Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IHSG Breakout 1,5% Ditopang Big Bank dan Sentimen Dividen, Tapi Ancaman Profit Taking Mengintai

Cholifatun Nisak • Selasa, 24 Februari 2026 | 17:00 WIB

IHSG breakout 1,5% ditopang big bank dan sentimen dividen, namun volume tipis dan risiko profit taking masih mengintai.
IHSG breakout 1,5% ditopang big bank dan sentimen dividen, namun volume tipis dan risiko profit taking masih mengintai.

RADAR TULUNGAGUNG- IHSG breakout 1,5% pada perdagangan terbaru, namun kenaikannya dinilai masih “malu-malu kucing”. Penguatan indeks lebih banyak ditopang saham-saham big bank seperti Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang tengah bersiap membagikan dividen.

Meski IHSG breakout 1,5% terbilang solid secara persentase, volume transaksi tercatat belum terlalu tinggi. Artinya, kenaikan ini belum sepenuhnya didukung arus dana besar, terutama dari investor asing. Kondisi tersebut membuat ruang kenaikan lanjutan masih terbuka, tetapi tetap dibayangi potensi profit taking jangka pendek.

Sentimen pembagian dividen menjadi motor utama penguatan saham perbankan. Dividend yield BMRI dan BBRI disebut berada di kisaran 8–9%, cukup menarik dibandingkan harga saham saat ini. Namun untuk trader jangka pendek, area sekarang dinilai mulai rawan ambil untung.

Asing Mulai Net Buy, Tapi Belum Agresif

Kabar baiknya, investor asing mulai mencatatkan net buy sekitar Rp1,1 triliun di pasar reguler. Saham yang paling banyak diborong tetap BBRI dan BMRI. Sementara saham lain seperti Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga ikut terseret sentimen positif, terutama dari kenaikan harga emas global.

Namun arus dana asing belum sepenuhnya deras. Beberapa analis menilai investor global masih mencermati faktor eksternal, termasuk dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat.

Drama Tarif Trump dan Dampaknya ke Pasar

Pasar global sempat mendapat sentimen positif setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif Presiden **Donald Trump. Namun tak lama berselang, Trump kembali menggulirkan dasar hukum baru menggunakan International Emergency Economic Power Act (IEEPA) 1977 untuk tetap memberlakukan tarif.

Situasi ini menciptakan ketidakpastian global. Negara yang belum memiliki kesepakatan bilateral dengan AS berpotensi dikenakan tarif sementara 10–15% selama maksimal 150 hari. Sementara Indonesia yang sudah memiliki kesepakatan tarif 19% kini masuk masa konsultasi 60 hari.

Kondisi tersebut dinilai membuat ketidakpastian masih tinggi. Meski begitu, pasar saham Indonesia relatif lebih terkendali dibandingkan beberapa negara lain.

Sektor Komoditas dan Waste to Energy Menggeliat

Selain big bank, sektor komoditas juga mencuri perhatian. Saham berbasis emas dan batu bara menguat signifikan. ANTM misalnya, mencatat kenaikan lebih dari 4% dalam sehari.

Proyek waste to energy (WTE) juga menjadi sorotan. Pemerintah disebut segera mengumumkan pemenang tender tahap pertama dari total 18 proyek hilirisasi strategis nasional senilai Rp600 triliun. Sentimen ini mendorong saham-saham terkait energi dan konstruksi.

Beberapa emiten yang disebut aktif antara lain Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang turut mendapatkan perhatian karena prospek bisnisnya.

BRIS dan Cerita Bullion Bank

BRIS menjadi salah satu saham perbankan yang dinilai memiliki cerita berbeda. Bank ini diproyeksikan menjadi bullion bank pada 2026. Kinerja bisnis emasnya pun melonjak signifikan, mulai dari emas digital hingga pembiayaan cicilan emas.

Laba bersih BRIS pada 2025 tercatat naik 8% secara tahunan menjadi Rp7,57 triliun. Kontribusi fee based income juga meningkat tajam. Dengan proyeksi pertumbuhan laba 14–16% pada 2026, saham ini dinilai menarik secara fundamental maupun teknikal.

Reformasi Bursa dan Harapan Dana Asing

Dari sisi kebijakan, kabar positif datang dari persetujuan reformasi bursa oleh MSCI dan FTSE Russell. Reformasi mencakup transparansi pemegang saham di atas 1%, aturan free float minimum 15%, hingga penyusunan shareholder concentration list.

Langkah ini dinilai meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global. Jika berjalan lancar, potensi masuknya dana asing pada Mei mendatang bisa semakin besar.

Strategi Investor: Jangan Terlalu Agresif

Dengan IHSG breakout 1,5% namun volume belum optimal, investor disarankan tetap berhati-hati. Untuk jangka menengah, peluang kenaikan masih ada, terutama didorong sentimen dividen dan reformasi pasar. Namun untuk trader harian, risiko koreksi jangka pendek tetap perlu diantisipasi.

Manajemen risiko dan pengaturan porsi dana menjadi kunci. Pasar memang menunjukkan tanda pemulihan, tetapi ketidakpastian global masih membayangi.

 

Editor : Cholifatun Nisak
#saham big bank #dividen BMRI BBRI #Tarif Trump #Saham komoditas #IHSG breakout