RADAR TULUNGAGUNG - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa siang (25/2). Mengutip data RTI, rupiah melemah 0,23 persen ke level Rp16.828 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan rupiah terjadi di tengah rebound indeks dolar AS yang kembali menguat.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah sempat melemah 0,12 persen di level Rp16.805 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS tercatat naik 0,09 persen ke posisi 97,796 setelah sehari sebelumnya sempat terkoreksi.
Baca Juga: IHSG Breakout 1,5% Ditopang Big Bank dan Sentimen Dividen, Tapi Ancaman Profit Taking Mengintai
Tekanan Dolar AS dan Sentimen Tarif Trump
Pergerakan rupiah masih dipengaruhi penguatan dolar AS. Pasar mencermati putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian tarif darurat. Namun di saat bersamaan, muncul ancaman kebijakan tarif lanjutan dari Presiden AS Donald Trump yang memicu kewaspadaan pelaku pasar.
Ketidakpastian kebijakan tersebut menjaga permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi, meskipun pergerakan pasar cenderung fluktuatif.
Hingga jelang penutupan, pelemahan rupiah sempat terpangkas ke Rp16.814 per dolar AS atau minus 0,14 persen. Terhadap mata uang utama lain, rupiah berada di Rp19.844 per euro, Rp22.701 per pound sterling, dan Rp108,47 per yen Jepang.
Di pasar komoditas, harga emas dunia terkoreksi setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan.
Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan harga logam mulia. Pada perdagangan Selasa pagi, harga emas spot melemah 0,13 persen.
Harga batu bara juga melanjutkan tren negatif selama tiga hari beruntun dan berada di kisaran USD119,4 per ton, turun 0,87 persen.
Pelemahan dipicu menurunnya aktivitas pembelian dari China pascaliburan, sementara India hanya melakukan pembelian terbatas untuk kebutuhan jangka pendek.
Adapun harga minyak bergerak tipis di tengah sentimen perundingan nuklir AS–Iran dan ancaman tarif 15 persen dari Presiden Trump. Minyak mentah WTI tercatat di kisaran USD66–67 per barel dengan pergerakan terbatas.
Saham MDKA Menguat, Proyek Tambang Dipercepat
Di tengah dinamika pasar global, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) justru bergerak di zona hijau. Secara intraday, saham MDKA sempat menembus level 3.900 sebelum akhirnya ditutup menguat terbatas di kisaran 3.770 atau naik sekitar 0,80 persen.
Penguatan saham MDKA sejalan dengan keputusan perseroan mempercepat pengembangan tambang emas Pani melalui entitas anak, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Manajemen memutuskan meningkatkan kapasitas fasilitas carbon in leach (CIL) menjadi 12 juta ton bijih per tahun dari sebelumnya 7,5 juta ton.
Dengan percepatan tersebut, produksi ditargetkan mulai berjalan pada 2028, lebih cepat satu tahun dari rencana awal.
Untuk pembangunan fasilitas tersebut, kebutuhan belanja modal (capex) diperkirakan mendekati USD1 miliar dalam dua tahun ke depan. Langkah ini diambil guna memaksimalkan momentum harga emas global yang masih dalam tren positif.
Secara teknikal, dalam enam bulan terakhir saham MDKA menunjukkan tren penguatan signifikan dari level 2.300-an hingga sempat menyentuh 3.900-an.
Namun dari sisi valuasi, sejumlah indikator seperti price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) menunjukkan valuasi yang relatif tinggi.
Pergerakan rupiah melemah, fluktuasi harga komoditas, serta dinamika saham MDKA menjadi perhatian pelaku pasar di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.
Editor : Manda Dwi Agustin