RADAR TULUNGAGUNG- Isu perang Iran Israel kembali memanas setelah beredar kabar Iran menutup Selat Hormus menyusul tewasnya pemimpin tertinggi mereka. Ketegangan geopolitik ini langsung memicu kekhawatiran pasar global, termasuk potensi gangguan distribusi minyak dunia.
Dalam perkembangan terbaru perang Iran Israel, lalu lintas kapal di Selat Hormus dilaporkan melambat. Sejumlah vessel atau kapal tanker minyak terlihat menahan diri dan antre di luar kawasan selat. Kondisi ini mempertegas betapa strategisnya jalur tersebut bagi perekonomian global.
Perang Iran Israel dan potensi penutupan Selat Hormus menjadi sentimen kuat yang bisa menggerakkan harga komoditas, terutama minyak dan emas. Dampaknya pun berpotensi terasa pada pergerakan saham-saham sektor energi dan tambang di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Selat Hormus Jalur Vital Minyak Dunia
Secara geografis, Selat Hormus berada di antara Iran dan negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, serta Arab Saudi. Jalur ini menjadi penghubung utama distribusi minyak dari Timur Tengah ke berbagai negara.
Diperkirakan sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormus. Artinya, jika terjadi gangguan akibat perang Iran Israel, harga minyak mentah global berpotensi melonjak tajam.
Berdasarkan pantauan lalu lintas kapal secara real time, aktivitas di kawasan tersebut terlihat lebih sepi dari biasanya. Beberapa kapal memilih menunggu di luar perairan selat, baik yang hendak masuk maupun keluar. Pasar pun mulai mengantisipasi risiko eskalasi konflik yang lebih luas.
Saham yang Terdampak: Emas dan Minyak Jadi Sorotan
Kondisi geopolitik yang memanas biasanya mendorong investor mencari aset safe haven seperti emas. Di pasar saham Indonesia, emiten yang berkaitan dengan emas dan minyak berpotensi mengalami volatilitas tinggi.
Beberapa saham yang masuk radar antara lain:
-
CTBN – emiten manufaktur pipa industri perminyakan
-
AKRA – distributor dan perdagangan bahan bakar minyak
-
ANTM – produsen emas
-
UNTR – memiliki lini bisnis tambang, termasuk emas
-
MEDC – emiten minyak dan gas
Baca Juga: Prevalensi Stunting Tulungagung Awal 2026 Turun Jadi 5,12 Persen, Dinkes Perkuat Intervensi dari Remaja hingga Ibu Hamil
Dari sisi pergerakan harga, saham AKRA sempat naik sekitar 3,7 persen dan masih bergerak sideways. Sementara ANTM mengalami fluktuasi dengan pola naik-turun yang menunjukkan potensi uji level resistance di kisaran 4.760 dalam waktu dekat.
UNTR sebelumnya terkoreksi dua kali, sementara MEDC menawarkan potensi dividen sekitar 3 persen pada harga saat ini.
Faktor Dividen Jadi Pertimbangan Investor
Di tengah volatilitas akibat perang Iran Israel, investor juga mulai mempertimbangkan faktor dividen sebagai bantalan risiko. Emiten dengan histori pembagian dividen konsisten cenderung lebih dilirik saat pasar tidak menentu.
CTBN tercatat memiliki potensi dividen relatif tinggi dibanding beberapa emiten lain dalam daftar tersebut. Meski demikian, karena bisnisnya berupa manufaktur pipa, dampak konflik Timur Tengah dinilai tidak langsung terhadap kinerja perusahaan.
ANTM dan AKRA juga memiliki rekam jejak pembagian dividen yang cukup konsisten. Bagi investor jangka pendek, momentum pembagian dividen bisa menjadi “uang tunggu” sembari menanti potensi kenaikan harga saham akibat sentimen komoditas.
Namun, likuiditas juga perlu diperhatikan. Saham seperti CTBN memiliki nilai transaksi harian yang relatif tipis, sehingga risiko volatilitas dan pergerakan tajam tetap harus diantisipasi.
Potensi Volatilitas Awal Pekan
Memasuki perdagangan awal pekan, sektor tambang emas dan minyak diperkirakan menjadi pusat perhatian pelaku pasar. Jika konflik perang Iran Israel terus berkembang dan benar terjadi gangguan signifikan di Selat Hormus, harga minyak dan emas global berpeluang melonjak.
Lonjakan harga komoditas tersebut biasanya akan tercermin pada saham-saham terkait di BEI. Namun demikian, investor tetap disarankan mencermati laporan keuangan terbaru serta fundamental masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan.
Ketidakpastian geopolitik memang kerap memicu reaksi cepat di pasar saham. Tetapi dalam jangka menengah hingga panjang, faktor fundamental dan kinerja perusahaan tetap menjadi penentu utama.
Dengan situasi yang masih dinamis, investor perlu bersikap selektif dan tidak semata-mata terbawa sentimen sesaat. Perkembangan perang Iran Israel dan kondisi Selat Hormus akan menjadi faktor penting yang terus dipantau pasar dalam beberapa hari ke depan.
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani