RADAR TULUNGAGUNG - Pergerakan IHSG hari ini kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah indeks sempat melanjutkan tren positif, namun berbalik terkoreksi pada perdagangan Selasa (24/2/2026).
Setelah ditutup menguat lebih dari 1 persen pada awal pekan, IHSG hari ini dibuka di zona hijau, tetapi kemudian bergerak melemah seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap sejumlah sentimen global dan domestik.
Pantauan di lantai Bursa Efek Indonesia menunjukkan, pada pukul 09.52 WIB IHSG berada di level 8.370 atau turun 0,31 persen setara 25 poin.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp6,6 triliun, mencerminkan aktivitas pasar yang masih cukup ramai meski indeks bergerak terbatas. Koreksi ini dinilai wajar setelah reli kuat yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.
Baca Juga: Perang Iran Israel Memanas, Selat Hormus Ditutup? Saham Emas dan Minyak Berpotensi Meledak Senin Ini
Meski melemah di sesi pagi, analis menilai arah IHSG hari ini secara keseluruhan masih berpotensi melanjutkan tren penguatan.
VP of Equity Retail Kum Securitas, Octavianus Audi, memperkirakan indeks masih memiliki ruang untuk bergerak positif sepanjang hari, didukung oleh aliran dana asing yang kembali masuk ke pasar saham domestik.
Capital Inflow Asing Jadi Penopang IHSG
Salah satu faktor utama yang menopang pergerakan IHSG adalah masuknya modal asing (capital inflow) yang mencapai Rp1,14 triliun di seluruh perdagangan.
Dana tersebut terutama mengalir ke saham-saham berkapitalisasi besar, sehingga membantu menahan tekanan koreksi yang terjadi di awal sesi.
Namun, pasar tetap dihadapkan pada ketidakpastian global. Kenaikan tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat, serta kekhawatiran kebijakan tarif Amerika Serikat yang dipatok hingga 15 persen tanpa persetujuan Kongres, mendorong investor global bersikap lebih berhati-hati.
Kondisi ini memicu pergeseran aset ke instrumen safe haven dan berdampak pada volatilitas pasar saham.
Di sisi lain, sentimen global tersebut justru membuka peluang bagi sektor tertentu di dalam negeri.
Audi menilai saham-saham berbasis tambang dan komoditas berpotensi diuntungkan dari kondisi risk-off global, sehingga mampu memberikan dukungan tambahan bagi IHSG dalam jangka pendek.
Rupiah, MSCI, dan Reformasi Pasar Modal
Dari sisi makro, pergerakan nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian investor. Setelah menguat 0,51 persen ke level 16.802 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, rupiah terpantau terkoreksi tipis ke 16.820 per dolar AS atau melemah 0,11 persen pada perdagangan pagi ini. Meski demikian, tren rupiah dinilai masih relatif stabil.
Penguatan rupiah sebelumnya dipicu oleh sejumlah sentimen eksternal, termasuk data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang di bawah ekspektasi.
Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal IV tercatat hanya tumbuh 1,4 persen, sehingga menekan dolar AS dan memberi ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat.
Selain itu, putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan kebijakan tarif resiprokal Presiden Donald Trump juga dipandang sebagai sentimen positif bagi pasar keuangan global. Keputusan tersebut dinilai meredakan tekanan perang dagang dan mendukung stabilitas nilai tukar regional.
Dari dalam negeri, pasar juga mencermati langkah reformasi pasar modal yang dilakukan regulator.
Otoritas Jasa Keuangan bersama SRO terus mendorong pendalaman pasar, termasuk rencana peningkatan batas free float saham dari 7,5 persen menjadi 15 persen.
Upaya ini mendapat respons positif dari Morgan Stanley Capital International, meski implementasi nyata tetap menjadi perhatian utama.
Analis menilai, kombinasi arus dana asing, stabilitas rupiah, serta reformasi struktural pasar modal menjadi faktor penting yang akan menentukan arah IHSG hari ini dan dalam beberapa waktu ke depan.
Meski volatilitas masih membayangi, peluang penguatan dinilai tetap terbuka selama sentimen positif mampu dijaga.
Editor : Manda Dwi Agustin