Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Analisis Saham BUMI hingga BBCA Hari Ini: IHSG Masih Downtrend, AK Borong Humi dan GTSI, Saatnya Akumulasi?

Kirana Meigita Luciana Rani • Rabu, 4 Maret 2026 | 10:46 WIB

Analisis saham BUMI hingga BBCA hari ini: IHSG downtrend, AK borong Humi & GTSI. Saatnya akumulasi?
Analisis saham BUMI hingga BBCA hari ini: IHSG downtrend, AK borong Humi & GTSI. Saatnya akumulasi?

RADAR TULUNGAGUNG-  Pergerakan analisis saham BUMI dan sejumlah emiten lainnya kembali menjadi sorotan di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hingga perdagangan Selasa (3/3), IHSG masih bergerak dalam tren turun setelah masuk area Fibonacci 7.989–7.866.

Secara teknikal, IHSG terkonfirmasi masih berada dalam fase downtrend. Garis trendline belum berhasil ditembus, sehingga potensi pelemahan lanjutan tetap terbuka. Di tengah situasi geopolitik global yang memanas, pelaku pasar diminta tetap waspada agar portofolio tidak ikut “kacau balau”.

Analisis Saham BUMI: Distribusi Asing Masih Dominan

Dalam analisis saham BUMI, pergerakan harga sempat gap up di awal sesi, namun mengalami rejection di area Fibonacci. Meski ditutup menguat 1,61 persen, volume perdagangan masih relatif rendah dan belum menunjukkan sinyal reversal kuat.

Baca Juga: Rekomendasi Saham 4 Maret 2026: IHSG Terancam Uji 7.870, BBCA, BBRI, BMRI hingga Antam Jadi Sorotan Asing

Data transaksi menunjukkan broker MG dan AK melakukan distribusi besar. Pada 3 Maret, MG tercatat menjual lebih dari Rp100 miliar. Sementara dari akumulasi sejak 20 Februari, AK telah melepas sekitar 11 juta lot senilai Rp313 miliar.

Beberapa broker seperti CC, NI, dan OD terlihat menampung, namun rata-rata masih dalam posisi floating loss. Artinya, tekanan jual belum sepenuhnya mereda. Jika asing belum kembali agresif mengakumulasi, pergerakan BUMI berpotensi sideways hingga distribusi selesai.

Energy Retest Support, AK Masih Floating Profit

Saham Energy yang sebelumnya breakout kini memasuki fase retest area support di kisaran 2.080. Tekanan jual muncul karena aksi ambil untung, terutama dari broker MG dan PD.

Namun menariknya, AK tercatat masih menyimpan rata-rata harga di 1.650 dengan posisi floating profit sekitar 29 persen. Kondisi ini membuat AK relatif tenang dan belum agresif mendorong harga. Jika retest berhasil bertahan, peluang kenaikan lanjutan tetap terbuka.

Baca Juga: Bitcoin 3 Maret 2026 Menguat di Tengah Konflik Iran, Tembus 69.500 Jadi Kunci Rally ke 72.000?

Dewa dan Antam: Uji Support Kuat

Saham Dewa tertahan di area Fibonacci sekaligus support kuat. Volume jual asing relatif tipis, membuka peluang barang segera habis dan berbalik akumulasi.

Sementara itu, saham Aneka Tambang atau Antam terkoreksi 4 persen setelah harga emas dunia melemah. Padahal sebelumnya saham ini sempat gap up. Tekanan jual didominasi asing, khususnya AK yang melepas sebagian kepemilikannya dengan posisi masih floating profit sekitar 9 persen.

Support terdekat Antam berada di area 4.240–3.930. Area ini menjadi zona krusial untuk diamati karena sebelumnya berfungsi sebagai resistance kuat.

Raja, Mina, hingga Buva: Pola Doji dan Akumulasi AK

Saham Raja berhasil breakout dan kini retest support di kisaran 4.600. Volume turun saat harga melemah menjadi anomali positif yang bisa memicu rebound.

Baca Juga: Bitcoin 3 Maret 2026 Menguat di Tengah Konflik Iran, Tembus 69.500 Jadi Kunci Rally ke 72.000?

Mina membentuk doji di area support kuat. Secara transaksi, AK justru masuk cukup besar saat retail keluar. Ini mengindikasikan potensi akumulasi diam-diam.

Buva juga mencatat pola serupa. AK masuk Rp28 miliar, meski AZ melakukan distribusi. Karakter AK yang cenderung trader membuat pergerakan saham ini berpotensi fluktuatif dalam jangka pendek.

INET hingga Medco: Waspada Distribusi

INET bergerak doji di area support 312. AK terlihat mulai akumulasi sejak 2 Maret. Jika trendline berhasil ditembus, peluang technical rebound cukup menarik.

Berbeda dengan Medco yang justru menunjukkan sinyal distribusi. AK dan DR tercatat sebagai penjual utama, sementara buyer didominasi retail dengan daya dorong terbatas. Jika distribusi berlanjut, harga berpotensi menguji support 1.715.

Baca Juga: PKH dan BPNT Tak Cair Berbulan-bulan, Penyandang Disabilitas Datangi Dinsos Tulungagung, Soroti Perubahan Desil

BBCA dan BBRI: Area Support Jadi Penentu

Saham Bank Central Asia (BBCA) ditutup naik 0,71 persen dan berada di area support kuat. Kemunculan candle mirip doji membuka peluang pembalikan arah jika trendline jangka pendek berhasil ditembus.

Sebaliknya, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun 1,31 persen dan mendekati support historisnya. Area ini telah beberapa kali menjadi titik pantulan. Apakah kali ini mampu bertahan atau justru jebol, menjadi perhatian pelaku pasar.

Saham Perkapalan dan GTSI Melonjak

Saham perkapalan Humi melonjak hampir 20 persen setelah memantul dari support. AK dan MG tercatat sebagai buyer dominan, sementara retail justru keluar. Dengan floating profit AK masih tipis sekitar 3 persen, potensi dorongan lanjutan masih terbuka selama belum ada aksi jual besar.

GTSI juga menunjukkan akumulasi signifikan dari AK. Jika resistance 330 ditembus, peluang menuju 376 semakin besar.

Secara keseluruhan, pasar masih bergerak selektif. IHSG yang belum keluar dari tren turun membuat strategi wait and see serta disiplin pada support-resistance menjadi kunci utama dalam membaca peluang.

Baca Juga: Update BMKG 4 Maret 2026: Tiga Bibit Siklon Muncul, Hujan Lebat Ancam Jawa hingga NTT

Editor : Kirana Meigita Luciana Rani
#Saham Antam #Analisis Saham Bumi #Saham BBCA