Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IHSG Menguat 0,62% ke Level 8.333 Meski Trump Naikkan Tarif Impor 10% dan Rupiah Melemah ke 16.820 per Dolar AS

Ayu Dhea Cheryl • Jumat, 27 Februari 2026 | 11:24 WIB

IHSG menguat 0,62 persen ke level 8.333 meski dibayangi kebijakan tarif impor 10 persen Presiden AS Donald Trump dan pelemahan rupiah ke 16.820 per dolar AS.
IHSG menguat 0,62 persen ke level 8.333 meski dibayangi kebijakan tarif impor 10 persen Presiden AS Donald Trump dan pelemahan rupiah ke 16.820 per dolar AS.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan pagi hari ini. Hingga pukul 10.02 WIB, IHSG menguat 0,62 persen ke level 8.333. Penguatan IHSG terjadi di tengah derasnya sentimen global, mulai dari kebijakan tarif baru Presiden Amerika Serikat hingga memanasnya tensi geopolitik dengan Iran.

Pergerakan IHSG yang masih berada di zona hijau menjadi perhatian pelaku pasar, terutama karena pasar global sedang menghadapi ketidakpastian baru. Selain itu, nilai tukar rupiah justru melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat, menandakan adanya tekanan eksternal yang tetap membayangi.

Data perdagangan menunjukkan hampir seluruh sektor berada di zona hijau dan menopang penguatan IHSG. Namun, investor tetap mencermati perkembangan global yang berpotensi memicu volatilitas lanjutan.

Baca juga:Pidato Donald Trump dan Kebijakan Tarif Baru

Sentimen utama datang dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyampaikan pidato kenegaraan tahunan atau State of the Union pertama pada masa jabatan keduanya. Dalam pidatonya di hadapan Kongres AS, Trump memaparkan arah kebijakan pemerintahan, termasuk strategi ekonomi dan kebijakan luar negeri.

Trump dijadwalkan membahas sejumlah isu penting, mulai dari agenda menuju pemilu paruh waktu, respons terhadap putusan Mahkamah Agung, sikap AS terhadap ketegangan dengan Iran, hingga dinamika Partai Demokrat. Pidato ini dinilai krusial untuk memulihkan momentum politiknya di tengah kritik atas kebijakan ekonomi dan janji kampanye yang belum terealisasi.

Tak hanya itu, kebijakan perdagangan AS kembali menjadi sorotan. Pemerintah AS resmi memberlakukan tarif tambahan sebesar 10 persen untuk seluruh barang impor yang tidak masuk daftar pengecualian. Kebijakan ini mulai berlaku sejak tengah malam waktu setempat.

Tarif baru tersebut menggunakan Section 122 yang memungkinkan presiden menerapkan bea masuk tambahan hingga 150 hari dengan alasan mengatasi defisit eksternal. Kebijakan ini muncul setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif sebelumnya yang menggunakan dasar keadaan darurat.

Langkah ini memunculkan ketidakpastian baru di pasar global. Bahkan, sejumlah pihak di Washington memberi sinyal tarif 15 persen bisa saja diberlakukan dalam waktu dekat.

Baca juga:Risiko Sentimen Risk Off dan Dampaknya ke IHSG

Bagi pasar keuangan Indonesia, kebijakan tarif impor AS berpotensi memicu sentimen risk off. Biasanya, kondisi ini berdampak pada pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta tekanan pada saham berbasis ekspor dan komoditas.

Meski demikian, hingga sesi pagi ini IHSG masih mampu bertahan di zona positif. Secara sektoral, penguatan terjadi merata.

Sektor finansial naik 0,36 persen, konsumer primer 0,11 persen, konsumer nonprimer 0,98 persen, dan perindustrian menguat 1,33 persen. Sektor energi juga menguat 0,77 persen, bahan baku naik 1,32 persen, infrastruktur 0,63 persen, serta properti menguat tipis 0,12 persen.

Sementara itu, sektor teknologi naik 0,24 persen, transportasi 0,14 persen, dan kesehatan mencatat penguatan terbesar sebesar 1,48 persen.

Baca juga:Ketegangan AS-Iran dan Kebijakan Bank Sentral China

Selain isu tarif, pasar juga mencermati ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara dijadwalkan menjalani putaran baru perundingan terkait program nuklir Iran.

Laporan menyebutkan Washington meningkatkan tekanan militer di Timur Tengah, bahkan membuka opsi serangan terbatas. Iran menegaskan setiap bentuk agresi akan dibalas sebagai hak bela diri.

Di sisi lain, Bank Sentral China atau People's Bank of China kembali mempertahankan suku bunga acuan pinjaman. Loan Prime Rate tenor satu tahun ditahan di level 3 persen dan tenor lima tahun di 3,5 persen.

Keputusan ini membuat suku bunga China tidak berubah selama 10 bulan berturut-turut, meskipun pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu melambat. Pada kuartal terakhir tahun lalu, ekonomi China hanya tumbuh 4,5 persen secara tahunan, menjadi laju paling lambat sejak pelonggaran pembatasan COVID-19 pada akhir 2022.

China juga masih bergulat dengan tekanan deflasi, lemahnya sektor properti, dan pasar tenaga kerja yang belum pulih sepenuhnya.

Baca juga:Rupiah Melemah ke Level 16.820 per Dolar AS

Di tengah penguatan IHSG, nilai tukar rupiah justru melemah tipis 0,03 persen ke level 16.820 per dolar AS. Rupiah juga melemah terhadap sejumlah mata uang kawasan seperti dolar Singapura, yen Jepang, dan euro.

Pelemahan rupiah menunjukkan investor tetap berhati-hati terhadap risiko eksternal. Ke depan, arah IHSG dan rupiah akan sangat ditentukan oleh respons pasar terhadap kebijakan tarif AS, perkembangan geopolitik Timur Tengah, serta kondisi ekonomi China.

Untuk sementara, IHSG masih menunjukkan daya tahan, namun volatilitas berpotensi meningkat jika sentimen global kembali memanas.

Editor : Ayu Dhea Cheryl
#Bank Sentral China #ihsg #Tarif impor AS #donald trump #rupiah