RADAR TULUNGAGUNG - Wilayah Campurdarat sejak lama dikenal sebagai pusat industri dan kerajinan marmer di Tulungagung.
Keberadaan proyek nasional seperti Jalur Lintas Selatan (JLS) diharapkan bisa semakin menggenjot industri yang banyak menyerap tenaga kerja lokal di Tulungagung ini.
Camat Campurdarat, Tri Wantoro, menjelaskan bahwa geliat industri marmer di wilayahnya tetap berlangsung stabil bahkan terus meningkat.
Terlebih setelah infrastruktur JLS dibangun dan diakses masyarakat maupun wisatawan dari dalam maupun luar Tulungagung.
“Pengrajin ini tetap eksis dengan dibangunnya infrastruktur jalan JLS. Ini untuk pariwisata, kunjungan, mampir, untuk beli oleh-oleh kerajinan marmer. Sehingga industri ini tetap eksis,” ungkapnya.
Menurut Tri Wantoro, mayoritas masyarakat Campurdarat memang menggantungkan penghasilan pada industri marmer.
Selain memanfaatkan bahan baku lokal, sebagian pengrajin juga mendatangkan bahan dari luar daerah karena ragam jenis batu yang dibutuhkan cukup beragam. “Banyak potensi. Bahan bakunya mungkin juga dari luar, karena macam-macam jenis batu,” jelasnya.
Ia juga berharap ke depan Campurdarat dapat berkembang menjadi kawasan wisata oleh-oleh khas marmer.
Terlebih dengan dibukanya akses JLS yang memudahkan mobilitas wisatawan. “Harapannya seperti itu, karena dibukanya JLS juga kan harapannya lewat industri kerajinan marmer ini,” ujarnya.
Menariknya, meskipun produksi banyak dilakukan di Tulungagung, pasar terbesar kerajinan marmer justru berada di luar negeri.
Produk lokal ini dinilai memiliki kualitas tinggi dan diminati pasar internasional. “Malah justru banyak di luar negeri. Kualitas marmer Tulungagung ini bagus,” tambahnya.
Tri Wantoro berharap potensi besar ini dapat terus mengharumkan nama Tulungagung, selaras dengan visi-misi Bupati Tulungagung untuk menjadikan daerah ini semakin maju dan dikenal luas.
“Harapannya Tulungagung makin maju, makin dikenal di seluruh nusantara maupun regional dan nasional. Tentunya dibutuhkan kolaborasi semua pihak, masyarakat dan pemerintah,” pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana