Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Purbaya Yudhi Sadewa Bongkar Rahasia Kelola Keuangan Pribadi dan Negara, Strategi Anti-Flexing untuk Investasi Gen Z

Iqbal Pangestu • Selasa, 11 November 2025 | 01:00 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa menjelaskan strategi Kelola Keuangan dan pentingnya Anti-Flexing saat berbelanja untuk Gen Z.
Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa menjelaskan strategi Kelola Keuangan dan pentingnya Anti-Flexing saat berbelanja untuk Gen Z.

RADAR TULUNGAGUNG - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membagikan panduan komprehensif untuk mengelola aset dan anggaran.

Panduan ini mencakup strategi Kelola Keuangan pribadi hingga kebijakan ekonomi negara.

Beliau menekankan pentingnya disiplin dalam mengendalikan dorongan membeli barang dan menerapkan prinsip Anti-Flexing di media sosial.

Baca Juga: Ambisi Besar 2026, Kementerian Keuangan Purbaya Dorong RUU Redenominasi Rupiah Target Selesai Tiga Tahun

Prinsip ini sangat diperlukan untuk menghindari Utang Konsumsi yang berbahaya bagi kaum Investasi Gen Z.

Menurut Purbaya Yudhi Sadewa, fokus utama harus dimulai dari menjaga kesehatan karena itu adalah investasi jangka panjang.

Beliau menjamin inflasi akan dijaga di bawah 3% sehingga kenaikan harga tidak terlalu signifikan.

Kesehatan yang cukup, gizi, dan istirahat perlu diperhatikan sebagai fondasi investasi yang harus dilakukan.

Baca Juga: Sosok Bung Tomo, Pahlawan Surabaya di Balik Gema Semangat 10 November 1945, Dikenal Berpikiran Kritis Sejak Kecil

Jika Anda masih hidup bersama orang tua, tabungan idealnya bisa mencapai 50% dari gaji bulanan.

Bagi yang sudah mandiri, targetkan menabung minimal 30% dari penghasilan setiap bulan.

Uang yang ditabungkan bisa ditaruh di tabungan atau deposito.

Deposito dianggap instrumen investasi yang paling gampang karena dananya cepat cair.

Bunganya mestinya sedikit di atas inflasi untuk melindungi dari kenaikan harga umum.

Jika punya uang lebih, sebagian bisa dialihkan ke investasi seperti emas sebagai hedge terhadap kenaikan harga.

Setelah deposito, urutan selanjutnya adalah obligasi pemerintah retail, reksadana, atau saham.

Obligasi berada di urutan kedua karena harganya bisa naik turun.

Jika butuh uang jangka pendek, risiko kerugian obligasi bisa terjadi saat harga turun.

Baca Juga: Blokir Besar-besaran, Purbaya Yudhi Sadewa Teken Langkah Tegas Hentikan Penjualan Thrifting di E-Commerce

Kalau mau yang lebih agresif, pelajari mutual fund atau reksadana saham.

Jika sudah mulai jago, boleh langsung berinvestasi di pasar saham secara langsung.

Waspada terhadap investasi yang menawarkan keuntungan terlalu tinggi dan dijamin pasti karena itu adalah kebohongan.

Keuntungan yang bisa dijamin hanya deposito atau suku bunga tabungan bank.

Jika penghasilan pas-pasan dan punya utang, prioritas utama adalah melunasi utang tersebut dulu.

Baca Juga: Tiga Bansos Cair Sekaligus November 2025! PKH, BPNT, dan BLT Kesra Sudah Masuk ke Rekening KPM

Ini dilakukan jika bunga utang lebih tinggi daripada potensi return investasi yang didapat.

Belanja harus sesuai kebutuhan dan bukan untuk pamer kepada teman atau flexing.

Berutang untuk tujuan konsumsi adalah tanda belanja di luar kemampuan finansial.

Produk PayLater disebut sebagai produk jebakan yang merayu orang untuk belanja barang yang tidak diperlukan.

Gunakan PayLater atau kartu kredit hanya dalam keadaan terpaksa atau kepepet.

Bagi yang bergaji UMR (sekitar Rp 5,4 juta di Jakarta), penting mengendalikan pengeluaran makan sehari-hari.

Masak sendiri dan membawa bekal akan menghemat biaya secara signifikan.

Dengan menghemat pengeluaran makan, anak muda bisa menabung hingga 20% sampai 30% dari gaji UMR.

Target Rp100 juta pertama bisa tercapai dalam waktu sekitar dua tahun.

Dalam konteks keuangan negara, anggaran harus dibelanjakan sesuai desainnya agar ekonomi tidak lambat.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Optimistis Ekonomi Indonesia Tetap Stabil, Asal Memperkuat Permintaan Domestik

Pemerintah berprinsip menjaga pertumbuhan ekonomi di atas potensial, targetnya 7% dalam tiga tahun ke depan.

Indonesia menjaga rasio defisit ke PDB di bawah 3% dan rasio utang ke PDB di bawah 40%.

Standar ini jauh lebih aman dibandingkan acuan ketat yang dipakai di Eropa.

Di pasar finansial, tidak ada kata terlambat untuk memulai investasi.

Jangan takut ketinggalan (FOMO) karena kesempatan selalu ada di pasar modal.

Kuncinya adalah pelajari instrumen investasi dan faktor yang mempengaruhinya agar tidak rugi.

Ilmu pengetahuan dasar yang kuat adalah kunci untuk menghindari kerugian besar.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Gen Z #anti flexing #Purbaya Yudhi Sadewa #kelola keuangan #Purbaya