Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bitcoin Tembus USD 72.000 dan Bertahan di 73.500, Analis Prediksi Potensi Rally ke 83.000 di Tengah Gejolak Geopolitik

Kirana Meigita Luciana Rani • Kamis, 5 Maret 2026 | 10:37 WIB

Bitcoin tembus USD 72.000 dan bertahan di 73.500. Analis prediksi potensi rally hingga USD 83.000 di tengah geopolitik dan inflow ETF.
Bitcoin tembus USD 72.000 dan bertahan di 73.500. Analis prediksi potensi rally hingga USD 83.000 di tengah geopolitik dan inflow ETF.

RADAR TULUNGAGUNG-  Pergerakan Bitcoin tembus USD 72.000 menjadi sorotan pasar kripto global pada perdagangan awal Maret 2026. Setelah mengalami konsolidasi panjang sejak awal Februari, aset kripto terbesar di dunia ini akhirnya berhasil melakukan breakout dan kini diperdagangkan di kisaran USD 73.500 menjelang penutupan harian.

Lonjakan tersebut memicu optimisme baru di kalangan trader dan investor kripto. Banyak analis menilai breakout ini sebagai sinyal teknikal positif yang berpotensi membuka peluang kenaikan lebih lanjut dalam jangka pendek.

Namun di sisi lain, kondisi makroekonomi global, konflik geopolitik di Timur Tengah, hingga data ekonomi Amerika Serikat masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi arah pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga: BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Cepat dan Lebih Kering, 46,5 Persen Zona Musim Masuk Kemarau Lebih Awal

Breakout Setelah Konsolidasi Panjang

Sebelum Bitcoin tembus USD 72.000, aset digital ini bergerak sideways cukup lama sejak 6 Februari 2026. Selama hampir satu bulan, harga Bitcoin tertahan di bawah level psikologis tersebut dan membentuk pola konsolidasi yang ketat.

Namun pada perdagangan terbaru, pola triangle yang terbentuk akhirnya berhasil ditembus. Breakout tersebut langsung diikuti kenaikan harga hingga sekitar USD 73.500.

Secara teknikal, kondisi ini dianggap sebagai indikasi bullish dalam jangka pendek. Struktur pasar saat ini juga menunjukkan pola higher high dan higher low, yang biasanya menjadi sinyal tren naik.

Meski demikian, analis tetap mengingatkan investor agar tidak terburu-buru melakukan pembelian karena kemungkinan koreksi masih terbuka.

Baca Juga: BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Cepat dan Lebih Kering, 46,5 Persen Zona Musim Masuk Kemarau Lebih Awal

Target Bitcoin Berpotensi ke USD 83.000

Jika momentum kenaikan berlanjut, target berikutnya yang menjadi perhatian analis adalah level USD 83.000. Level ini bertepatan dengan area CME gap yang belum tertutup sejak awal Februari 2026.

CME gap merupakan celah harga pada kontrak berjangka Bitcoin yang sering kali menjadi magnet bagi pergerakan harga.

Bila Bitcoin mampu mempertahankan tren bullish, peluang untuk menutup gap tersebut dinilai cukup besar.

Namun skenario ini tetap bergantung pada kekuatan pasar. Jika terjadi koreksi, area support penting berada di kisaran USD 70.000 hingga USD 69.300.

Area tersebut dinilai sebagai zona menarik bagi investor untuk kembali melakukan akumulasi apabila terjadi penurunan harga.

Baca Juga: Dari Hobi Rekam Pakai HP Jadul, Bagus Setya Kini Tekuni Jasa Wedding dan Konten Kreatif di Tulungagung

Arus Dana Masuk ke Bitcoin ETF Meningkat

Sentimen positif terhadap Bitcoin juga terlihat dari meningkatnya aliran dana ke produk Bitcoin Spot ETF.

Data terbaru menunjukkan inflow sekitar USD 225 juta masuk ke ETF Bitcoin pada 3 Maret 2026. Bahkan dalam enam hari terakhir, sebagian besar perdagangan mencatat arus masuk di atas USD 100 juta.

Hal ini menunjukkan bahwa investor institusional mulai kembali percaya terhadap prospek pasar kripto.

Sementara itu, Ethereum Spot ETF masih mencatat arus keluar sekitar USD 10 juta. Adapun ETF kripto lain seperti XRP dan Solana mencatat inflow yang relatif kecil namun tetap positif.

Baca Juga: Angin Kencang Terjang Tulungagung, 91 Rumah Rusak di Boyolangu, Kedungwaru, dan Sumbergempol

Geopolitik Timur Tengah Picu Ketidakpastian Pasar

Di luar faktor teknikal, kondisi geopolitik global juga memberi pengaruh besar terhadap pasar keuangan.

Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah Iran meluncurkan rudal hipersonik ke beberapa target militer Israel.

Selain itu, penutupan Selat Hormuz juga memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia. Jalur strategis tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak global.

Jika penutupan berlangsung lama, analis memperkirakan harga minyak dunia bisa melonjak hingga 13 persen dari level saat ini yang berada di sekitar USD 76 per barel.

Lonjakan harga energi berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan global, termasuk pasar kripto.

Baca Juga: Ramalan Bencana 2026 Bikin Geger! Anak Indigo Sebut Banjir, Letusan Gunung hingga Gempa Besar Mengintai

Investor Legendaris Masih Skeptis Terhadap Bitcoin

Meski harga Bitcoin menunjukkan pemulihan, tidak semua investor besar sepenuhnya yakin terhadap prospeknya.

Investor legendaris Ray Dalio, pendiri hedge fund Bridgewater Associates, menyatakan bahwa Bitcoin belum bisa dianggap sebagai penyimpan nilai jangka panjang seperti emas.

Menurutnya, hingga saat ini hanya ada satu aset yang benar-benar memenuhi kriteria tersebut, yakni emas.

Dalio juga menilai bahwa dalam situasi geopolitik yang tidak stabil, emas justru mencetak rekor harga baru, sementara Bitcoin masih menunjukkan volatilitas tinggi.

Baca Juga: Ramalan Bencana 2026 Viral! Prediksi Anak Indigo Sebut Indonesia Diterpa Rentetan Musibah Besar

Potensi Kenaikan Masih Terbuka

Secara keseluruhan, pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan momentum positif setelah berhasil menembus resistance penting.

Namun analis menilai kenaikan ini masih bersifat rebound jangka pendek, bukan perubahan tren besar.

Jika momentum tetap kuat, Bitcoin berpeluang menuju USD 83.000. Tetapi jika terjadi tekanan jual, harga masih berpotensi kembali menguji support di kisaran USD 70.000.

Dengan kondisi pasar yang dipengaruhi faktor makroekonomi dan geopolitik, investor disarankan tetap berhati-hati dan menghindari keputusan investasi yang didorong oleh FOMO.

Baca Juga: JJMN dan PT Bogor Ekspres Media Ajukan Banding, Putusan PN Bogor Dinilai Belum Inkrah

Editor : Kirana Meigita Luciana Rani
#ETF Bitcoin #Bitcoin #Analisis Bitcoin Maret 2026