RADAR TULUNGAGUNG- Prediksi IHSG 2–6 Maret 2026 menjadi sorotan pelaku pasar setelah indeks berhasil rebound dari area demand penting di pekan terakhir Februari. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan dinilai masih memiliki peluang melanjutkan penguatan, asalkan mampu bertahan di atas zona support krusial.
Dalam analisa terbaru untuk periode 2 sampai 6 Maret 2026, IHSG disebut berpotensi kembali menguji area resistance 8.392. Selain membahas arah indeks, analis juga menyoroti tiga saham yang dinilai menarik dan berpotensi naik seiring momentum teknikal yang mulai terbentuk.
IHSG Rebound dari Area Demand 8.100–8.180
Secara teknikal, IHSG sempat menyentuh resistance di level 8.392 sebelum mengalami koreksi. Namun tekanan jual tersebut tertahan di area demand 8.100–8.180.
Zona tersebut dinilai kuat karena sebelumnya menjadi neckline dari pola double bottom. Setelah menyentuh area itu, IHSG berhasil memantul dan ditutup menguat di akhir pekan.
Jika IHSG mampu bertahan di atas 8.100, peluang menuju resistance 8.392 kembali terbuka. Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati tekanan jual yang sempat muncul dengan nilai cukup besar di akhir pekan.
Dari sisi sektoral, saham perbankan besar seperti Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia disebut menjadi motor penggerak utama aliran dana masuk. Kedua saham big bank tersebut masih dinilai menarik untuk strategi cicil beli selama tren jangka menengah tetap terjaga.
ERAA Masih Jadi Favorit, Target 474
Saham pertama yang dinilai menarik adalah Erajaya Swasembada (ERAA). Secara tren, ERAA dinilai sedang dalam fase transisi dari downtrend ke uptrend.
Setelah menyentuh area demand 420–430, saham ini membentuk candle bullish signifikan. Tekanan jual dari investor ritel juga dinilai telah terserap oleh broker besar, yang mengindikasikan potensi akumulasi.
Untuk pekan 2–6 Maret 2026, area beli berada di kisaran 430–440 dengan target pertama di 460 dan target lanjutan di 474. Sementara itu, batas cut loss disarankan di bawah 412.
Selama tidak menembus area demand, ERAA dinilai masih berpeluang melanjutkan kenaikan. Namun investor tetap perlu disiplin pada manajemen risiko mengingat posisi harga sudah mulai mendekati resistance.
TAPG Breakout Konsolidasi 3 Bulan
Saham kedua yang menarik perhatian adalah Triputra Agro Persada (TAPG). Secara teknikal, TAPG baru saja breakout dari fase konsolidasi panjang yang berlangsung hampir tiga bulan.
Breakout tersebut diperkuat oleh lonjakan volume transaksi yang signifikan. Dari sisi tren besar, TAPG masih berada dalam uptrend, sementara koreksi sebelumnya hanya menjadi secondary trend.
Area beli dinilai berada di kisaran 1.555–1.620 dengan target pertama 1.705 dan target lanjutan 1.755. Stop loss berada di 1.475.
Strategi yang disarankan adalah buy on weakness apabila terjadi koreksi ringan pasca-breakout. Selama tidak kembali masuk ke area konsolidasi sebelumnya, peluang kenaikan masih terbuka.
ASA High Risk, Manfaatkan Double Bottom
Saham ketiga adalah Surya Semesta Internusa (ASA). Saham ini tergolong high risk karena area stop loss relatif dekat.
Secara teknikal, ASA sedang bergerak sideways di rentang 1.115–1.250. Namun terdapat indikasi pola double bottom yang terbentuk di area demand.
Jika pola tersebut terkonfirmasi, ASA berpotensi rebound menuju resistance 1.250 hingga 1.315. Area beli berada di 1.140–1.185 dengan cut loss di bawah 1.080.
Dari sisi risk reward ratio, potensi keuntungan pertama sekitar 7 persen, sementara target kedua bisa mencapai hampir 13 persen. Meski menarik, saham ini tetap memerlukan disiplin ketat dalam pengelolaan risiko.
Kesimpulan Prediksi IHSG 2–6 Maret 2026
Secara keseluruhan, prediksi IHSG 2–6 Maret 2026 masih cenderung positif selama indeks bertahan di atas 8.100. Peluang rebound ke 8.392 tetap terbuka, terutama jika didukung akumulasi pada saham-saham big bank.
Tiga saham yang dinilai potensial pekan ini adalah ERAA, TAPG, dan ASA dengan karakter risiko berbeda.
Investor disarankan tetap menyesuaikan strategi dengan profil risiko masing-masing dan disiplin terhadap batas cut loss.
Baca Juga: PAD Tulungagung 2025 Tembus Rp 902 Miliar, Naik 27,12 Persen dari Tahun Sebelumnya
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani