Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IHSG 25 Februari 2026 terkoreksi wajar, asing net buy Rp1,3 T. Simak analisis saham nikel, perbankan, hingga Bakrie.

Cholifatun Nisak • Rabu, 25 Februari 2026 | 16:15 WIB

IHSG 25 Februari 2026 terkoreksi wajar, asing net buy Rp1,3 T. Simak analisis saham nikel, perbankan, hingga Bakrie.
IHSG 25 Februari 2026 terkoreksi wajar, asing net buy Rp1,3 T. Simak analisis saham nikel, perbankan, hingga Bakrie.

RADAR TULUNGAGUNG- Pergerakan IHSG 25 Februari 2026 masih berada dalam fase koreksi wajar di tengah dinamika pasar global. Meski indeks sempat tertekan, aliran dana asing tercatat masih masuk (net buy) sekitar Rp1,3 triliun, terutama ke saham perbankan seperti Bank Mandiri.

Dalam paparan pasar yang disampaikan Mandiri Sekuritas, disebutkan bahwa secara teknikal IHSG masih bergerak dalam trend channel dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah (reversal) selama bertahan di atas level 8.250. Jika level tersebut ditembus ke bawah, barulah ada potensi tekanan lanjutan.

Wall Street Rebound, Sektor Teknologi Menguat

Dari pasar global, bursa Amerika Serikat mengalami rebound tipis setelah penurunan sebelumnya. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat tipis, sementara S&P 500 naik sekitar 0,7 persen dan Nasdaq Composite melesat sekitar 1 persen.

Kenaikan dipimpin saham teknologi dan sektor software, termasuk lonjakan signifikan pada Advanced Micro Devices (AMD). Secara teknikal, indeks-indeks tersebut masih berada di area support krusial. Pelaku pasar diminta mencermati satu pekan ke depan untuk melihat validitas rebound tersebut.

Sementara itu, harga emas dunia sempat terkoreksi tipis namun masih dalam tren naik (uptrend). Harga nikel juga mulai menunjukkan rebound di kisaran USD 17.000 per ton. Sentimen ini berpotensi menggerakkan saham-saham tambang nikel di Bursa Efek Indonesia.

IHSG Masih Konsolidasi, Perbankan Tertekan

IHSG 25 Februari 2026 tercatat mengalami tekanan terutama dari sektor perbankan. Saham-saham big caps seperti Bank Central Asia (BCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) melemah tipis.

Namun menariknya, investor asing justru melakukan akumulasi di Bank Mandiri. Secara teknikal, saham Bank Mandiri disebut tinggal selangkah lagi mengakhiri fase bearish panjangnya apabila mampu menembus resistance terdekat.

Untuk BCA, analis menyarankan wait and see karena belum terlihat inflow signifikan. Sementara Bank Negara Indonesia (BBNI) diperkirakan bergerak dalam trading range 4.400–4.600 dalam jangka pendek.

Saham Nikel dan Emas Masih Menarik

Rebound harga nikel membuka peluang pada saham seperti Aneka Tambang (ANTM) dan Vale Indonesia (INCO). Namun investor diingatkan agar tidak mengejar harga saat breakout belum terkonfirmasi kuat.

Untuk sektor emas, Archi Indonesia (ARCI) dinilai masih positif selama bertahan di atas support MA5. Bahkan terdapat sentimen potensi masuk indeks GDX pada pertengahan Maret yang bisa menjadi katalis tambahan.

Saham tambang lain seperti Merdeka Copper Gold (MDKA) juga masih berpeluang melanjutkan tren, meski dalam jangka pendek ada potensi koreksi sehat.

Grup Bakrie dan Saham Sejuta Umat

Dari saham lapis dua, grup Bakrie kembali mencuri perhatian. Bumi Resources (BUMI) disebut masih bertahan di atas MA20. Jika terjadi koreksi ke area 250–260, pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi buy on weakness.

Selain itu, saham DEWA juga menarik selama bertahan di area support MA20 sekitar 550–560. Namun tetap disarankan disiplin terhadap batas cut loss apabila terjadi breakdown.

Sebaliknya, beberapa saham konstruksi dan semen seperti Semen Indonesia (SMGR) dinilai rawan false breakout. Investor disarankan melakukan profit taking cepat jika terjadi lonjakan singkat.

Waspadai Saham Sideways dan False Signal

Sejumlah saham lain seperti UNTR dan beberapa emiten media terpantau bergerak sideways dengan kecenderungan bearish tipis. Pola satu candle naik lalu diikuti penurunan kembali menjadi sinyal untuk melakukan trading jangka pendek, bukan hold jangka panjang.

Di sektor telekomunikasi, saham seperti Telkom Indonesia, EXCL, dan ISAT masih menunjukkan konsolidasi sehat dan bisa dimanfaatkan untuk buy on weakness di area support.

Secara keseluruhan, IHSG 25 Februari 2026 masih berada dalam fase konsolidasi dengan peluang menguat terbuka selama tidak menembus level support krusial. Strategi yang disarankan adalah selektif, disiplin pada support-resistance, serta memanfaatkan momentum sektor komoditas seperti nikel dan emas.

Investor juga diingatkan untuk tetap memperhatikan manajemen risiko, mengingat pasar global masih fluktuatif dan rawan perubahan sentimen dalam jangka pendek.

 

Editor : Cholifatun Nisak
#ihsg hari ini #saham nikel #bumi #Bank Mandiri #Saham perbankan