Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IHSG Anjlok 1,45% ke 8.115 Usai Serangan AS-Israel ke Iran, Harga Minyak Melonjak dan Rupiah Tembus 16.827

Krisna Pambudi • Selasa, 3 Maret 2026 | 10:50 WIB

IHSG anjlok 1,45% ke 8.115 usai serangan AS-Israel ke Iran. (Ilustrasi: Gemini)
IHSG anjlok 1,45% ke 8.115 usai serangan AS-Israel ke Iran. (Ilustrasi: Gemini)

RADAR TULUNGAGUNG - Memasuki pekan pertama Maret 2026, IHSG langsung tertekan hebat.

Hingga pukul 10.02 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 1,45 persen ke level 8.115,74.

Pelemahan IHSG ini terjadi di tengah kombinasi sentimen geopolitik global dan rilis data ekonomi domestik yang krusial.

Tekanan terhadap IHSG datang setelah situasi Timur Tengah memanas menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Konflik tersebut memicu kekhawatiran global dan membuat investor asing cenderung menarik dana dari emerging market, termasuk Indonesia.

Di saat bersamaan, pelemahan IHSG juga dibarengi tekanan pada nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda terpantau melemah 0,4 persen ke level 16.827 per dolar Amerika Serikat.

Level ini kembali mendekati area psikologis yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Konflik Timur Tengah Picu Ketidakpastian Global

Eskalasi konflik bermula dari serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Selain itu, mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad juga dikabarkan tewas akibat serangan rudal di Teheran.

Militer Israel menyebut serangan awal menargetkan sekitar 40 komandan senior Iran dan operasi disebut masih berpotensi meluas hingga fasilitas nuklir.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Emas dan Minyak Melonjak, IHSG Terancam Tekanan Berat—Ini Strategi Investor Hadapi Risiko Global

Kondisi ini memperbesar risiko konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan tersebut langsung mengguncang pasar energi global.

Harga minyak mentah Brent melonjak hingga 13 persen pada awal perdagangan, menyentuh kisaran USD 82 per barel.

Lonjakan ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global, terutama jika terjadi blokade di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak dunia.

Meski Iran menyatakan selat tetap terbuka, sejumlah perusahaan pelayaran mulai mengalihkan rute akibat tingginya premi asuransi dan risiko keamanan.

Di tengah situasi ini, kelompok produsen minyak OPEC+ memutuskan meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April.

Namun tambahan pasokan tersebut dinilai sangat kecil, kurang dari 0,2 persen dari total permintaan global, sehingga belum cukup meredam lonjakan harga.

Dampak ke Pasar Domestik dan Sektoral IHSG

Sentimen global tersebut tercermin pada pergerakan sektoral IHSG.

Dari 11 sektor, hanya sektor energi yang mampu bertahan di zona hijau dengan penguatan 1,87 persen, terdorong reli harga minyak dunia.

Sebaliknya, sektor finansial melemah 1,75 persen.

Konsumer primer terkoreksi 2,2 persen dan konsumer nonprimer bahkan tertekan hingga 4,7 persen. Sektor perindustrian turun 1,97 persen.

Baca Juga: Uni Eropa Didesak Patuhi Putusan WTO Sawit Indonesia, Geopolitik Tekan IHSG hingga Harga Emas Diproyeksi Terbang

Tekanan juga terjadi pada sektor infrastruktur yang melemah 2,86 persen, properti turun 2,54 persen, serta teknologi yang terkoreksi 1,92 persen.

Sektor transportasi dan kesehatan masing-masing turun 1,78 persen dan 1,39 persen.

Dominasi pelemahan ini menunjukkan pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual sebagai respons atas meningkatnya risiko geopolitik global.

Menanti Data Inflasi Februari 2026

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Februari 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2 Maret 2026.

Pada Januari lalu, inflasi tahunan tercatat 3,55 persen, naik dari 2,92 persen pada Desember dan menembus batas atas target Bank Indonesia yang berada di kisaran 1,5–3,5 persen.

Tekanan harga diperkirakan berlanjut pada Februari.

Konsensus pasar memperkirakan inflasi bulanan Februari sekitar 0,3 persen. Secara tahunan, inflasi diproyeksikan meningkat menjadi 4,34 persen dengan inflasi inti sekitar 2,49 persen.

Lonjakan harga terutama dipicu peningkatan konsumsi menjelang Ramadan yang dimulai 19 Februari 2026.

Permintaan bahan pangan meningkat lebih awal, mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok.

Jika inflasi benar-benar menembus proyeksi, ruang gerak Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan suku bunga akan semakin terbatas.

Kondisi ini berpotensi menambah tekanan pada IHSG dalam jangka pendek.

Rupiah Ikut Tertekan

Sejalan dengan pelemahan IHSG, rupiah juga melemah terhadap sejumlah mata uang utama.

Terhadap dolar Singapura dan yen Jepang, rupiah masing-masing terkoreksi sekitar 0,25 persen. Sementara terhadap euro, pelemahannya mencapai 0,2 persen.

Kombinasi sentimen geopolitik global, lonjakan harga minyak, serta potensi kenaikan inflasi domestik menjadi tantangan besar bagi pasar keuangan Indonesia pada awal Maret ini.

Pelaku pasar kini mencermati dua hal utama: perkembangan konflik di Timur Tengah dan data inflasi dalam negeri.

Arah IHSG selanjutnya akan sangat ditentukan oleh dinamika kedua faktor tersebut.

Editor : Krisna Pambudi
#ihsg #harga minyak dunia #rupiah melemah #Inflasi Februari #serangan AS Israel Iran