilikan kripto di daratan Tiongkok.
Baca Juga: Sah! Anak Kedua Resmi Jadi Warga Negara Inggris, Surat dari Home Office Ubah Masa Depan Keluarga
Clarity Act dan Regulasi Kripto AS
Dari sisi regulasi, Amerika Serikat disebut tengah berada di ambang pengesahan Clarity Act. Undang-undang ini diklaim akan memberikan kepastian hukum lebih jelas terhadap industri kripto, mengakhiri era “regulation by enforcement”.
Bahkan muncul pernyataan bahwa AS kini sedang menuju status sebagai crypto capital of the world. Selain Clarity Act, Genius Act juga disebut-sebut segera disahkan.
Di sisi lain, Gedung Putih dikabarkan mempertimbangkan pertemuan lanjutan terkait stablecoin yield antara perbankan dan perwakilan kripto. Saat ini, platform seperti Coinbase menawarkan imbal hasil sekitar 3,5 persen untuk USDC bagi pengguna tertentu, bersaing dengan rekening tabungan berbunga tinggi.
Waspada Pajak Kripto 1099-DA
Namun, di tengah geliat adopsi institusional, investor kripto AS dihadapkan pada tantangan baru: Form 1099-DA. Formulir pajak ini akan dikirim kepada pengguna exchange seperti Coinbase, Gemini, Kraken, dan Binance di AS.
Masalah utama muncul jika cost basis tidak tercatat dengan benar. Jika kolom tersebut nol, investor berpotensi membayar pajak jauh lebih besar dari seharusnya. Para ahli pajak kripto mengingatkan agar investor tidak sembarangan menggunakan software pajak tanpa memahami implikasi aturan baru ini.
Analisis Harga: Akankah Sentuh 200-Week MA?
Secara teknikal, harga Bitcoin masih bergerak datar dan relatif membosankan. Garis 200-week moving average kini berada di kisaran USD 58–59 ribu dan terus naik setiap pekan.
Dalam siklus sebelumnya, Bitcoin pernah bertahan di bawah 200-week MA selama sekitar 273 hari. Jika skenario terburuk terulang, pasar bisa mengalami tekanan 9–10 bulan sebelum kembali pulih.
Namun banyak analis menilai kondisi saat ini berbeda. Dengan akumulasi besar oleh institusi dan ETF spot, tekanan jual dari retail justru menjadi peluang konsolidasi kepemilikan oleh pemain besar.
Retail vs Institusi: Siapa yang Benar?
Data 2025 menunjukkan sekitar sepertiga lebih banyak Bitcoin berpindah dari tangan individu ke institusi dibanding tahun sebelumnya. Ini menimbulkan pertanyaan besar: di sisi mana investor ingin berada?
Apakah mengikuti arus kepanikan retail, atau justru sejalan dengan strategi jangka panjang institusi global?
Meski volatilitas masih mungkin terjadi dan peluang penurunan harga tetap terbuka, satu hal yang jelas: struktur kepemilikan Bitcoin 2025 berubah drastis. Institusi masuk, retail keluar.
Dalam sejarah pasar keuangan, perpindahan aset dari tangan lemah ke tangan kuat kerap menjadi fondasi fase kenaikan berikutnya. Apakah ini sinyal awal menuju all-time high baru?
Waktu yang akan menjawab. Namun satu hal pasti, Bitcoin 2025 bukan sekadar soal harga—melainkan soal siapa yang memegang kendali.
Editor : Lucky Naiha Syafira