Pergerakan IHSG dibuka melemah pada perdagangan akhir pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan tercatat turun 0,3 persen ke level 8.209 pada pembukaan, berbeda dengan optimisme yang sempat terlihat dalam beberapa hari sebelumnya.
Data perdagangan menunjukkan nilai transaksi (trading value) sudah mencapai Rp6,1 triliun pada pagi hari. Pelemahan ini memperpanjang tekanan yang sudah terlihat sejak penutupan Kamis, 26 Februari 2026, ketika IHSG ditutup turun 1,04 persen di posisi 8.235.
Secara teknikal, analis menilai IHSG berpotensi melanjutkan tren bearish jangka pendek. Level support terdekat berada di kisaran 8.200 hingga 8.140. Jika tekanan jual terus berlanjut, area tersebut menjadi penentu arah pergerakan indeks selanjutnya.
Baca juga:Sentimen Fiskal dari S&P Global Ratings
Tekanan terhadap pasar saham domestik tidak lepas dari sentimen eksternal dan fundamental dalam negeri. Salah satu pemicunya adalah peringatan dari S&P Global Ratings terkait peningkatan tekanan fiskal Indonesia.
Lembaga pemeringkat global tersebut mengingatkan adanya kenaikan biaya pembayaran utang pemerintah yang dinilai berisiko terhadap profil kredit Indonesia. Bahkan, terdapat potensi tindakan peringkat negatif apabila tekanan fiskal tidak terkendali.
Analis kredit dari S&P Global Ratings, Rain Yin, menyebut pembayaran bunga utang sangat mungkin telah melampaui ambang batas kunci sebesar 15 persen dari total pendapatan pemerintah pada tahun lalu. Jika rasio tersebut bertahan di atas ambang batas secara berkelanjutan, pandangan negatif terhadap peringkat kredit Indonesia bisa semakin menguat.
Isu ini langsung memicu kehati-hatian pelaku pasar. Meski dalam enam hari sebelumnya investor asing tercatat melakukan net foreign buy secara berturut-turut, sentimen fiskal tersebut menjadi katalis negatif yang cukup signifikan.
Baca juga:Ancaman Degradasi Status oleh MSCI
Tak hanya tekanan dari sisi fiskal, pasar juga masih dibayangi risiko penurunan status pasar modal Indonesia oleh MSCI. Indonesia saat ini berstatus emerging market, namun terdapat potensi peninjauan yang bisa mengarah pada penurunan menjadi frontier market.
Jika skenario tersebut terjadi, dampaknya bisa cukup besar terhadap arus dana asing. Banyak fund manager global memiliki mandat investasi yang mengacu pada klasifikasi MSCI. Perubahan status dapat memicu penyesuaian portofolio secara masif.
Sentimen ini diperkirakan akan terus membayangi perdagangan saham setidaknya hingga Mei mendatang, ketika keputusan final terkait klasifikasi tersebut diumumkan.
Kombinasi tekanan fiskal dan ketidakpastian status pasar membuat pelaku pasar cenderung memilih aksi ambil untung (profit taking), khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya menopang penguatan indeks.
Baca juga:Rupiah Ikut Melemah
Sejalan dengan pelemahan IHSG, nilai tukar rupiah juga mengalami depresiasi. Pada perdagangan pagi, rupiah dibuka di level Rp16.782 per dolar Amerika Serikat atau melemah 0,14 persen.
Di pasar non-deliverable forward (NDF) offshore, rupiah berada di kisaran Rp16.781 per dolar AS, turun tipis 0,09 persen dibanding penutupan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi seiring penguatan indeks dolar AS sebesar 0,09 persen ke level 97,79.
Penguatan dolar AS dipicu oleh data klaim tunjangan pengangguran Amerika Serikat yang tercatat lebih baik dari perkiraan. Meski penguatannya relatif tipis, sentimen global tersebut tetap memberi tekanan tambahan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Depresiasi rupiah dan pelemahan IHSG mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko global dan domestik. Dalam kondisi seperti ini, volatilitas pasar berpotensi tetap tinggi.
Baca juga:Waspadai Level Support
Secara teknikal, pelaku pasar kini mencermati apakah IHSG mampu bertahan di atas level psikologis 8.200. Jika area support tersebut ditembus, potensi pelemahan lanjutan menuju 8.140 semakin terbuka.
Namun, jika indeks mampu bertahan dan terjadi pembalikan arah (rebound), peluang konsolidasi tetap ada, terutama bila sentimen eksternal mereda dan arus dana asing kembali masuk.
Untuk sementara, kombinasi sentimen fiskal dari S&P Global Ratings, ancaman degradasi oleh MSCI, serta penguatan dolar AS menjadi faktor dominan yang membentuk arah pergerakan pasar.
Investor disarankan mencermati perkembangan global dan domestik secara cermat, terutama terkait kebijakan fiskal pemerintah dan keputusan MSCI dalam beberapa bulan ke depan.
Editor : Ayu Dhea Cheryl