RADAR TULUNGAGUNG - IHSG anjlok hampir 2 persen pada pembukaan perdagangan Senin, 2 Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 161,03 poin atau 1,96 persen ke level 8.092.
Pelemahan tajam ini terjadi di tengah memanasnya tensi geopolitik global setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Pada awal sesi, IHSG bahkan sempat terperosok ke level terendah 8.049 sebelum perlahan naik ke titik tertinggi sementara di kisaran 8.097.
Meski sempat rebound tipis, tekanan jual masih mendominasi pergerakan indeks di awal perdagangan.
IHSG anjlok seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak eskalasi konflik Timur Tengah terhadap stabilitas ekonomi global.
Sentimen eksternal ini langsung tercermin pada mayoritas saham yang bergerak di zona merah.
Berdasarkan data perdagangan, volume transaksi tercatat mencapai 24,95 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp1,67 triliun.
Frekuensi perdagangan menyentuh sekitar 187.000 kali transaksi.
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 599 saham melemah, hanya 59 saham menguat, dan 62 saham stagnan.
Geopolitik Jadi Pemicu Volatilitas IHSG
Pejabat sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menyatakan volatilitas IHSG hari ini cukup kuat dan dipengaruhi oleh faktor geopolitik global.
Menurutnya, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi sentimen utama yang membebani pasar.
Baca Juga: IHSG Anjlok ke 8.100 Usai Ancaman Tarif Trump, Investor Panik dan Saham Bank Himbara Ikut Terseret
Diketahui, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Dalam serangan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei disebut tewas.
Peristiwa ini memicu ketidakpastian global dan mendorong investor melakukan aksi jual pada aset berisiko, termasuk saham.
Jeffrey mengingatkan agar pelaku pasar tetap bersikap rasional dalam mengambil keputusan investasi.
“Investor sebaiknya tetap memperhatikan fundamental emiten dan tidak terpancing kepanikan jangka pendek,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa fluktuasi pasar akibat sentimen eksternal memang sulit dihindari, namun keputusan investasi tetap harus didasarkan pada analisis yang matang.
Proyeksi IHSG: Waspadai Support 8.000
Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryata, memproyeksikan IHSG berpotensi menghadapi tekanan lanjutan.
Ia menilai level resistance IHSG saat ini berada di kisaran 8.437.
Namun di tengah tensi geopolitik global, peluang indeks untuk menembus resistance tersebut dinilai cukup berat dalam waktu dekat.
Liza menyarankan investor untuk sementara mengurangi posisi portofolio dan mencermati perkembangan situasi global.
Menurutnya, IHSG berpotensi bergerak dalam rentang support 8.000 hingga 7.950, bahkan bisa menguji 7.800 apabila tekanan semakin kuat.
“Dalam situasi seperti ini, strategi defensif lebih disarankan,” jelasnya.
Baca Juga: IHSG Turun 2,65 Persen, Analis Prediksi Uji Level 7.200! Saatnya Hold atau Jual Saham BRI dan Emas?
Liza menambahkan, sektor energi dan logam mulia cenderung menjadi pilihan menarik di tengah ketidakpastian global.
Kenaikan harga komoditas akibat konflik geopolitik biasanya menguntungkan negara berbasis komoditas seperti Indonesia.
Ia berkaca pada konflik Rusia-Ukraina tahun 2022, di mana lonjakan harga komoditas global sempat memberikan dampak positif bagi pasar domestik.
Bursa Asia Turut Tertekan
Tekanan pasar tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah bursa di kawasan Asia juga mengalami pelemahan signifikan.
Bahkan, Bursa Kuwait sempat menghentikan sementara perdagangan akibat volatilitas yang tinggi.
Sementara itu, Uni Emirat Arab memutuskan menutup pasar sahamnya pada Senin dan Selasa menyusul serangan Iran.
Kondisi ini mempertegas bahwa gejolak geopolitik memiliki dampak luas terhadap stabilitas pasar keuangan global.
Analis menilai, dalam jangka pendek IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan situasi politik dan respons negara-negara terkait.
Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia yang relatif stabil dinilai masih menjadi penopang jangka menengah hingga panjang.
Investor diimbau untuk tidak mengambil keputusan secara emosional dan tetap melakukan diversifikasi portofolio.
Dengan IHSG anjlok hampir 2 persen ke level 8.092, pelaku pasar kini menanti arah kebijakan global serta respons lanjutan dari Iran dan sekutunya.
Pergerakan indeks dalam beberapa hari ke depan akan sangat ditentukan oleh perkembangan konflik dan stabilitas harga komoditas dunia.
Editor : Krisna Pambudi