RADAR TULUNGAGUNG – Prediksi penurunan IHSG kembali menjadi sorotan setelah seorang analis pasar menyebut potensi market crash bisa terjadi dalam waktu dekat. Bahkan, indeks harga saham gabungan itu diperkirakan dapat jatuh hingga berada di bawah level 6.500.
Prediksi tersebut disampaikan dalam sebuah video analisis pasar yang beredar di YouTube.
Dalam pernyataannya, ia menyebut kondisi ekonomi global dan sejumlah faktor geopolitik berpotensi memberi tekanan kuat terhadap IHSG dalam waktu dekat.
Menurutnya, penurunan IHSG yang sempat terjadi beberapa waktu terakhir belum mencapai titik terendah atau bottom.
Tekanan terhadap pasar saham Indonesia disebut masih berlanjut sehingga investor diminta bersiap menghadapi volatilitas pasar yang tinggi.
“Kalau melihat situasi sekarang, IHSG kemungkinan belum mencapai bottom. Tekanan terhadap market masih akan berlangsung,” ujarnya dalam video tersebut.
Prediksi IHSG Turun Hingga 6.000
Dalam analisanya, ia memperkirakan IHSG berpotensi turun hingga kisaran 6.000 hingga 6.500. Level tersebut disebut sebagai skenario realistis apabila tekanan terhadap pasar global terus meningkat.
Penurunan ini tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga situasi geopolitik internasional, terutama yang berkaitan dengan perdagangan energi dunia.
Salah satu skenario yang disebut dapat memicu gejolak pasar adalah potensi gangguan distribusi minyak global, misalnya jika jalur strategis seperti Selat Hormuz mengalami gangguan.
Menurutnya, jika jalur tersebut terganggu, harga minyak dunia bisa melonjak hingga lebih dari 100 dolar per barel.
Kondisi itu berpotensi memberi dampak besar bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.
“Jika harga minyak naik drastis, dampaknya bisa besar bagi ekonomi negara yang masih bergantung pada energi fosil,” jelasnya.
Dampak terhadap Ekonomi Nasional
Lonjakan harga energi disebut dapat memicu kenaikan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang harus ditanggung pemerintah.
Dalam perhitungannya, potensi tambahan beban anggaran negara bisa mencapai ratusan triliun rupiah.
Sebelumnya, ia memperkirakan kerugian negara minimal bisa mencapai sekitar Rp135 triliun jika harga minyak melonjak tajam.
Namun dalam kondisi terburuk, angka tersebut bisa meningkat lebih tinggi apabila harga energi terus mengalami kenaikan dalam waktu lama.
“Kalau harga minyak naik tinggi, beban subsidi bisa semakin besar dan berdampak ke defisit anggaran,” katanya.
Saham Perbankan Juga Terancam
Selain IHSG, ia juga menyoroti potensi tekanan pada saham sektor perbankan, khususnya bank swasta besar di Indonesia.
Menurutnya, apabila indeks saham benar-benar turun ke bawah level 6.500, saham perbankan besar juga berpotensi mengalami koreksi signifikan.
Ia bahkan memperkirakan saham bank swasta terbesar di Indonesia bisa turun hingga di bawah level 5.500 jika tekanan pasar terus berlanjut.
Baca Juga: Rekomendasi Saham Terbaru Maret 2026: Strategi Candle Hammer dan Dividen Besar dari STS Rekomendasi
Meski demikian, prediksi tersebut tetap bergantung pada dinamika ekonomi global dan respons kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Investor Diminta Waspada
Dalam situasi pasar yang penuh ketidakpastian, investor diimbau untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Volatilitas pasar disebut dapat meningkat dalam beberapa waktu ke depan, terutama jika faktor eksternal seperti konflik geopolitik, harga energi, hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin kuat.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi seperti ini pernah terjadi sebelumnya dalam siklus ekonomi global.
Menurutnya, gejolak pasar besar biasanya terjadi dalam rentang waktu tertentu dan bisa menjadi momentum bagi investor yang mampu membaca peluang.
“Situasi seperti ini jarang terjadi. Bisa saja hanya muncul setiap 20 atau 30 tahun sekali,” ujarnya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa kondisi pasar yang bergejolak tidak selalu berarti buruk bagi investor.
Baca Juga: IHSG Turun Dipicu Konflik Iran-AS: Investor Retail Perlu Waspada Panic Selling Senin Ini
Dalam beberapa kasus, koreksi tajam di pasar saham justru membuka peluang bagi investor untuk membeli aset dengan harga yang lebih murah.
Karena itu, investor disarankan untuk tetap memantau perkembangan ekonomi global serta kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi stabilitas pasar.
Dengan berbagai faktor yang masih berkembang, pergerakan IHSG dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan masih akan dipenuhi ketidakpastian.
Investor pun diminta tetap tenang, tidak panik, serta mempertimbangkan strategi investasi secara matang sebelum mengambil keputusan di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Editor : Manda Dwi Agustin