RADAR TULUNGAGUNG- IHSG turun 2,65 persen pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026. Pelemahan ini membuat indeks gagal mempertahankan level 8.138 dan membuka peluang koreksi lanjutan dalam jangka pendek hingga menengah.
Dalam ulasan pasar edisi awal Maret, analis menyebut IHSG turun 2,65 persen sebagai sinyal lanjutan fase koreksi gelombang kedua (wave 2). Secara teknikal, indeks diproyeksikan menguji area 7.900 dalam waktu dekat, bahkan berpotensi melanjutkan pelemahan ke kisaran 7.200 sebagai support kuat berikutnya.
Kondisi ini membuat investor bertanya-tanya: setelah IHSG turun 2,65 persen, apakah saatnya keluar dari pasar atau tetap bertahan dan menunggu momentum?
Potensi Koreksi Bertahap, Bukan Crash Panjang
Secara teknikal, penurunan kali ini dinilai berbeda dengan koreksi tajam yang berlangsung singkat pada fase sebelumnya. Kali ini, pola yang terbentuk mengarah pada penurunan bertahap.
Jika tekanan global dan sentimen makro belum membaik, pelemahan bisa berlangsung lebih lama. Namun, analis menilai fase ini masih dalam kategori jangka pendek hingga menengah, dengan estimasi durasi kurang dari satu tahun.
Artinya, skenario bearish panjang hingga tiga tahun seperti kekhawatiran sebagian pelaku pasar dinilai belum relevan. Investor disarankan tetap berada di pasar dengan pengelolaan risiko yang disiplin, bukan meninggalkan pasar sepenuhnya.
Strategi Saham: AMN, GH, hingga CDIA
Beberapa saham yang menjadi perhatian antara lain AMN. Saat ini saham tersebut masih bergerak dalam pola konsolidasi menyempit. Upside dinilai terbatas dan berpotensi mengarah ke area 6.875 hingga 6.575. Strateginya, investor sebaiknya menunggu area tersebut untuk swing trading atau menanti breakout yang lebih jelas.
Untuk saham GH, dari sisi fundamental dinilai masih menarik untuk investasi. Secara pertumbuhan operasional, kinerja masih stabil meski ada koreksi tipis secara tahunan. Harga saham juga belum mengalami apresiasi signifikan, sehingga area 1.800 hingga 1.500 dinilai menarik untuk akumulasi bertahap.
Sementara itu, CDIA yang sempat rebound saat market crash kini kembali menguji support. Jika level penopang gagal bertahan, potensi pelemahan menuju 770 terbuka dalam jangka pendek.
Saham Energi Sudah Terlambat Masuk?
Sektor energi memang mencatat kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Namun, analis mengingatkan bahwa entry di harga saat ini dinilai sudah relatif tinggi.
Potensi upside tersisa diperkirakan hanya sekitar 4 persen menuju level ekstensi berikutnya. Risiko menjadi lebih besar dibanding potensi imbal hasil. Strategi yang lebih bijak adalah menunggu koreksi ke area psikologis 2.000 atau bahkan mendekati gap 1.800 sebelum mempertimbangkan pembelian.
Disiplin menjadi kunci utama agar investor tidak terjebak di harga puncak.
Bagaimana Nasib Saham BRI?
Pertanyaan lain muncul terkait saham perbankan, khususnya Bank Rakyat Indonesia (BRI). Target price 4.250 masih dinilai memungkinkan selama tidak terjadi breakdown support penting.
Bagi investor yang membeli di bawah 3.800 atau 3.600, posisi masih relatif aman untuk hold. Namun bagi yang masuk di atas 4.000 bahkan 5.000, kewaspadaan perlu ditingkatkan karena waktu pemulihan bisa lebih panjang.
Terkait isu geopolitik global, dampaknya dinilai lebih bersifat tidak langsung melalui inflasi dan sentimen pasar. Fundamental BRI sendiri disebut tidak mengalami perubahan signifikan.
Strategi cash management juga ditekankan. Penambahan cash sebaiknya berasal dari saham dengan posisi kurang ideal, bukan dari saham yang secara fundamental masih layak dipertahankan.
Prospek Saham Emas Masih Kuat
Untuk saham berbasis emas seperti Aneka Tambang (ANTM), tren masih menunjukkan pola uptrend kuat. Secara teknikal belum terlihat struktur pembalikan arah dalam jangka pendek maupun menengah.
Target akselerasi terdekat berada di area 9.400 dan berpotensi berlanjut menuju 10.000 dalam jangka menengah. Momentum penguatan yang mulai terbentuk sejak Februari dinilai masih memiliki ruang cukup panjang.
Cermati Area Akumulasi Saham CPO
Di sektor CPO, tren komoditas global sedang dalam fase naik. Untuk saham ACMP, area akumulasi ideal disebut berada di bawah 550, dengan best price di bawah 500.
Level tersebut sebelumnya sempat disentuh saat koreksi akhir Januari dan terlihat banyak aksi beli di area itu. Investor yang belum mendapatkan harga terbaik disarankan menunggu koreksi lanjutan.
Kesimpulan
Meski IHSG turun 2,65 persen dan membuka peluang koreksi lebih dalam, analis menilai kondisi ini masih dalam fase normal siklus pasar.
Investor tidak disarankan panik meninggalkan pasar. Fokus utama tetap pada manajemen risiko, disiplin entry, serta memilih saham dengan fundamental kuat dan struktur teknikal sehat.
Koreksi bisa menjadi peluang, asalkan strategi disiapkan dengan matang.
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani