Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Harga Emas Dunia Terkoreksi Usai Sentuh Level Tertinggi 3 Pekan, Rupiah Melemah dan Saham MDKA Melonjak

Ayu Dhea Cheryl • Rabu, 25 Februari 2026 | 11:41 WIB

Harga emas dunia terkoreksi usai menyentuh level tertinggi tiga pekan akibat penguatan dolar AS. Rupiah melemah ke kisaran Rp16.800 per dolar, sementara saham MDKA menguat seiring percepatan proyek
Harga emas dunia terkoreksi usai menyentuh level tertinggi tiga pekan akibat penguatan dolar AS. Rupiah melemah ke kisaran Rp16.800 per dolar, sementara saham MDKA menguat seiring percepatan proyek

Harga emas dunia kembali menjadi sorotan pasar setelah mengalami koreksi pada perdagangan Selasa pagi, usai menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan. Pergerakan harga emas dunia ini terjadi di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ketidakpastian global akibat isu tarif dagang dan ketegangan geopolitik.

Berdasarkan data pasar spot, harga emas dunia tercatat melemah 0,13 persen ke level USD 5.237,89 per troy ons pada Selasa pagi. Padahal sehari sebelumnya, logam mulia ini sempat melonjak 2,5 persen dan menyentuh USD 5.231,2 per troy ons, menjadi level tertinggi dalam tiga pekan terakhir.

Koreksi harga emas dunia terutama dipicu oleh rebound indeks dolar AS yang kembali menguat. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain sehingga menekan permintaan. Meski demikian, sentimen ketidakpastian terkait kebijakan tarif 15 persen Presiden AS Donald Trump dan ketegangan antara Washington dan Iran masih membayangi pergerakan pasar komoditas global.

Baca juga:Batu Bara dan Minyak Ikut Bergerak

Selain harga emas dunia, komoditas lain juga menunjukkan dinamika yang beragam. Harga batu bara melanjutkan tren negatif selama tiga hari berturut-turut. Pada perdagangan Senin waktu setempat, harga batu bara tercatat di USD 119,4 per ton atau turun 0,87 persen.

Tekanan terhadap batu bara dipicu melemahnya aktivitas pembelian dari Tiongkok pascaliburan, yang berdampak pada menurunnya likuiditas pasar spot. India memang masih menjadi pembeli marginal, tetapi pabrik baja di negara tersebut melakukan pembelian secara selektif dan hanya untuk kebutuhan jangka pendek.

Sementara itu, harga minyak dunia bergerak tipis. Mengutip Reuters, minyak Brent turun 0,1 persen ke level USD 71,40 per barel setelah sebelumnya sempat menyentuh USD 72,50, level tertinggi sejak akhir Juli. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,2 persen ke USD 66,20 per barel, meski dalam sesi berbeda sempat menguat 0,56 persen ke USD 66,68 per barel.

Pelaku pasar masih mencermati perkembangan perundingan nuklir AS-Iran serta ancaman tarif dagang lanjutan dari Presiden Trump. Kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan perdagangan membuat volatilitas harga komoditas tetap tinggi.

Baca juga:Rupiah Melemah ke 16.800-an

Tekanan dari penguatan dolar AS turut berdampak pada nilai tukar rupiah. Berdasarkan data RTI, rupiah melemah 0,23 persen ke level Rp16.828 per dolar AS pada perdagangan Selasa siang. Sebelumnya, rupiah dibuka melemah 0,12 persen di kisaran Rp16.850 per dolar AS.

Indeks dolar AS sendiri tercatat menguat 0,09 persen ke posisi 97,796 setelah sempat terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. Pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi sentimen global, termasuk putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian besar tarif darurat, namun di saat bersamaan muncul ancaman kebijakan tarif lanjutan.

Selain terhadap dolar AS, rupiah juga berada di level Rp19.844 per euro, Rp22.701 per poundsterling, dan Rp108,47 per yen Jepang. Ketidakpastian global membuat permintaan terhadap dolar tetap terjaga meski pergerakan berlangsung fluktuatif.

Baca juga:MDKA Percepat Proyek Tambang Emas Pani

Di tengah tren penguatan harga emas dunia sejak tahun lalu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) memutuskan mempercepat pengembangan tambang emas Pani yang berada di bawah naungan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).

Manajemen menyatakan percepatan dilakukan melalui pembangunan fasilitas carbon in leach (CIL) dengan kapasitas penuh 12 juta ton bijih per tahun, meningkat dari rencana awal 7,5 juta ton per tahun. Dengan langkah ini, fasilitas tersebut ditargetkan sudah dapat berproduksi pada 2028, atau satu tahun lebih cepat dari rencana semula.

Untuk pembangunan fasilitas CIL berkapasitas 12 juta ton bijih per tahun, kebutuhan belanja modal diperkirakan mendekati USD 1 miliar dalam dua tahun ke depan. Studi kelayakan sebelumnya menggunakan asumsi harga emas di level USD 2.000 per troy ons, jauh di bawah tren harga emas dunia saat ini.

Secara teknikal, saham MDKA bergerak di zona hijau meski penguatan terbatas. Pada perdagangan intraday, saham ini sempat menembus level 3.900 sebelum akhirnya berada di kisaran 3.770 atau menguat sekitar 0,80 persen. Dalam enam bulan terakhir, saham MDKA menunjukkan tren kenaikan signifikan dibanding posisi Agustus yang masih di kisaran 2.300-an.

Kombinasi sentimen harga emas dunia, strategi ekspansi, serta dinamika pasar global menjadikan pergerakan komoditas dan saham tambang emas tetap menarik dicermati pelaku pasar dalam beberapa waktu ke depan.

Editor : Ayu Dhea Cheryl
#harga minyak dunia #saham mdka #harga emas dunia #nilai tukar rupiah #Harga Batu Bara