RADAR TULUNGAGUNG- IHSG turun 1,37 persen pada perdagangan Selasa (24/2). Pelemahan ini memicu kegalauan investor, terutama yang memegang saham konglomerat atau yang kerap disebut “saham konglo”. Setelah sempat naik beberapa hari sebelumnya, saham-saham tersebut justru berbalik arah dan terkoreksi dengan volume lebih besar.
Penurunan IHSG hari ini dipicu aksi jual di sejumlah saham yang sebelumnya mengalami kenaikan tanpa dukungan volume kuat. Koreksi ini memunculkan kekhawatiran apakah pasar akan kembali tertekan dalam waktu dekat.
Data menunjukkan, investor asing melakukan net buy Rp21 miliar di pasar reguler. Saham-saham yang paling banyak diborong antara lain BMRI Rp577 miliar, TLKM Rp212 miliar, ASII Rp202 miliar, BBRI Rp114 miliar, dan UNTR Rp88 miliar. Terjadi rotasi dana dari saham konglomerat ke saham-saham berfundamental kuat dan berpotensi membagikan dividen besar.
Rotasi Sektoral dan Musim Dividen
Fenomena rotasi sektoral terlihat jelas. Ketika saham konglomerat melemah, saham perbankan dan blue chip justru mendapat aliran dana. Salah satunya adalah Bank Mandiri (BMRI) yang disebut memiliki potensi dividen yield sekitar 9 persen.
Selain BMRI, saham Telkom Indonesia (TLKM) juga mencatatkan pergerakan positif meski volume transaksi belum terlalu besar. Kenaikan TLKM bahkan disebut sebagai breakout dari pola pemulihan teknikal, meski belum didukung lonjakan volume signifikan.
Kondisi ini menegaskan bahwa pasar belum sepenuhnya bullish. Kenaikan sebelumnya pada saham konglomerat dinilai hanya bersifat temporer. Bahkan saat koreksi terjadi, volume penurunan justru lebih besar dibanding volume kenaikan sebelumnya. Ini menjadi sinyal kewaspadaan bagi investor jangka pendek.
Faktor Global: Ketegangan AS-Iran dan Harga Minyak
Selain rotasi sektoral, sentimen global juga memengaruhi pergerakan IHSG. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Presiden Donald Trump dikabarkan mengancam akan menyerang Iran, memicu kekhawatiran pasar energi global.
Harga minyak dunia berpotensi kembali naik jika konflik meningkat. Secara historis, lonjakan harga minyak pernah terjadi saat embargo OPEC 1973, Revolusi Iran 1979, Perang Teluk 1990, hingga konflik Rusia-Ukraina 2022. Bahkan pada 2008, harga minyak sempat menembus USD147 per barel akibat lonjakan permintaan global.
Saat ini, Iran menyumbang sekitar 4 persen suplai minyak global dan sebagian besar ekspornya mengalir ke Tiongkok. Jika distribusi terganggu, harga minyak bisa terdorong naik ke kisaran USD80–85 per barel. Sebaliknya, jika tensi mereda, harga bisa turun ke sekitar USD65 per barel.
Saham Energi Jadi Alternatif
Kenaikan harga minyak membuka peluang di sektor energi. Saham-saham berbasis komoditas seperti batu bara dan migas kembali dilirik. Emiten seperti PTBA disebut memiliki rekam jejak pembagian dividen besar dalam beberapa tahun terakhir.
Namun demikian, investor diingatkan agar tidak mengejar harga saat sudah naik tinggi. Strategi yang disarankan adalah menunggu retracement atau koreksi sehat sebelum masuk. Momentum global memang mendukung, tetapi tetap diperlukan manajemen risiko yang ketat.
Waspada Saham Konglomerat
Untuk saham-saham konglomerat yang sempat melonjak akibat sentimen tertentu, analis menilai pergerakannya masih rentan. Apalagi jika kenaikan sebelumnya tidak disertai volume kuat. Investor yang terlanjur membeli di harga atas disarankan memanfaatkan kenaikan jangka pendek untuk mengurangi posisi, bukan menambah.
Prinsip manajemen risiko menjadi kunci. Position sizing yang tepat akan mencegah tekanan psikologis saat harga bergerak berlawanan arah. Banyak investor dinilai terlalu agresif sehingga stres saat saham terkoreksi.
Kesimpulannya, IHSG turun 1,37 persen bukan semata karena sentimen negatif, tetapi lebih pada rotasi dana dan aksi ambil untung. Pasar saat ini masih dalam fase konsolidasi. Peluang tetap ada, terutama di sektor energi yang mendapat dorongan dari faktor geopolitik dan harga komoditas.
Investor disarankan tidak bersikap serakah dan tetap disiplin pada strategi. Di tengah dinamika global dan domestik, kehati-hatian menjadi kunci untuk menjaga portofolio tetap sehat.
Editor : Cholifatun Nisak