Pada perdagangan Senin (26/1/2026), harga perak naik Rp1.350 dan berada di level Rp65.600 per gram.
Kenaikan ini memperpanjang tren bullish setelah dalam setahun terakhir harga perak melonjak lebih dari 200 persen.
Lonjakan harga perak 26 Januari 2026 tersebut memicu pertanyaan besar di kalangan investor.
Apakah perak kini mengikuti jejak emas sebagai safe haven? Atau justru ada faktor lain seperti geopolitik dan kebijakan ekspor yang mendorong reli harga logam mulia ini?
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa perak memiliki karakter unik dibanding emas.
Selain termasuk logam mulia, perak juga merupakan logam industri yang sangat dibutuhkan dalam berbagai sektor strategis.
Baca Juga: THR dan Gaji Ke-13 Pensiunan 2026 Dipastikan Cair, Pemerintah Tegaskan Hak Penuh dan Jadwal Resmi
Perak Punya Dua Wajah: Safe Haven dan Logam Industri
Menurut Lukman, pergerakan harga perak memang sering mengikuti emas, terutama saat terjadi ketidakpastian geopolitik dan tekanan makroekonomi global.
Dalam situasi seperti itu, investor cenderung mencari aset lindung nilai (safe haven).
Namun berbeda dengan emas, perak juga digunakan secara luas dalam industri, seperti panel surya, kendaraan listrik (EV), semikonduktor, hingga elektronik.
Artinya, ketika terjadi perlambatan ekonomi global, permintaan industri bisa menurun dan justru memberi tekanan pada harga perak.
“Perak itu punya dua sisi. Dia logam mulia sekaligus logam industri. Jadi responsnya bisa berbeda dibanding emas,” ujar Lukman.
Hal ini membuat harga perak lebih volatil.
Bahkan pada awal pekan ini, terjadi swing atau pergerakan hingga 10 persen dalam sehari, menunjukkan tingginya fluktuasi pasar.
Baca Juga: Rapel dan Kenaikan Gaji Pensiun: TASPEN Tegaskan Belum Ada Keputusan Pemerintah, Hindari Hoaks
Dampak Kebijakan China Perketat Ekspor Perak
Salah satu faktor utama yang memicu lonjakan harga perak 26 Januari 2026 adalah kebijakan pemerintah China yang memperketat kontrol ekspor perak sejak 1 Januari 2026.
Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis karena perak dianggap krusial dalam rantai pasok industri dan pertahanan, khususnya bagi Amerika Serikat.
Lukman menilai kebijakan China tersebut berperan besar terhadap lonjakan harga yang bersifat parabolik.
Apalagi sebelumnya pasokan perak global memang sudah dalam kondisi rentan akibat meningkatnya permintaan.
“Ketika muncul isu kekosongan stok dan kontrol ekspor China, harga perak langsung melonjak signifikan,” jelasnya.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di sektor industri, terutama panel surya, EV, dan data center yang sangat bergantung pada perak sebagai bahan baku utama.
Jika pasokan terganggu, bukan hanya harga yang naik, tetapi juga produksi bisa terhambat.
Industri EV dan Panel Surya Terancam
Permintaan perak global meningkat pesat seiring ekspansi energi terbarukan dan kendaraan listrik.
Panel surya menjadi salah satu pengguna perak terbesar. Jika harga terus melonjak, biaya produksi otomatis naik dan berpotensi mendorong kenaikan harga produk akhir.
Kekhawatiran ini bahkan sempat disuarakan sejumlah pelaku industri teknologi global. Gangguan pasokan dinilai dapat memperlambat pertumbuhan sektor EV, energi surya, dan pusat data.
Baca Juga: Rapel dan Kenaikan Gaji Pensiun: TASPEN Tegaskan Belum Ada Keputusan Pemerintah, Hindari Hoaks
Dengan pasokan terbatas dan permintaan tinggi, pasar perak berada dalam tekanan ganda.
Kombinasi geopolitik, kebijakan ekspor, dan kebutuhan industri menjadi katalis utama kenaikan harga.
Apakah Perak Layak Jadi Safe Haven?
Data menunjukkan rata-rata transaksi perak harian mencapai 29 miliar dolar AS.
Angka ini menegaskan bahwa perak merupakan aset investasi nyata dengan likuiditas besar, meski masih di bawah emas.
Meski demikian, Lukman menilai perak belum sepenuhnya mampu menyaingi emas sebagai safe haven utama. Secara historis, harga perak lebih volatil dibanding emas.
Dalam perbandingan rasio emas dan perak, saat ini berada di kisaran 1:50. Artinya, jika harga emas berada di level 5.000, harga perak idealnya di 100.
Namun ada pendekatan lain berdasarkan pasokan yang menyebut rasio ideal bisa 1:10.
“Kalau pakai hitungan pasokan, harga perak seharusnya bisa jauh lebih tinggi. Tapi seberapa cepat tercapai, itu masih tanda tanya,” ujarnya.
Ia memproyeksikan harga perak berpotensi bergerak di kisaran 200 hingga 500 dalam jangka waktu tertentu, tergantung kondisi geopolitik, suku bunga, serta kebijakan negara-negara besar.
Baca Juga: Romi & The Jahats Berduka, Romi Jahat Meninggal Dunia Usai 18 Tahun Berkarya di Skena Punk Indonesia
Waspada FOMO dan Volatilitas
Kenaikan harga perak 26 Januari 2026 juga memicu fenomena fear of missing out (FOMO) di kalangan investor ritel.
Namun Lukman menegaskan bahwa lonjakan minat investor kecil umumnya tidak cukup kuat untuk menggerakkan harga global secara signifikan.
Faktor dominan tetap berasal dari dinamika global, termasuk kebijakan China, ketegangan geopolitik, serta arah suku bunga Amerika Serikat.
Dengan volatilitas tinggi dan potensi koreksi tajam, investor disarankan berhati-hati sebelum masuk ke pasar perak.
Meski menawarkan peluang, risiko fluktuasi tetap harus diperhitungkan secara matang.
Editor : Nabiyah Putri Wibowo