RADAR TULUNGAGUNG - Optimisme IHSG tembus 9.000 kembali menguat di awal 2026. Sejumlah analis menilai Indeks Harga Saham Gabungan masih memiliki ruang besar untuk melanjutkan penguatan setelah berhasil keluar dari tekanan berat sepanjang 2025.
Fundamental ekonomi yang solid, perbaikan struktur pasar modal, serta dominasi investor domestik menjadi faktor utama yang menopang peluang IHSG tembus 9.000 dalam waktu ke depan.
Analis pasar modal Navan menyebut pergerakan IHSG saat ini lebih banyak ditopang faktor fundamental dibandingkan sentimen jangka pendek.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 relatif terjaga di kisaran 5 persen, bahkan diproyeksikan mencapai sekitar 5,11 persen. Stabilitas ini menjadi landasan kuat bagi pasar saham untuk melanjutkan tren positif.
Dari sisi mikro, kinerja emiten juga menunjukkan perbaikan signifikan. Laporan keuangan perusahaan mencatat pertumbuhan laba bersih rata-rata 8–12 persen.
Capaian tersebut mendorong kepercayaan investor domestik dan memperkuat aliran dana ke pasar saham, sehingga menopang peluang IHSG tembus 9.000.
Tekanan MSCI dan Titik Balik Pasar
IHSG sempat mengalami tekanan besar akibat dinamika indeks global dari MSCI. Pembekuan sementara yang terjadi memicu dua kali trading halt dan mendorong arus keluar dana asing secara signifikan. Secara year to date, capital outflow tercatat menembus Rp 20 triliun.
Meski demikian, tekanan tersebut justru menjadi titik balik pasar. Saat IHSG tertekan hingga kisaran 7.400, investor domestik mulai agresif menerapkan strategi buy on dip.
Langkah ini diperkuat oleh intervensi pemerintah serta upaya reformasi pasar modal yang meningkatkan kepercayaan pelaku pasar.
Seiring membaiknya sentimen, IHSG berbalik menguat tajam dan kini bergerak stabil di atas level 8.200. Bahkan, pada akhir Februari indeks sempat mendekati 8.400.
Kenaikan lebih dari 1.000 poin dari titik terendah menjadi sinyal kuat kembalinya optimisme pasar.
Reformasi pasar modal yang mencakup peningkatan transparansi, likuiditas, dan tata kelola perusahaan turut menjadi katalis positif.
Dorongan agar free float saham meningkat hingga minimal 15 persen dinilai mampu memperkuat daya saing pasar Indonesia, baik di mata investor domestik maupun global.
Tren Bullish dan Target 9.000
Secara teknikal, IHSG dinilai masih berada dalam fase secular uptrend. Selama indeks mampu bertahan jauh di atas level psikologis 7.400, struktur penguatan jangka menengah tetap terjaga.
Analis menilai IHSG saat ini berada dalam fase minor impulsive wave yang membuka peluang kenaikan lanjutan.
Dalam jangka pendek, area resistance berada di kisaran 8.525–8.575. Jika level ini berhasil ditembus secara konsisten, target selanjutnya berada di kisaran 8.980 atau mendekati level psikologis 9.000.
Kondisi tersebut semakin memperkuat keyakinan bahwa IHSG tembus 9.000 bukan lagi sekadar target optimistis.
Faktor musiman juga menjadi pendukung. Momentum Imlek, Ramadan, hingga Lebaran secara historis kerap mendorong peningkatan konsumsi domestik.
Selain itu, periode tersebut sering diiringi meningkatnya aktivitas investasi investor ritel di pasar saham.
Berdasarkan catatan historis 25 tahun terakhir, kinerja IHSG pada kuartal pertama dan kedua cenderung positif. Pola ini menambah kepercayaan pasar terhadap prospek penguatan indeks sepanjang semester pertama 2026.
Dengan kombinasi fundamental ekonomi yang stabil, perbaikan struktur pasar modal, dominasi investor domestik, serta sentimen musiman yang mendukung, peluang IHSG tembus 9.000 dinilai semakin terbuka.
Meski demikian, investor tetap diimbau mencermati dinamika global dan menerapkan strategi investasi yang terukur di tengah potensi volatilitas.
Editor : Manda Dwi Agustin