Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Strategi Averaging Down yang Benar Saat IHSG 8.000-an, Investor Ini Bongkar Kesalahan Fatal di Saham BBRI

Ayu Dhea Cheryl • Senin, 2 Maret 2026 | 11:51 WIB

Strategi averaging down perlu disertai evaluasi fundamental dan pengaturan alokasi portofolio agar tidak terjebak konsentrasi di saham seperti BBRI saat IHSG berfluktuasi.
Strategi averaging down perlu disertai evaluasi fundamental dan pengaturan alokasi portofolio agar tidak terjebak konsentrasi di saham seperti BBRI saat IHSG berfluktuasi.

Strategi averaging down kembali jadi perbincangan di tengah kondisi IHSG yang masih fluktuatif di level 8.000-an. Meski secara indeks terlihat pulih dibanding tahun lalu di kisaran 5.000, tak sedikit investor mengaku portofolionya masih “nyangkut”, termasuk di saham-saham big cap seperti BBRI.

Dalam sebuah ulasan di kanal YouTube The Investor, Ros Perwita membagikan strategi averaging down yang benar menurut perspektif investor jangka panjang. Ia menekankan bahwa banyak investor keliru menerapkan strategi ini, terutama saat menghadapi penurunan harga saham yang dianggap sebagai peluang diskon.

Menurutnya, kesalahan paling umum dalam strategi averaging down adalah membeli terus-menerus tanpa evaluasi fundamental dan tanpa memperhatikan alokasi portofolio.

Baca juga:Kesalahan Averaging Down di Saham BBRI

Ros mencontohkan kasus di saham BBRI. Pada 2024, saham ini sempat menyentuh level 6.400 sebelum terkoreksi ke 5.800 dan terus turun hingga 4.800, 4.400, bahkan menembus 3.600 pada 2025.

Banyak investor menganggap penurunan tersebut sebagai peluang emas. Mereka membeli di 5.300, lalu tambah muatan di 4.800, 4.400, hingga terus menambah posisi saat harga turun lagi. Tanpa disadari, porsi BBRI dalam portofolio membengkak hingga 70–80 persen.

“Ini yang membuat kinerja portofolio secara keseluruhan tidak naik selama dua tahun terakhir,” jelasnya.

Masalahnya bukan pada membeli BBRI. Sebagai bank besar dengan fundamental kuat, saham ini tetap menarik dalam jangka panjang. Namun, strategi averaging down yang dilakukan tanpa evaluasi kinerja terbaru justru membuat risiko terkonsentrasi di satu saham.

Ketika alokasi terlalu besar di saham yang sedang tertekan, kenaikan saham lain dalam portofolio tidak mampu menutup stagnasi tersebut.

Baca juga:Dua Syarat Wajib Averaging Down

Ros menegaskan ada dua syarat utama sebelum melakukan averaging down.

1. Review Fundamental dan Prospek Emiten

Investor wajib mengecek ulang laporan keuangan terbaru. Apakah laba masih tumbuh? Bagaimana prospek tahun berikutnya?

Ia mencontohkan pengalaman pribadinya membeli satu saham pada April 2025 ketika harganya turun 50 persen dari 1.200 ke 600. Secara teori, jika kembali ke puncak, ada potensi kenaikan 100 persen.

Namun, saat harga sempat turun lagi hingga minus 20 persen, ia tidak langsung averaging down. Ia menunggu rilis laporan keuangan berikutnya.

Hasilnya? Pendapatan kuartal I tumbuh 17 persen, laba bersih naik 21 persen. Meski harga saham anjlok, kinerja tetap bertumbuh. Ia menyebut kondisi ini sebagai “anomali pasar” yang bisa dimanfaatkan investor jangka panjang.

Barulah setelah laporan berikutnya menunjukkan pertumbuhan berlanjut, ia melakukan averaging down di kisaran 560–570.

2. Jaga Alokasi Portofolio

Syarat kedua adalah disiplin menjaga porsi maksimal saham dalam portofolio.

Jika target alokasi satu saham maksimal 25 persen, maka pembelian awal bisa 10–15 persen. Ketika tambah muatan hingga 20 persen, investor harus siap berhenti meski harga turun lagi.

“Kalau sudah 20 persen, saya pilih hold. Tidak tambah muatan lagi meskipun harga turun, selama fundamentalnya masih oke,” ujarnya.

Pendekatan ini membuat risiko tetap terkontrol dan memberi ruang bagi saham lain untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan portofolio.

Baca juga:Hasil Jangka Panjang

Dengan strategi tersebut, Ros mengklaim portofolionya tumbuh hingga 241 persen dalam jangka panjang. Ia menegaskan, angka tersebut bukan hasil trading jangka pendek, melainkan konsistensi investasi selama bertahun-tahun.

Kuncinya adalah disiplin pada data kinerja, bukan sekadar tergoda harga murah. Averaging down bukan berarti membeli setiap kali harga turun, tetapi membeli ketika fundamental masih mendukung dan alokasi masih sehat.

Di tengah dinamika IHSG yang belum sepenuhnya stabil, strategi averaging down yang benar bisa menjadi alat efektif bagi investor jangka panjang. Namun tanpa analisis dan manajemen risiko, strategi ini justru bisa menjebak portofolio dalam stagnasi berkepanjangan.

Bagi investor, pelajaran terpenting adalah sederhana: harga boleh turun, tetapi keputusan harus tetap rasional.

Editor : Ayu Dhea Cheryl
#ihsg #averaging down #saham BBRI #investasi jangka panjang #strategi investasi