RADAR TULUNGAGUNG - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan setelah IHSG anjlok ke level 8.100 pada perdagangan terbaru.
Padahal sehari sebelumnya, indeks sempat menyentuh area 8.200-an dan memunculkan optimisme bahwa tren bullish akan berlanjut.
Namun, kenyataan berkata lain. IHSG longsor jelang akhir sesi dan menimbulkan kepanikan di kalangan investor.
Pergerakan IHSG yang fluktuatif ini memicu pertanyaan besar: apa sebenarnya yang terjadi? Dari sisi domestik, sentimen sebenarnya relatif minim.
Data ekonomi dalam negeri tidak menunjukkan kejutan signifikan, meski defisit APBN dan tekanan fiskal masih menjadi perhatian.
Namun, tekanan eksternal justru menjadi pemicu utama koreksi tajam kali ini.
Ancaman kebijakan tarif dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi sentimen negatif yang membebani IHSG.
Trump disebut akan menaikkan tarif tambahan dari 10 persen menjadi 15 persen, termasuk tarif masuk untuk energi surya dan panel surya.
Indonesia bahkan dikenakan tarif hingga 104 persen, lebih rendah dari India 125 persen, namun tetap tergolong tinggi.
Sentimen Eksternal Picu Kepanikan
Kebijakan tarif terhadap energi surya tersebut dinilai cukup berdampak bagi Indonesia.
Meski pasar panel surya belum sebesar komoditas lain, volume perdagangan Indonesia di sektor ini tergolong signifikan.
Ketidakpastian arah kebijakan Amerika Serikat membuat pasar global cenderung waswas.
Pasar saham memang sangat sensitif terhadap isu geopolitik dan kebijakan perdagangan.
Ancaman tarif tambahan memunculkan kekhawatiran akan meluasnya proteksionisme. Investor cenderung mengurangi risiko (risk off), sehingga aksi jual pun tak terhindarkan.
Selain sentimen global, faktor teknikal juga berperan.
Setelah sebelumnya IHSG ambrol tajam dan sempat mengalami trading halt dua kali, reli cepat menuju 8.200 dinilai terlalu agresif.
Kenaikan signifikan biasanya diikuti koreksi sebagai fase konsolidasi.
Banyak investor yang terlalu percaya diri IHSG akan langsung mencetak rekor tertinggi baru (all time high), padahal pasar membutuhkan fase naik-turun sebelum kembali menguat.
Kinerja Perbankan dan Komoditas Kurang Memuaskan
Tekanan terhadap IHSG juga datang dari laporan keuangan emiten, terutama sektor perbankan dan komoditas.
Sejumlah saham batu bara mencatatkan penurunan kinerja sepanjang 2025. Hal serupa terjadi pada beberapa bank besar, termasuk bank-bank Himbara.
Kinerja tahunan beberapa bank BUMN dinilai belum maksimal.
Meski pada Januari terdapat pertumbuhan laba bersih di salah satu bank besar yang mencapai 16 persen didorong kredit UMKM, performa sepanjang tahun sebelumnya masih dianggap kurang solid.
Penurunan kinerja tersebut membuat saham perbankan seperti BMRI, BBRI, BBNI, hingga BBCA belum mampu kembali ke level optimal.
Padahal, sektor perbankan selama ini menjadi penopang utama IHSG. Ketika saham bank melemah, tekanan terhadap indeks menjadi semakin besar.
Namun, ada harapan perbaikan pada semester I atau semester II tahun ini.
Sejumlah program pemerintah dan injeksi dana diyakini membutuhkan waktu sebelum dampaknya benar-benar tercermin di laporan keuangan.
Artinya, pasar mungkin masih menunggu bukti konkret sebelum kembali agresif masuk.
Harapan dari Data Ekonomi dan Ramadan
Meski IHSG anjlok, peluang pemulihan tetap terbuka.
Dalam waktu dekat, pasar akan dibanjiri data penting seperti neraca impor-ekspor, inflasi, cadangan devisa, hingga PMI manufaktur.
Rilis data tersebut berpotensi menjadi katalis positif jika hasilnya sesuai ekspektasi atau lebih baik.
Selain itu, momentum Ramadan juga dinilai bisa menjadi sentimen pendukung. Secara historis, konsumsi masyarakat meningkat selama bulan puasa dan menjelang Lebaran.
Sektor consumer goods, transportasi, dan logistik biasanya terdorong naik.
Meski saat ini saham konsumer dan transportasi masih cenderung lesu, efek signifikan biasanya baru terasa setelah pencairan THR.
Umumnya, dua pekan sebelum Lebaran, daya beli meningkat tajam dan mendorong perputaran ekonomi.
Namun, investor juga perlu mewaspadai potensi sepinya transaksi beberapa hari menjelang Lebaran, ketika pelaku pasar lebih fokus pada libur panjang.
Baca Juga: Prediksi IHSG 2–6 Maret 2026 Rebound ke 8.392? Ini 3 Saham Potensi Naik: ERAA, TAPG, ASA
Secara keseluruhan, koreksi IHSG ke 8.100 dinilai sebagai fase konsolidasi yang wajar dalam tren jangka menengah.
Pasar masih mencari pijakan sebelum melanjutkan penguatan. Jika sentimen global mereda dan data domestik mendukung, peluang rebound tetap terbuka.
Editor : Krisna Pambudi