Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IHSG Melemah 1,31% ke Level 8.213, Sempat Anjlok 2% Meski Asing Net Buy Rp2,7 Triliun

Krisna Pambudi • Selasa, 3 Maret 2026 | 11:00 WIB

IHSG melemah 1,31% ke 8.213, sempat turun 2%. (Ilustrasi: Gemini)
IHSG melemah 1,31% ke 8.213, sempat turun 2%. (Ilustrasi: Gemini)

RADAR TULUNGAGUNG - IHSG melemah pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026.

Setelah sempat dibuka menguat pada awal sesi, IHSG justru berbalik arah dan tertekan hingga akhir sesi pertama.

Bahkan pada sesi kedua, indeks sempat turun hingga 2 persen sebelum akhirnya memangkas sebagian pelemahan.

Berdasarkan pantauan di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG melemah 1,31 persen atau turun sekitar 106 poin ke level 8.213 pada pukul 15.19 WIB, atau sekitar 45 menit sebelum penutupan perdagangan.

Nilai transaksi tercatat cukup besar, mencapai Rp23,7 triliun.

Kondisi ini menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pasar, meskipun di sisi lain terdapat sejumlah sentimen positif yang menopang pergerakan indeks.

Seluruh Sektor Kompak di Zona Merah

Secara sektoral, pelemahan terjadi merata. Seluruh indeks sektor berada di zona merah. Tekanan terdalam terjadi pada sektor infrastruktur.

Indeks sektor infrastruktur (IDX Infra) tercatat melemah 2,52 persen, menjadi sektor dengan koreksi paling dalam pada sesi perdagangan kali ini.

Selain itu, sektor konsumer primer juga terpantau tertekan akibat isu pembatasan minimarket yang sempat dilontarkan pemerintah.

Analis pasar modal Wahyu Laksono menilai pergerakan IHSG hari ini cenderung mix dengan tekanan dominan berasal dari ketidakpastian global.

Menurutnya, meskipun ada sentimen positif, pasar masih dibayangi risiko eksternal yang belum sepenuhnya reda.

Sentimen Global: Tarif AS dan Negosiasi Iran

Dari eksternal, pasar mencermati perkembangan kebijakan tarif dagang Amerika Serikat.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menetapkan kebijakan tarif dagang terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Namun, Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan kebijakan tersebut dan menetapkan tarif dagang global sebesar 10 persen.

Meski demikian, terdapat wacana kenaikan tarif hingga 15 persen yang kembali memicu ketidakpastian.

Di sisi lain, bursa Amerika Serikat atau Wall Street justru menunjukkan penguatan.

Tiga indeks utama kompak naik, termasuk NASDAQ Composite yang terdorong penguatan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.

Berkurangnya tekanan pada saham teknologi memberi sentimen positif bagi pasar global.

Pasar juga menantikan perkembangan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.

Negosiasi tersebut dinilai berpotensi memicu volatilitas harga energi dan aset global, yang pada akhirnya turut memengaruhi pergerakan pasar modal Indonesia.

Sentimen Domestik: Likuiditas Perbankan Dijaga

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari kebijakan pemerintah terkait likuiditas perbankan.

Menteri Keuangan Purbaya Sadewa menyatakan akan melanjutkan injeksi likuiditas di sektor perbankan.

Langkah tersebut dilakukan dengan memperpanjang penempatan saldo anggaran lebih (SAL) pemerintah yang sebelumnya akan jatuh tempo pada Maret.

Baca Juga: Uni Eropa Didesak Patuhi Putusan WTO Sawit Indonesia, Geopolitik Tekan IHSG hingga Harga Emas Diproyeksi Terbang

Perpanjangan dilakukan selama enam bulan ke depan guna menjaga stabilitas likuiditas, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Tim riset Pilarmas Investindo Sekuritas menilai kebijakan ini berpotensi menopang stabilitas pasar dan menjaga daya beli masyarakat.

Likuiditas yang terjaga dinilai krusial untuk mendukung aktivitas ekonomi pada momen konsumsi tinggi.

Selain itu, nilai tukar rupiah juga menunjukkan penguatan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp16.749 per dolar AS atau menguat sekitar 0,30 persen.

Penguatan rupiah menjadi faktor penyeimbang di tengah tekanan IHSG.

Asing Masih Catatkan Net Buy

Menariknya, di tengah kondisi IHSG melemah, investor asing justru mencatatkan pembelian bersih (net foreign buy).

Data perdagangan menunjukkan foreign buy mencapai Rp10,4 triliun, sementara foreign sell sebesar Rp7,66 triliun.

Artinya, terdapat net buy sekitar Rp2,7 triliun. Hal ini menunjukkan investor asing masih melihat peluang di sejumlah emiten meski indeks berada dalam tekanan.

Fenomena ini kerap menjadi sinyal bahwa koreksi yang terjadi bisa dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi beli oleh investor jangka menengah hingga panjang.

Dengan kombinasi sentimen global dan domestik yang saling tarik menarik, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan kebijakan tarif AS, negosiasi geopolitik, serta stabilitas likuiditas dalam negeri sebagai penentu arah IHSG selanjutnya.

Untuk sementara, IHSG masih bergerak di zona koreksi.

Namun derasnya aliran dana asing memberi harapan bahwa tekanan yang terjadi tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan fundamental pasar.

Baca Juga: Prediksi IHSG 2–6 Maret 2026 Rebound ke 8.392? Ini 3 Saham Potensi Naik: ERAA, TAPG, ASA

Editor : Krisna Pambudi
#bursa efek indonesia #net foreign buy #ihsg melemah #liquiditas perbankan #donald trump