Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IHSG Turun Dalam Jelang Lebaran 2026, Analis Pasar Sebut Investor Harus Waspada dan Siapkan Strategi Bertahan

Manda Dwi Agustin • Senin, 9 Maret 2026 | 11:07 WIB

IHSG turun dalam jelang Lebaran 2026. Investor disarankan evaluasi portofolio dan siapkan strategi bertahan saat pasar saham melemah.
IHSG turun dalam jelang Lebaran 2026. Investor disarankan evaluasi portofolio dan siapkan strategi bertahan saat pasar saham melemah.

 

RADAR TULUNGAGUNG – Pergerakan IHSG turun cukup dalam dalam sepekan terakhir menjelang libur panjang Lebaran 2026. Kondisi ini membuat banyak investor ritel merasakan tekanan pada portofolio saham mereka. Bahkan, tidak sedikit yang melihat nilai investasi mengalami penurunan signifikan.

Data pergerakan pasar menunjukkan bahwa IHSG turun cukup tajam dalam periode perdagangan awal Maret 2026.

Dalam rentang 3 hingga 7 Maret, indeks saham acuan tersebut mengalami koreksi lebih dalam dibandingkan pekan sebelumnya.

Penurunan tersebut membuat sebagian investor mulai mengevaluasi kembali strategi investasi mereka.

Baca Juga: IHSG Disebut Mulai Reversal, Saham Antam dan BUMI Ramai Dibahas Analis: Begini Fakta Pergerakan Saham di Bursa

Pengamat pasar saham menyebut kondisi IHSG turun seperti saat ini sebenarnya bukan hal baru dalam siklus pasar.

Namun, investor tetap harus memperhatikan manajemen risiko agar tidak terjebak dalam kerugian yang lebih besar.

Evaluasi Portofolio Saat Pasar Melemah

Ketika pasar sedang mengalami tekanan, investor disarankan untuk mengevaluasi portofolio mereka secara menyeluruh. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membandingkan penurunan portofolio dengan pergerakan indeks pasar.

Jika penurunan nilai portofolio lebih dalam dibandingkan koreksi IHSG, maka ada kemungkinan saham yang dimiliki memiliki risiko lebih tinggi atau berada dalam tren turun.

Sebaliknya, jika penurunan portofolio masih lebih baik dibandingkan pergerakan indeks pasar, maka hal tersebut menandakan saham yang dimiliki masih relatif kuat.

Baca Juga: Dividen Saham BBRI Berpotensi Naik? RUPS April 2026 Akan Tentukan Payout Ratio, TASPEN Tegaskan Kabar Kenaikan Pensiun dan Rapelan Belum Ada Keputusan

“Investor harus melihat apakah saham yang mereka pegang membuat titik terendah baru atau tidak,” ujar analis pasar saham dalam analisis mingguannya.

Waspadai Saham yang Membuat New Low

Salah satu indikator penting dalam kondisi pasar yang sedang turun adalah munculnya saham-saham yang terus membuat new low atau harga terendah baru.

Saham dengan kondisi seperti ini berpotensi mengalami tekanan lebih dalam jika tren pasar belum berbalik. Karena itu, investor disarankan mempertimbangkan kembali posisi mereka di saham tersebut.

Strategi yang bisa dilakukan antara lain mengurangi sebagian posisi saham atau keluar sementara dari pasar untuk menjaga likuiditas.

Langkah ini bertujuan agar investor memiliki dana tunai yang cukup ketika pasar mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Simpan Cash untuk Peluang Berikutnya

Selain melakukan evaluasi portofolio, investor juga disarankan untuk tetap menyimpan sebagian dana dalam bentuk cash.

Strategi ini penting karena pasar saham selalu bergerak dalam siklus naik dan turun. Ketika pasar sedang terkoreksi, harga saham berkualitas biasanya ikut turun dan membuka peluang untuk dibeli pada harga lebih rendah.

Dengan memiliki dana tunai, investor bisa memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan pembelian kembali ketika pasar mulai stabil.

Baca Juga: Rekomendasi Saham INDF Hari Ini: Speculative Buy di Area 6.200–6.300, Target Resistance 6.600

Strategi ini juga membantu investor menurunkan harga rata-rata pembelian saham atau yang dikenal dengan istilah average down.

Pasar Diprediksi Akan Pulih

Meskipun saat ini kondisi pasar sedang tidak ideal, para analis menilai bahwa fase penurunan ini tidak akan berlangsung selamanya.

Dalam sejarah pasar saham, setiap fase penurunan biasanya akan diikuti oleh fase pemulihan yang sering kali memberikan peluang keuntungan lebih besar.

Karena itu, investor disarankan untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan berdasarkan emosi.

“Kunci bertahan di pasar saham bukan hanya soal berapa besar keuntungan yang didapat, tetapi seberapa kuat investor mampu bertahan ketika pasar sedang sulit,” ujar analis tersebut.

Dengan strategi yang tepat dan manajemen risiko yang baik, investor diharapkan tetap mampu memanfaatkan peluang di pasar saham meskipun kondisi IHSG turun menjelang libur panjang Lebaran.

 

Editor : Manda Dwi Agustin
#harga saham #pasar saham anjlok #ihsg melemah