Tiga saham potensi cuan 2026 mulai ramai dibahas investor jelang rilis laporan keuangan full year 2025. Meski laporan resmi belum keluar, sejumlah indikator kinerja bisnis dinilai sudah memberi sinyal kuat terhadap peluang pertumbuhan laba tahun depan.
Dalam sebuah diskusi pasar modal, dua analis mengerucutkan tiga saham potensi cuan 2026 yang dinilai punya katalis nyata, bukan sekadar narasi. Ketiganya berasal dari sektor rokok, tambang batu bara terintegrasi aluminium, serta sektor oil dan gas.
Sebagai investor jangka panjang, pendekatan yang digunakan bukan sekadar melihat pergerakan harga saham, melainkan menilai fundamental bisnis dan valuasi. Jika kinerja tumbuh dan valuasi masih murah, harga saham diyakini akan mengikuti dalam jangka panjang.
Baca juga:Wismilak Diuntungkan Cukai Tak Naik
Saham pertama yang disorot adalah PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIM) dari sektor rokok. Emiten ini dinilai memiliki potensi pertumbuhan kinerja signifikan pada 2026.
Ada dua faktor utama. Pertama, peningkatan kapasitas produksi SKT (Sigaret Kretek Tangan). Perusahaan disebut mulai menaikkan batas produksi (cap) yang berpotensi mendongkrak volume penjualan.
Dalam bisnis rokok, rumusnya sederhana: harga jual dikali volume. Jika volume naik dan harga tidak turun, maka omzet ikut terdongkrak. Apalagi jika biaya produksi tidak naik signifikan.
Katalis kedua adalah kebijakan cukai. Tahun 2026 disebut tidak ada kenaikan cukai rokok. Padahal, komponen cukai mendominasi struktur biaya pokok penjualan (COGS) emiten rokok.
Artinya, ketika cukai tidak naik, ruang margin bisa melebar cukup besar. Inilah yang membuat Wismilak dinilai berpeluang mencatatkan pertumbuhan laba lebih solid dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Secara historis, saham WIM juga dikenal volatil. Pernah bergerak dari level Rp 500 ke Rp 3.000, lalu terkoreksi dan kembali naik. Namun, fokus investor kali ini bukan pada fluktuasi harga, melainkan potensi pertumbuhan kinerja 2026.
Baca juga:ADRO dan Smelter Aluminium Jadi Game Changer
Saham kedua yang masuk radar adalah PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), yang sebelumnya dikenal luas sebagai perusahaan tambang batu bara besar di Indonesia.
Perusahaan ini telah melakukan spin-off batu bara termal pada 2024–2025. Kini, struktur bisnisnya berubah. Selain batu bara kokas, ada proyek strategis baru: smelter aluminium.
Smelter aluminium ini disebut mulai beroperasi pada 2026. Berbeda dengan sekadar sentimen atau wacana, proyek ini dinilai benar-benar akan berdampak langsung pada penambahan pendapatan dan laba perusahaan.
Produksi aluminium dilakukan dalam beberapa fase. Saat ini baru fase pertama. Jika ekspansi berlanjut hingga fase berikutnya, kontribusi terhadap kinerja keuangan bisa semakin signifikan.
Di sisi lain, harga batu bara kokas yang menguat juga berpotensi menambah margin. Kombinasi kenaikan harga komoditas dan tambahan lini bisnis aluminium membuat ADRO dinilai punya fondasi pertumbuhan baru yang lebih terdiversifikasi.
Tambahan potensi juga datang dari pembagian dividen anak usaha sebelumnya yang bisa tercatat sebagai pendapatan. Meski bersifat one-off, hal itu tetap memberi bantalan laba jangka pendek.
Baca juga:Sektor Oil Ikut Kecipratan Kenaikan Produksi Migas
Selain dua emiten tersebut, sektor oil dan gas juga masuk dalam daftar tiga saham potensi cuan 2026.
Pemerintah disebut berupaya meningkatkan produksi minyak dan gas nasional setelah tren penurunan beberapa tahun terakhir. Jika produksi benar-benar digenjot, maka bukan hanya perusahaan pengeboran yang diuntungkan.
Efeknya bisa menjalar ke perusahaan pendukung (supporting) seperti jasa logistik, kapal, penyedia alat pengeboran, hingga perusahaan rekayasa dan konstruksi energi.
Konsepnya mirip “jual sekop saat demam emas”. Ketika industri ramai, pemain pendukung sering kali ikut menikmati lonjakan permintaan.
Namun, investor diingatkan untuk tidak sekadar mengikuti narasi. Peningkatan produksi harus benar-benar tercermin dalam kontrak, pendapatan, dan pertumbuhan laba perusahaan agar layak dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang.
Baca juga:Fokus pada Kinerja dan Valuasi
Meski ketiga sektor terlihat menjanjikan, investor tetap diminta melakukan riset mandiri. Kinerja bagus saja tidak cukup jika valuasi sudah terlalu mahal.
Sebaliknya, kombinasi pertumbuhan laba 2026 dan valuasi yang masih masuk akal menjadi kunci dalam mencari saham potensi cuan 2026.
Dengan laporan keuangan 2025 segera dirilis, investor kini menunggu konfirmasi apakah sinyal-sinyal awal tersebut benar-benar terealisasi dalam angka.
Editor : Ayu Dhea Cheryl