Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Konflik Timur Tengah Dorong Kenaikan Harga Emas dan Minyak, IHSG Melemah: Apa Dampaknya bagi Investor?

Manda Dwi Agustin • Selasa, 3 Maret 2026 | 11:59 WIB

Konflik Timur Tengah dorong kenaikan harga emas dan minyak, IHSG Indonesia melemah. Dampaknya bagi investor Indonesia jelang Ramadan.
Konflik Timur Tengah dorong kenaikan harga emas dan minyak, IHSG Indonesia melemah. Dampaknya bagi investor Indonesia jelang Ramadan.

 

RADAR TULUNGAGUNG - Ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari 2026 menyebabkan dampak signifikan pada pasar global.

Serangan militer yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran telah menewaskan sejumlah pejabat penting, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan mantan Presiden Mahmud Ahmadinejad.

Ketidakpastian ini memicu eksodus investor dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,45% pada Senin, 2 Maret. Hal ini juga mendorong lonjakan harga emas dan minyak dunia.

Baca Juga: IHSG Anjlok Hampir 2% ke 8.092 Dipicu Geopolitik AS-Israel vs Iran, BEI Minta Investor Tetap Rasional

Lonjakan Harga Emas dan Minyak
Harga emas di pasar internasional tercatat naik 2,45%, mencapai USD 5.412,130 per troy ons, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Selain itu, harga minyak mentah jenis Brent melonjak hingga 13%, diperdagangkan pada USD 75 per barel, akibat ancaman gangguan pasokan dari Selat Hormuz.

Penutupan jalur pengiriman energi ini menjadi faktor utama yang memengaruhi harga energi global.

Lonjakan harga emas dan minyak ini mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman, sementara sektor energi dalam negeri juga mengalami penguatan.

Baca Juga: IHSG Melemah 1,31% ke Level 8.213, Sempat Anjlok 2% Meski Asing Net Buy Rp2,7 Triliun

Inflasi Indonesia & Dampaknya Terhadap Kekuatan Daya Beli
Di sisi domestik, perhatian pasar tertuju pada rilis data inflasi Indonesia yang diumumkan pada 2 Maret 2026.

Inflasi Indonesia diperkirakan naik menjadi 4,34% secara tahunan, jauh melampaui batas atas target Bank Indonesia yang hanya 3,5%.

Laporan ini mencerminkan lonjakan harga yang terutama terjadi pada komoditas pangan, yang dipicu oleh peningkatan permintaan menjelang bulan Ramadan.

Baca Juga: IHSG Anjlok 1,45% ke 8.115 Usai Serangan AS-Israel ke Iran, Harga Minyak Melonjak dan Rupiah Tembus 16.827

Data inflasi yang tinggi ini mengindikasikan adanya tekanan pada daya beli masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan pokok yang lebih cepat dari yang diperkirakan menyebabkan konsumsi rumah tangga meningkat, yang pada gilirannya memicu lonjakan harga yang lebih besar lagi di pasar domestik.


Pergerakan IHSG Indonesia menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang tajam, terutama pada sektor-sektor seperti konsumer, finansial, dan properti.

Di sisi lain, sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang mencatatkan penguatan sebesar 1,87%, seiring dengan kenaikan harga minyak global.

Hal ini menunjukkan bahwa sektor-sektor yang berhubungan dengan energi, terutama yang terkait dengan minyak dan gas, mulai menarik perhatian investor, yang menganggap sektor ini akan mendapat manfaat dari harga energi yang lebih tinggi.

 

Editor : Manda Dwi Agustin
#ihsg #saham turun #Saham 2026