Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Harga Emas Dunia Melonjak Tajam, Tembus USD 5.200! Sinyal Menuju 10.000 atau Awal Bubble Ekonomi?

Ayu Dhea Cheryl • Senin, 2 Maret 2026 | 15:41 WIB

Harga emas dunia menembus USD 5.200 per troy ons dan diproyeksikan terus naik. Namun, analis mengingatkan potensi risiko bubble ekonomi di tengah lonjakan likuiditas global.
Harga emas dunia menembus USD 5.200 per troy ons dan diproyeksikan terus naik. Namun, analis mengingatkan potensi risiko bubble ekonomi di tengah lonjakan likuiditas global.

Harga emas dunia kembali menjadi sorotan pelaku pasar global. Dalam beberapa pekan terakhir, harga emas dunia melonjak tajam dan bertahan di atas level psikologis USD 5.100 per troy ons. Bahkan pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, harga emas berjangka tercatat menguat 0,6 persen ke posisi USD 5.205,8 per troy ons. Sementara harga emas spot naik 0,7 persen menjadi USD 5.180,91 per troy ons.

Lonjakan harga emas dunia ini tak lepas dari tingginya permintaan global. Bank sentral di berbagai negara terus menambah cadangan emas sebagai strategi lindung nilai (hedging) di tengah ketidakpastian ekonomi dan gejolak geopolitik. Di saat yang sama, investor swasta juga memburu emas sebagai aset safe haven.

Kondisi tersebut memunculkan satu pertanyaan besar: apakah reli harga emas dunia ini akan terus berlanjut hingga menyentuh USD 10.000 per troy ons, atau justru menjadi sinyal awal terbentuknya bubble ekonomi global?

Baca juga:Uang Beredar Global Melejit

Di balik kenaikan harga emas dunia, terdapat faktor fundamental yang tak bisa diabaikan, yakni lonjakan jumlah uang beredar secara global. Per Desember 2025, total uang beredar internasional tercatat mencapai USD 144 triliun. Dalam setahun terakhir saja, terjadi penambahan USD 13,6 triliun—rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Jika ditarik lebih panjang, sejak tahun 2000, total penambahan uang beredar global mencapai USD 118 triliun dengan compound annual growth rate (CAGR) sekitar 7 persen per tahun. Bahkan sejak pandemi Covid-19, tambahan likuiditas global menyentuh USD 44 triliun dengan CAGR mencapai 44 persen.

Secara teori ekonomi, membanjirnya uang beredar berpotensi melemahkan nilai mata uang. Ketika suplai uang meningkat drastis, daya beli mata uang cenderung tergerus. Dalam situasi seperti ini, emas menjadi alternatif penyimpan nilai yang dianggap lebih stabil.

Baca juga:Strategi Pelemahan Mata Uang dan Dampaknya

Sejumlah negara dinilai sengaja memperlonggar kebijakan moneter demi menjaga daya saing ekspor. Mata uang yang lebih lemah membuat produk domestik lebih kompetitif di pasar internasional. Namun konsekuensinya adalah meningkatnya risiko inflasi dan ketidakstabilan nilai tukar.

Likuiditas yang melimpah juga meningkatkan daya beli masyarakat dan investor. Alhasil, dana mengalir deras ke berbagai instrumen investasi, mulai dari saham, kripto, properti hingga emas. Tak heran bila harga berbagai aset mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Fenomena ini juga memicu isu dedolarisasi. Ketika dolar AS melemah akibat banjir likuiditas, sebagian negara dan investor global mulai mengurangi ketergantungan terhadap mata uang tersebut. Jika tren ini berlanjut, pergeseran lanskap keuangan global bisa terjadi secara bertahap.

Baca juga:Proyeksi USD 10.000: Realistis atau Spekulatif?

Sejumlah lembaga keuangan internasional mulai menaikkan proyeksi harga emas dunia untuk setahun ke depan. Bahkan ada pelaku pasar yang berani memperkirakan harga emas bisa meroket hingga USD 10.000 per troy ons.

Dari sisi teori, proyeksi tersebut bukan tanpa dasar. Jika likuiditas global terus meningkat dan inflasi tak terkendali, maka harga emas sebagai aset lindung nilai sangat mungkin melesat lebih tinggi. Namun, kenaikan yang terlalu cepat dan jauh dari nilai fundamental berisiko menciptakan bubble ekonomi.

Bubble terjadi ketika harga aset melampaui nilai intrinsiknya akibat euforia pasar. Sejarah mencatat, gelembung ekonomi bisa pecah sewaktu-waktu. Krisis properti Amerika Serikat pada 2007–2008 menjadi contoh nyata bagaimana lonjakan harga yang tak sehat berujung pada krisis global.

Baca juga:Waspada Risiko di Balik Euforia

Meski harga emas dunia saat ini terlihat perkasa, investor tetap perlu berhati-hati. Kenaikan harga portofolio investasi memang menggiurkan, tetapi risiko koreksi tajam selalu mengintai.

Dalam kondisi likuiditas berlimpah, pasar cenderung bergerak agresif. Investor berlomba menaikkan penawaran demi mengamankan aset pilihan. Namun ketika sentimen berubah atau likuiditas mengetat, harga bisa terkoreksi drastis.

Oleh karena itu, strategi diversifikasi dan manajemen risiko tetap menjadi kunci. Emas bisa menjadi bagian dari portofolio, tetapi keputusan investasi harus mempertimbangkan horizon waktu, profil risiko, serta kondisi makroekonomi global.

Harga emas dunia memang tengah bersinar. Namun di balik kilaunya, tersimpan dinamika ekonomi global yang kompleks. Apakah ini momentum emas menuju era baru, atau sekadar siklus yang akan berakhir dengan koreksi tajam? Waktu yang akan menjawab.

Editor : Ayu Dhea Cheryl
#bubble ekonomi #Dedolarisasi #uang beredar global #harga emas dunia #emas global