Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bitcoin 3 Maret 2026 Menguat di Tengah Konflik Iran, Tembus 69.500 Jadi Kunci Rally ke 72.000?

Kirana Meigita Luciana Rani • Rabu, 4 Maret 2026 | 10:20 WIB

Bitcoin 3 Maret 2026 berpeluang rally jika tembus 69.500.
Bitcoin 3 Maret 2026 berpeluang rally jika tembus 69.500.

RADAR TULUNGAGUNG-  Pergerakan Bitcoin 3 Maret 2026 menjadi sorotan utama pelaku pasar kripto di tengah memanasnya konflik Iran dan Timur Tengah. Meski tensi geopolitik meningkat, harga Bitcoin justru menunjukkan ketahanan dan membuka peluang rally jangka pendek.

Dalam analisa pasar terbaru, Bitcoin 3 Maret 2026 dinilai berada di area krusial. Level 69.500 disebut sebagai batas penting yang menentukan apakah aset kripto terbesar di dunia ini mampu melanjutkan penguatan menuju 72.000 atau kembali tertekan.

Di sisi lain, sentimen global masih dibayangi konflik yang melibatkan Iran dan Israel. Namun menariknya, Bitcoin 3 Maret 2026 tidak menunjukkan reaksi negatif signifikan seperti yang biasa terjadi saat terjadi eskalasi geopolitik.

Baca Juga: Momen Haru Ramadan di Lapas Kelas IIB Tulungagung, Buka Puasa Bersama Jadi Peluruh Rindu Warga Binaan dan Keluarga

Konflik Iran dan Dampaknya ke Pasar Global

Ketegangan meningkat setelah Iran menutup Selat Hormus, jalur vital distribusi minyak dunia. Penutupan ini memicu lonjakan harga minyak mentah dari kisaran 67 dolar ke 74 dolar per barel dalam waktu singkat.

Kondisi tersebut mendorong kekhawatiran akan gangguan suplai energi global. Harga emas pun ikut menguat sebagai aset safe haven. Investor cenderung mengamankan dana mereka ke instrumen minim risiko seperti emas, dibandingkan saham atau kripto.

Namun berbeda dari pola sebelumnya, pasar kripto terlihat lebih stabil. Bitcoin tidak mengalami penurunan drastis meski konflik memanas. Hal ini memunculkan dugaan bahwa pasar sudah lebih dulu melakukan price in terhadap risiko perang.

Baca Juga: Update BMKG 4 Maret 2026: Tiga Bibit Siklon Muncul, Hujan Lebat Ancam Jawa hingga NTT

Tekanan Regulasi ke Binance dan Update Clarity Act

Selain isu geopolitik, pasar kripto juga mendapat sorotan dari regulator Amerika Serikat. Sebanyak 11 senator AS meminta penyelidikan terhadap Binance terkait dugaan aliran dana yang berhubungan dengan Iran.

Tekanan ini berpotensi berdampak besar terhadap industri kripto, terutama jika ditemukan pelanggaran aturan anti pencucian uang. Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan final yang memengaruhi harga Bitcoin secara signifikan.

Sementara itu, pembahasan Clarity Act—rancangan undang-undang terkait regulasi kripto—dikabarkan masih berproses dan kemungkinan baru mendapat persetujuan pada semester kedua 2026.

Baca Juga: 124 Jemaah Umrah Tulungagung Masih di Arab Saudi, Kemenhaj Pastikan Aman di Tengah Ketegangan Iran–Israel–AS

Aksi Borong Bitcoin oleh Strategy

Sentimen positif datang dari aksi korporasi. Perusahaan Strategy (sebelumnya MicroStrategy) kembali membeli sekitar 3.000 Bitcoin, sehingga total kepemilikannya mencapai sekitar 737.000 BTC.

Langkah agresif ini memperkuat persepsi bahwa institusi besar masih percaya terhadap prospek jangka panjang Bitcoin. Akumulasi besar-besaran oleh korporasi kerap menjadi katalis penguatan harga.

Analisa Teknikal: Level 69.500 Jadi Penentu

Secara teknikal, Bitcoin menunjukkan pelemahan tekanan jual dalam tiga pekan terakhir. Candle weekly memperlihatkan body yang semakin mengecil, mengindikasikan seller mulai kehilangan momentum.

Pada time frame harian, Bitcoin berada di area persimpangan. Jika mampu closing di atas 69.500, maka peluang breakout dari pola descending channel semakin terbuka. Target terdekat berada di 72.000.

Baca Juga: Ramalan Bencana 2026 Disebut “Disaster”, Benarkah Akan Terjadi Gempa Besar, Gunung Meletus dan Krisis Politik?

Sebaliknya, jika gagal menembus level tersebut, Bitcoin berpotensi kembali bergerak sideways atau bahkan koreksi ringan.

Struktur pasar jangka pendek menunjukkan pola higher low dan higher high, menandakan tren naik mulai terbentuk. Namun dalam gambaran besar (bigger picture), tren utama masih cenderung downtrend.

Bitcoin Dominance Menguat

Data kapitalisasi pasar menunjukkan arus dana lebih dominan masuk ke Bitcoin dibanding altcoin. Bitcoin dominance mendekati area breakout, membuka peluang penguatan lanjutan.

Sementara Ethereum dan altcoin lainnya masih bergerak relatif sideways dengan inflow lebih kecil. Artinya, investor saat ini lebih fokus pada Bitcoin sebagai aset utama di tengah ketidakpastian global.

Baca Juga: Hitungan Orang Sakit Menurut Weton, Primbon Jawa Ungkap Penyebab Penyakit Tak Kunjung Sembuh

IHSG Terkoreksi, Kripto Lebih Stabil

Berbeda dengan kripto, pasar saham Indonesia justru mengalami tekanan. IHSG terkoreksi 2,65 persen seiring kekhawatiran dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi global.

Hal ini mempertegas bahwa pasar kripto, khususnya Bitcoin, mulai menunjukkan karakter berbeda dibandingkan aset tradisional. Reaksi yang lebih tenang terhadap konflik menjadi sinyal kedewasaan pasar.

Kesimpulan: Rally Terbuka, Tapi Waspada

Secara keseluruhan, peluang rally jangka pendek Bitcoin masih terbuka. Syarat utamanya adalah penutupan harian di atas 69.500. Jika level tersebut berhasil ditembus, target 72.000 menjadi skenario realistis.

Meski demikian, investor tetap perlu waspada terhadap volatilitas akibat data ekonomi global, perkembangan konflik Iran, serta isu regulasi terhadap exchange kripto.

Untuk saat ini, pasar tampaknya sudah mengantisipasi risiko geopolitik. Fokus utama investor kembali pada struktur teknikal dan arus dana yang masuk ke Bitcoin.

Baca Juga: Hitungan Orang Sakit Menurut Weton, Primbon Jawa Ungkap Penyebab Penyakit Tak Kunjung Sembuh

Editor : Kirana Meigita Luciana Rani
#Bitcoin 3 Maret 2026 #Harga Bitcoin #Bitcoin