RADAR TULUNGAGUNG- IHSG terancam anjlok hingga 5 persen pada awal pekan ini setelah Iran dilaporkan menyerang balik pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Situasi ini memperbesar eskalasi konflik dan memicu kekhawatiran pasar global, termasuk pasar modal Indonesia.
Dalam analisis terbaru yang beredar di kalangan investor ritel, IHSG diperkirakan akan merespons negatif kabar tersebut. Aksi panic selling disebut berpotensi terjadi pada perdagangan Senin, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Jika skenario terburuk terjadi, IHSG bisa terkoreksi dalam hingga kisaran 3–5 persen dalam sehari. Tekanan jual diprediksi merata di hampir seluruh sektor, terutama saham perbankan dan big caps yang selama ini menjadi penopang indeks.
Konflik Iran-AS Picu Tekanan Pasar Global
Serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan seperti Dubai dan Arab Saudi menandai eskalasi konflik terbuka. Jika sebelumnya serangan bersifat sepihak, kini situasinya dinilai sudah masuk fase perang terbuka.
Kondisi ini di luar kendali investor ritel. Peristiwa geopolitik seperti perang memang kerap memicu gejolak tajam di pasar saham. Investor cenderung mengamankan dana dengan melepas saham berisiko, memicu tekanan jual besar-besaran.
Dalam sejarahnya, pasar saham memang sering bereaksi berlebihan saat terjadi konflik global. Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, indeks biasanya kembali pulih setelah situasi mereda.
Panic Selling dan Strategi Hadapi Market Crash
Menghadapi potensi IHSG anjlok, investor ritel diimbau tetap tenang. Bagi yang sudah memegang saham dengan fundamental kuat, strategi hold masih relevan, terutama jika emiten memiliki kinerja solid dan rutin membagikan dividen.
Sebaliknya, bagi investor yang masih memiliki dana tunai (cash), kondisi market crash justru bisa menjadi peluang emas. Strategi buy on red atau membeli saat harga terkoreksi dalam dinilai lebih optimal ketimbang panik menjual.
Fokus utama saat market crash adalah memilih saham dengan fundamental kuat dan prospek pembagian dividen besar dalam waktu dekat. Momentum pembagian dividen sering menjadi katalis positif yang mendorong harga saham kembali naik setelah tekanan mereda.
Rekomendasi Saham Dividen Besar April 2026
Sejumlah saham perbankan disebut berpotensi menarik saat IHSG anjlok. Salah satunya adalah Bank Rakyat Indonesia dengan kode saham BBRI.
BBRI diperkirakan membagikan dividen sekitar Rp200 per saham atau setara yield kurang lebih 5 persen pada harga saat ini. Dalam kejadian sebelumnya saat market crash akibat isu MSCI, BBRI sempat turun hingga ke level 3.300 sebelum akhirnya rebound cepat.
Untuk skenario kali ini, jika BBRI terkoreksi ke kisaran 3.600-an, level tersebut dinilai cukup menarik untuk mulai cicil beli. Dengan asumsi dividen cair pada April, potensi rebound dalam beberapa pekan setelahnya terbuka lebar.
Saham berikutnya adalah Bank Mandiri atau BMRI. Emiten ini diperkirakan membagikan dividen sekitar Rp360 per saham, dengan estimasi yield mendekati 7 persen.
Secara teknikal, BMRI diprediksi tidak akan terkoreksi sedalam fase crash sebelumnya di level 4.070, mengingat laba perusahaan yang terus meningkat. Jika harga turun mendekati area support sekitar 7 persen dari posisi terakhir, level tersebut bisa menjadi area akumulasi bertahap.
Selanjutnya, ada Bank Negara Indonesia atau BBNI. Pada momen crash sebelumnya, saham ini sempat turun hingga mendekati 4.000 sebelum akhirnya pulih. Dengan pola serupa, koreksi tajam bisa dimanfaatkan untuk masuk di harga diskon menjelang musim dividen.
Tetap Rasional di Tengah Gejolak
Dalam situasi seperti ini, kunci utama adalah manajemen risiko dan kesiapan mental. Pasar saham memang sensitif terhadap sentimen global, tetapi investor yang disiplin dan fokus pada fundamental biasanya mampu bertahan.
IHSG anjlok memang menimbulkan kekhawatiran jangka pendek. Namun, sejarah menunjukkan bahwa setelah fase kepanikan, pasar cenderung menemukan titik keseimbangan baru.
Bagi investor dengan cash yang cukup, koreksi dalam bisa menjadi momentum membangun portofolio saham dividen dengan harga lebih murah. Sebaliknya, bagi yang sudah full posisi, penting untuk tidak mengambil keputusan emosional tanpa perhitungan matang.
Gejolak akibat konflik Iran-AS kemungkinan masih akan membayangi pasar dalam beberapa hari ke depan. Namun, bagi investor yang jeli membaca peluang, market crash bukan sekadar ancaman, melainkan juga kesempatan.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun 16 Februari 2026, TASPEN Kediri Tegaskan Belum Ada Keputusan Kenaikan Pensiun
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani