Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IHSG Turun 2,65% Tertekan Rupiah dan Geopolitik, Saham BUMI–DEWA Melemah, Energi Justru Auto Reject Atas

Kirana Meigita Luciana Rani • Selasa, 3 Maret 2026 | 09:53 WIB

IHSG turun 2,65% tertekan rupiah dan geopolitik. BUMI-DEWA melemah, saham energi justru auto reject atas.
IHSG turun 2,65% tertekan rupiah dan geopolitik. BUMI-DEWA melemah, saham energi justru auto reject atas.

RADAR TULUNGAGUNG-  IHSG turun 2,65% pada perdagangan 2 Maret 2026 dan memicu kekhawatiran pelaku pasar. Tekanan terhadap IHSG disebut dipengaruhi sentimen negatif pelemahan rupiah serta isu geopolitik global yang kembali memanas. Kondisi ini membuat sejumlah saham unggulan terkoreksi cukup dalam, meski ada pula yang justru melesat.

Secara teknikal, IHSG turun 2,65% dan kini berada di area support krusial. Rentang 8.012 hingga 7.863 disebut sebagai zona penopang penting karena sebelumnya menjadi area resistance yang beberapa kali memicu pantulan. Jika mengacu pada indikator Fibonacci, level tersebut juga bertepatan dengan golden zone.

Artinya, apabila IHSG turun 2,65% dan gagal bertahan di area tersebut, potensi pelemahan lanjutan bisa terbuka. Bahkan, indeks berisiko bergerak sideways dalam waktu cukup lama sebelum kembali menguat. Pelaku pasar pun diimbau mencermati pergerakan di area ini sebelum mengambil keputusan.

Baca Juga: Sempurnakan Perjalanan Menuju Hari Raya, Bersama Sparepart, Oli Asli, dan Apparel Spesial dari Yamaha

Saham BUMI Tertahan Resistance, Support 244 Jadi Penentu

Salah satu saham yang menjadi sorotan adalah BUMI. Secara teknikal, saham ini belum menutup gap secara sempurna dan saat ini berada di area resistance kuat pada time frame weekly. Area tersebut sebelumnya beberapa kali menjadi titik pantulan, sehingga wajar jika harga kembali terkoreksi.

Pada perdagangan terakhir, BUMI sempat menguat sekitar 2 persen sebelum akhirnya tertekan dan ditutup minus 3,88 persen. Dari sisi transaksi, tercatat broker OD melakukan akumulasi sekitar Rp63 miliar. Namun tekanan jual dari sejumlah broker lain masih mendominasi.

Menariknya, rata-rata pembelian (average) broker OD berada di kisaran 252, sementara harga penutupan di 248. Artinya, posisi tersebut masih floating loss. Hal serupa juga terjadi pada broker NI yang sebelumnya agresif mengoleksi saham ini dengan rata-rata di kisaran 268.

Kondisi ini membuka peluang terjadinya average down jika harga mendekati support kuat di 244. Secara teknikal, rentang 238–252 menjadi area Fibonacci terdekat yang bisa menjadi zona rebound. Namun jika level 244 ditembus, tekanan jual berpotensi semakin besar.

Baca Juga: Prabowo Subianto Soroti Perang Iran–Israel dan Ancaman Perang Dunia Ketiga, Singgung Dampak ke Ekonomi Indonesia

Saham DEWA Uji Support Kuat, Masih Downtrend

Selain BUMI, saham DEWA juga terkoreksi dalam, yakni minus 4,76 persen. Secara teknikal, saham ini sedang menguji area support kuat di rentang 515–488, dengan level 468 sebagai batas bawah yang perlu dicermati.

Area tersebut telah beberapa kali menjadi titik pantulan sebelumnya. Namun dari sisi trendline, DEWA masih berada dalam tren turun (downtrend). Resistance terdekat berada di kisaran 650–695. Jika mampu menembus area itu, peluang pembalikan arah akan semakin terbuka.

Dari sisi transaksi, broker AK tercatat melakukan akumulasi Rp22 miliar. Namun tekanan jual dari broker MG lebih besar, mencapai Rp26 miliar. Data menunjukkan sejumlah broker besar memiliki rata-rata pembelian di atas harga saat ini, sehingga masih dalam posisi floating loss.

Kondisi ini membuat pergerakan DEWA menarik untuk dicermati. Jika support bertahan dan terjadi akumulasi lanjutan, potensi technical rebound tetap terbuka. Namun jika support jebol, tekanan bisa berlanjut.

Baca Juga: Dunia Tak Sadar Perang Dunia 3 Sudah Dimulai? Eropa Bagikan Buku Panduan Survival 72 Jam, Bagaimana Kesiapan Indonesia?

Saham Energi Breakout dan Auto Reject Atas

Berbeda dengan dua saham sebelumnya, saham sektor energi justru mencuri perhatian. Pada perdagangan terbaru, saham ini berhasil breakout dari area resistance dan langsung melesat hingga auto reject atas (ARA).

Lonjakan ini disebut berkaitan dengan sentimen geopolitik global, termasuk kabar kebakaran di salah satu kilang minyak terbesar dunia. Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga komoditas.

Secara teknikal, setelah breakout, target terdekat berada di area 2.450. Jika momentum berlanjut, resistance berikutnya berada di kisaran 3.740 pada time frame lebih besar. Namun skenario idealnya adalah terjadi retest terlebih dahulu sebelum melanjutkan kenaikan.

Pergerakan kontras antara saham energi dan saham lain menunjukkan bahwa pasar saat ini sangat selektif. Ketika IHSG turun 2,65%, saham berbasis komoditas energi justru mendapat sentimen positif.

Dengan kondisi pasar yang fluktuatif, pelaku pasar disarankan mencermati level support dan resistance kunci, serta memperhatikan aliran dana institusi dan asing. Area-area teknikal krusial saat ini menjadi penentu arah pergerakan berikutnya, baik untuk IHSG maupun saham-saham pilihan.

Baca Juga: Presiden Waspadai Perang Dunia Ketiga: Simulasi Nuklir Picu Nuclear Winter, Indonesia Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Editor : Kirana Meigita Luciana Rani
#saham BUMI #analisa teknikal #Saham Dewa