RADAR TULUNGAGUNG – Menjelang krisis 2030, peringatan tentang ketahanan finansial kembali muncul ke permukaan.
Di tengah perubahan ekonomi global yang serba cepat, banyak orang bekerja keras bertahun-tahun namun tetap kembali ke titik nol saat terjadi guncangan ekonomi.
Dalam sebuah penjelasan yang kini viral di YouTube, seorang pengamat keuangan membeberkan lima jenis aset yang justru berbahaya jika disimpan terlalu lama menjelang krisis 2030.
Fenomena naik turunnya ekonomi disebut bukan lagi siklus biasa. Tekanan yang muncul dinilai mirip permulaan resesi besar, dengan potensi memicu perubahan struktur pekerjaan, kenaikan harga-harga, hingga melemahnya nilai uang.
Karena itu, sebelum melangkah ke krisis 2030, ada aset-aset yang harus diwaspadai agar tidak justru menyeret pemiliknya ke situasi finansial yang lebih buruk.
Baca Juga: Reset Ekonomi 2025: Narasi Mencengangkan soal Peralihan Global ke Emas yang Mulai Terbukti
Cash Terlalu Banyak, Aset yang Tampak Aman Tapi Paling Berbahaya
Banyak orang menyimpan uang tunai karena dianggap sebagai tempat yang paling aman. Namun dalam era inflasi tinggi, cash justru bisa menjadi racun. Inflasi digambarkan sebagai maling yang bekerja diam-diam—menggerus nilai uang sedikit demi sedikit tanpa terasa.
Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dari tahun ke tahun menjadi contoh jelas bagaimana daya beli uang terus menyusut. Jika inflasi makin parah saat krisis 2030, uang tunai yang disimpan terlalu lama akan kehilangan nilainya lebih cepat.
Pakar tersebut menegaskan bahwa cash tetap penting sebagai dana darurat enam hingga dua belas bulan.
Namun jika porsinya melebihi 40 persen dari total aset, yang terjadi justru uang “dimakan waktu”. Di tengah resesi global, menyimpan terlalu banyak cash dianggap memperbesar risiko finansial.
Barang Konsumtif: Aset Palsu yang Menguras Dompet
Jenis aset kedua yang perlu dihindari adalah barang konsumtif yang nilainya terus turun. Barang-barang seperti gadget baru, sepatu mahal, koleksi fashion branded, hingga furniture mewah sering dianggap sebagai aset, padahal secara finansial tidak memberikan keuntungan apa pun.
Barang konsumtif hanya memberikan kesan kaya secara visual. Namun pada krisis, harga barang-barang ini hancur.
Pasar sepi, orang hanya fokus memenuhi kebutuhan dasar, dan keinginan membeli barang mewah menurun drastis. Alhasil barang yang dulunya mahal bisa turun harga hingga 80 persen.
Masalah bertambah jika pembelian dilakukan dengan cicilan. Nilai barang turun, tetapi cicilan dan bunga tetap berjalan—membuat pemiliknya semakin rentan saat krisis 2030.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Rp6.000, Peluang Emas Murah dan Buyback Terbaik di Galeri 24
Aset Mahal yang Tidak Produktif dan Makan Biaya
Contoh lainnya adalah mobil mewah yang jarang dipakai, motor koleksi, properti kosong, hingga tanah di lokasi terpencil. Aset semacam ini memerlukan biaya perawatan rutin seperti pajak, listrik, keamanan, hingga renovasi kecil.
Dalam kondisi normal mungkin masih bisa ditanggung, tetapi saat tekanan ekonomi meningkat, aset tidak produktif hanya menjadi beban.
Banyak orang terjebak dalam ilusi aset, bangga memiliki banyak properti atau kendaraan, padahal biaya yang keluar lebih besar dari pemasukan.
Krisis membuat pendapatan menurun, sementara biaya perawatan tetap berjalan. Jika aset tidak dapat menghasilkan uang, pemiliknya mudah terdorong ke masalah finansial lebih berat.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini 10 Desember 2025: Harga Emas Antam Turun, UBS Naik, Galeri 24 Ikut Terkoreksi
Bisnis yang Tidak Adaptif Menjelang Era Digital
Aset terakhir yang patut diwaspadai adalah bisnis lama yang tidak beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Di era digital, pola konsumsi berubah cepat. Orang belanja lewat ponsel, membayar lewat QR, memesan makanan lewat aplikasi, hingga menyewa jasa secara online.
Bisnis yang tak mengikuti perkembangan digital, hanya mengandalkan lokasi fisik, memiliki produk terbatas, atau tidak mendapatkan pelanggan baru selama setahun, dinilai memasuki fase kritis.
Menjelang krisis 2030, perubahan perilaku konsumen terjadi lebih cepat. Mereka lebih hemat, banyak membandingkan harga, mengutamakan praktis, dan lebih percaya review online.
Jika bisnis tidak adaptif, kompetitor akan menyalip tanpa perlu usaha besar. Adaptasi bukan soal modal atau umur bisnis, tetapi soal kemampuan berubah cepat.
Pakar tersebut mengingatkan agar pemilik usaha jujur menilai relevansi bisnisnya. Banyak usaha sebenarnya sudah “sekarat”, tetapi pemiliknya tetap mempertahankan karena faktor emosi dan ego.
Memasuki krisis 2030, masyarakat didorong untuk memprioritaskan aset yang produktif, fleksibel, mudah dijual saat darurat, dan tidak menguras biaya perawatan.
Aset seharusnya membuat hidup lebih ringan, bukan menambah beban di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Editor : Dharaka R. Perdana