Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Internet Rakyat Era Prabowo Disebut Game Changer Ekonomi Digital, Ini Hitung-hitungan Cuan dan Saham yang Diprediksi Kecipratan di 202

Kirana Meigita Luciana Rani • Senin, 5 Januari 2026 | 21:07 WIB

Photo
Photo

RADAR TULUNGAGUNG- Internet Rakyat menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang mulai ramai dibicarakan publik, terutama di kalangan pelaku pasar modal.

Program ini dinilai bukan sekadar proyek infrastruktur digital, tetapi berpotensi menjadi game changer bagi ekonomi Indonesia sekaligus membuka peluang cuan besar bagi sejumlah emiten telekomunikasi.

Internet Rakyat atau disingkat IRA dirancang sebagai layanan internet murah berbasis teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA).

Baca Juga: BSU Rp 600.000 Januari 2026 Cair Lagi? Ini Update Terbaru Bantuan Subsidi Upah dan Cara Cek Status Penerima

Targetnya jelas: menghadirkan akses internet rumah yang terjangkau hingga ke pelosok daerah, menyasar rumah tangga, UMKM, kos-kosan, hingga kawasan yang belum terjangkau jaringan fiber optik.

Berbeda dengan internet seluler berbasis kuota ponsel, Internet Rakyat menggunakan modem WiFi rumah.

Kecepatannya diklaim mampu mencapai hingga 100 Mbps.

Menariknya, modem dan biaya instalasi diberikan secara gratis.

Rencana tarif langganan pun terbilang murah, hanya sekitar Rp 100.000 per bulan, dan ditargetkan mulai berjalan pada 2026.

Baca Juga: Rekam Jejak Ruben Amorim di Manchester United: Datang dengan Harapan, Pergi dengan Kekecewaan

Pemerataan Digital Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi

Program Internet Rakyat lahir dari fakta bahwa penetrasi internet rumah di Indonesia masih tergolong rendah.

Meski jumlah pengguna internet seluler mencapai lebih dari 160 juta SIM aktif, penetrasi internet rumah tangga baru berkisar 17–21 persen.

Artinya, mayoritas rumah tangga di Indonesia masih belum menikmati akses internet yang stabil dan memadai di rumah.

Padahal, di era digital saat ini, konektivitas internet menjadi infrastruktur utama untuk mendorong produktivitas, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi.

Dengan pemerataan internet hingga ke level ekonomi terkecil, pemerintah berharap muncul percepatan digitalisasi UMKM, peningkatan aktivitas e-commerce, hingga lahirnya lebih banyak pekerja remote dan kreator konten dari daerah.

Pasar Internet Rumah Masih Sangat Luas

Berdasarkan data 2025, Indonesia memiliki sekitar 74 juta rumah tangga.

Dari jumlah tersebut, baru sekitar 15 juta rumah tangga yang memiliki akses internet rumah secara layak.

Artinya, masih ada sekitar 59 juta rumah tangga yang menjadi pasar potensial Internet Rakyat.

Jika program ini mampu menjangkau hanya 30 persen dari pasar yang belum tersentuh, atau sekitar 18 juta rumah tangga, dengan tarif Rp 100.000 per bulan, maka potensi omzetnya bisa mencapai Rp 21,6 triliun per tahun.

Baca Juga: Superbank Incar Dana Rp3,06 Triliun dari IPO, Harga Penawaran Ditetapkan Rp525 per Saham

Angka tersebut bahkan berpeluang lebih besar. Dengan tarif yang jauh lebih murah dibanding paket internet rumah saat ini, tingkat adopsi 50 persen dinilai bukan hal mustahil.

Jika itu tercapai, potensi pendapatan tahunan bisa menembus Rp36 triliun, belum termasuk efek turunan dari ekonomi digital seperti marketplace, streaming, gaming, dan layanan berbasis aplikasi lainnya.

Bukan Perang Harga, tapi Pasar Baru

Menariknya, Internet Rakyat tidak diposisikan sebagai ajang perang harga antar operator besar.

Program ini menyasar segmen baru yang selama ini belum tersentuh layanan internet kabel.

Baca Juga: Berkas Tersangka Kasus Dugaan Korupsi SKTM RSUD dr Iskak dan Desa Tanggung Lengkap, Langsung Diserahkan ke JPU

Dengan begitu, bisnis eksisting operator besar dinilai tetap aman, sementara pasar baru terbuka lebar.

Model bisnisnya pun lebih menekankan pada recurring income berbasis jumlah pelanggan, bukan margin besar per pengguna.

Semakin banyak pelanggan, semakin besar potensi pendapatan jangka panjang.

Emiten yang Dinilai Kecipratan Sentimen Positif

Sejumlah emiten disebut berpotensi mendapatkan sentimen positif dari program Internet Rakyat.

Pertama adalah WIFI, yang disebut telah memenangkan tender sebagai operator utama.

Dengan core business sebagai ISP dan penyedia last mile internet, model bisnis WIFI dinilai sangat sejalan dengan konsep internet murah berbasis pelanggan massal.

Kedua, INET, yang berfokus pada backbone dan data transport.

Lonjakan trafik data akibat masifnya penggunaan internet rakyat akan mendorong kebutuhan bandwidth dan infrastruktur jaringan, yang menjadi ladang bisnis INET.

Ketiga, PADA, emiten infrastruktur menara dan fiber. Teknologi 5G FWA membutuhkan kepadatan site, tower, radio, dan fiber optik.

Baca Juga: Tahun 2026 Diprediksi Panas, KUHAP Baru Berlaku dan Wacana Pengaturan Jabatan Pemilu Picu Perdebatan Politik Nasional

Ekspansi jaringan otomatis meningkatkan kebutuhan menara dan konektivitas, yang berpotensi menjadi recurring income bagi PADA.

Keempat, KETR, yang berperan sebagai eksekutor lapangan.

Mulai dari instalasi, maintenance, hingga rollout fisik jaringan, peran KETR dinilai krusial agar program Internet Rakyat dapat berjalan optimal.

Jika program ini berjalan mulus hingga 2029, perputaran ekonomi digital Indonesia diperkirakan bisa meningkat hingga ratusan triliun rupiah.

Tak heran jika Internet Rakyat mulai dilirik sebagai katalis baru bagi sektor telekomunikasi dan pasar saham di 2026.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Program Prabowo #Internet Rakyat #Saham Telekomunikasi