RADAR TULUNGAGUNG- Memasuki penghujung tahun 2025, kinerja pasar saham Indonesia mencatatkan capaian positif.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat telah menguat lebih dari 20 persen sejak awal tahun.
Berbagai sentimen positif mulai dari penurunan suku bunga, pergantian Menteri Keuangan, hingga maraknya aksi korporasi menjadi pendorong utama reli tersebut.
Dengan outlook yang dinilai masih cerah, saham pilihan 2026 mulai menjadi perbincangan hangat di kalangan investor.
Sejumlah analis menilai tren positif IHSG masih berpeluang berlanjut pada 2026. Optimisme itu didukung oleh narasi pemulihan ekonomi, arus modal asing, serta potensi penguatan sektor-sektor tertentu.
Salah satu analis pasar modal, Jonathan Tamrin, membagikan tiga saham pilihan 2026 yang dinilainya layak masuk watchlist berdasarkan analisis fundamental, teknikal, dan aliran dana (money flow).
Saham Pilihan 2026 dari Sektor Teknologi: GOTO
Saham pertama yang disorot adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Emiten teknologi ini kembali menarik perhatian seiring munculnya isu merger dengan Grab yang dikabarkan tengah dipertimbangkan pemerintah.
Dari sisi kinerja keuangan, GOTO masih membukukan rugi bersih, namun tren kerugian tersebut terus menyempit.
Pendapatan GOTO tercatat terus meningkat dan berpotensi mencetak rekor tertinggi pada 2025.
Beban perusahaan juga menurun setelah pelepasan Tokopedia dan berakhirnya fase bakar uang.
Kondisi ini membuka peluang turnaround pada 2026, yang menjadi salah satu alasan GOTO masuk daftar saham pilihan 2026.
Secara teknikal, harga saham GOTO mulai membentuk tren naik setelah fase sideways cukup panjang.
Pergerakan harga didukung oleh volume yang solid, sementara data broker menunjukkan adanya akumulasi dari salah satu broker besar sejak Oktober 2025.
Kombinasi narasi fundamental dan teknikal inilah yang membuat GOTO dinilai menarik untuk dicermati.
Saham Pilihan 2026 Terkait Program MBG: JAFA
Saham kedua berasal dari sektor konsumsi, yakni PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAFA). Emiten ini dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah yang diproyeksikan memiliki alokasi anggaran lebih besar pada 2026.
Meski tidak ditunjuk langsung, manajemen JAFA menyatakan kesiapan mendukung suplai jika dibutuhkan.
Baca Juga: Saham BUMI Naik 14 Persen Tembus 390, Broker Besar Borong Saham, Ini Analisis Risiko dan Peluangnya
Dari sisi fundamental, JAFA menunjukkan kinerja solid. Penjualan dan laba bersih berpotensi mencetak all time high pada 2025.
Neraca perusahaan juga relatif sehat dengan ekuitas yang terus bertumbuh, sementara rasio profitabilitas dan ROE berada di level menarik.
Secara teknikal, saham JAFA masih berada dalam tren naik meski menghadapi area resistance di kisaran Rp2.800.
Data money flow menunjukkan adanya akumulasi dari beberapa broker asing, yang mengindikasikan minat institusi terhadap saham ini.
Dengan kinerja yang stabil dan narasi pertumbuhan, JAFA dinilai cocok sebagai saham pilihan 2026 bagi investor bertipe growth.
Saham Pilihan 2026 Sektor Asuransi: TUGU
Saham ketiga datang dari sektor asuransi, yakni PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU).
Sektor ini mendapat sentimen dari kebijakan baru yang mewajibkan perusahaan asuransi memiliki ekuitas minimum tertentu paling lambat akhir 2026. Kondisi ini membuka peluang konsolidasi melalui merger dan akuisisi.
Secara fundamental, kinerja TUGU terbilang moderat. Pendapatan sedikit menurun, namun laba bersih justru tumbuh berkat efisiensi.
Yang paling menarik adalah valuasinya. Rasio PBV dan PER TUGU berada jauh di bawah rata-rata, menandakan saham ini tergolong undervalued.
Dari sisi teknikal, saham TUGU mulai bergerak dalam channel uptrend. Data broker juga menunjukkan adanya akumulasi dari salah satu pihak sejak Oktober 2025.
Dengan valuasi murah dan potensi narasi korporasi, TUGU dinilai menarik bagi investor beraliran value investing.
Ketiga saham pilihan 2026 tersebut memiliki karakter yang berbeda. GOTO menawarkan cerita turnaround, JAFA menghadirkan pertumbuhan stabil, sementara TUGU mengandalkan valuasi murah.
Meski demikian, investor tetap diimbau melakukan analisis mandiri sebelum mengambil keputusan investasi, seiring dinamika pasar yang terus berubah.***
Editor : Vidya Sajar Fitri