Harga Emas Dunia Melonjak Hampir 2 Persen, Investor Beralih ke Safe Haven
RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – Harga emas dunia kembali menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan terbaru. Kenaikan harga emas dunia ini dipicu oleh melemahnya dolar Amerika Serikat serta turunnya harga minyak global yang meredakan kekhawatiran inflasi.
Berdasarkan laporan pasar global, harga emas dunia di pasar spot melonjak sekitar 1,9 persen dan mencapai level 5.231 dolar AS per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup naik lebih tinggi, yakni 2,7 persen ke level 5.240 dolar AS per ons.
Lonjakan harga emas dunia tersebut memperkuat posisi logam mulia sebagai aset safe haven yang banyak diburu investor ketika pasar keuangan global diliputi ketidakpastian.
Baca juga:Melemahnya Dolar AS Dorong Permintaan Emas
Kenaikan harga emas dunia juga didorong oleh pelemahan indeks dolar Amerika Serikat. Ketika dolar melemah, harga emas biasanya menjadi lebih menarik bagi investor global karena logam mulia tersebut diperdagangkan menggunakan mata uang dolar.
Indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama tercatat turun sekitar 0,1 persen ke level 98,74. Pelemahan ini meningkatkan minat investor terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai.
Di sisi lain, nilai tukar euro tercatat relatif stabil di sekitar 1,16 dolar AS setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah lebih dari tiga bulan di kisaran 1,15 dolar AS.
Sementara itu, dolar AS justru menguat tipis sekitar 0,1 persen terhadap yen Jepang dan berada di level 157,78 yen per dolar.
Para analis menyebutkan bahwa fluktuasi nilai tukar mata uang global sering kali berpengaruh langsung terhadap pergerakan harga emas dunia.
Baca juga:Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari 11 Persen
Selain faktor dolar, pergerakan harga emas dunia juga dipengaruhi oleh dinamika harga minyak global. Pada perdagangan Selasa, harga minyak mentah mengalami penurunan tajam lebih dari 11 persen.
Minyak mentah Brent ditutup melemah hingga sekitar 11 persen menjadi 78 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok sekitar 11,9 persen ke level 83,45 dolar AS per barel.
Penurunan tersebut menjadi salah satu koreksi harian terbesar sejak tahun 2022.
Koreksi harga minyak terjadi setelah sebelumnya sempat melonjak hingga menembus lebih dari 119 dolar AS per barel. Lonjakan tersebut dipicu oleh kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan pasokan global.
Namun kekhawatiran itu mulai mereda setelah muncul sinyal bahwa konflik di Timur Tengah kemungkinan tidak akan berlangsung terlalu lama.
Baca juga:Pernyataan Donald Trump Pengaruhi Sentimen Pasar
Sentimen pasar global juga dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik di Timur Tengah. Trump memprediksi bahwa perang melawan Iran dapat segera berakhir sehingga menurunkan kekhawatiran pasar mengenai gangguan pasokan minyak dalam jangka panjang.
Namun demikian, Trump juga menegaskan bahwa konflik masih berpotensi berlangsung lebih lama setelah Iran mengalami serangan besar.
Ketidakpastian geopolitik tersebut membuat investor terus memantau perkembangan situasi karena dapat berdampak pada pasar komoditas global, termasuk emas dan minyak.
Selain itu, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyatakan bahwa militer AS membantu memfasilitasi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz untuk menjaga stabilitas pasokan energi global.
Langkah tersebut turut memberikan sentimen positif bagi pasar energi sehingga harga minyak mengalami koreksi.
Baca juga:Emas Tetap Jadi Aset Aman
Dalam kondisi pasar yang bergejolak, emas tetap menjadi salah satu aset yang paling diminati oleh investor global. Logam mulia ini sering digunakan sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, ketidakpastian ekonomi, hingga risiko geopolitik.
Ketika dolar melemah dan pasar komoditas mengalami volatilitas tinggi, investor cenderung meningkatkan kepemilikan emas untuk menjaga stabilitas nilai aset mereka.
Kenaikan harga emas dunia kali ini juga menunjukkan bahwa permintaan terhadap logam mulia masih cukup kuat di tengah dinamika ekonomi global.
Para analis memperkirakan pergerakan harga emas dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik, kebijakan moneter Amerika Serikat, serta pergerakan nilai tukar dolar.
Jika ketidakpastian global terus meningkat, maka potensi kenaikan harga emas dunia masih terbuka dalam beberapa waktu ke depan.
Editor : Ayu Dhea Cheryl