Pada perdagangan global Senin, 13 Oktober 2025, harga perak sempat menyentuh rekor tertinggi baru di level USD 51,38 per ons.
Lonjakan harga perak melonjak ini terjadi di tengah sentimen global yang mendorong aset safe haven.
Emas pada saat yang sama juga mencetak rekor di kisaran USD 4.006 per ons.
Keduanya terdorong ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) serta meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai.
Namun, reli harga perak 2025 tidak hanya dipicu faktor moneter. Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali memanaskan perang dagang dengan China turut menyulut pasar logam mulia.
Tarif tambahan 100 persen untuk sejumlah impor dari China memicu ketidakpastian global dan mendorong investor mencari instrumen alternatif.
Perak Disebut “Versi Turbo” dari Emas
Meski terlihat menggiurkan, analis dari Goldman Sachs mengingatkan bahwa lonjakan harga perak membawa risiko besar.
Berbeda dengan emas, perak tidak didukung pembelian masif dari bank sentral dunia.
Selama ini, harga emas relatif stabil karena banyak bank sentral menambah cadangan emas sebagai pelindung nilai.
Sebaliknya, perak lebih bergantung pada permintaan industri, terutama sektor panel surya, teknologi, dan elektronik.
Goldman Sachs menyebut perak sebagai “versi turbo dari emas”. Artinya, saat harga emas naik, perak bisa naik lebih cepat.
Namun ketika sentimen berbalik, koreksinya juga bisa lebih dalam.
Secara ukuran pasar, perak jauh lebih kecil dibanding emas. Diperkirakan, pasar perak sekitar sembilan kali lebih kecil dari pasar emas.
Dengan ukuran yang lebih kecil, setiap arus investasi memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap pergerakan harga.
Tidak Didukung Bank Sentral
Salah satu perbedaan mendasar antara emas dan perak terletak pada peran bank sentral. Ketika harga emas naik, bank sentral tetap mempertahankan cadangan emasnya untuk menjaga stabilitas nilai.
Mereka tidak beralih ke perak sebagai pengganti.
Secara fisik pun, emas lebih efisien untuk penyimpanan. Nilai USD 1 miliar dalam bentuk emas dapat disimpan dalam satu koper.
Sementara dalam bentuk perak, nilai yang sama membutuhkan satu truk penuh. Faktor ini membuat emas tetap menjadi primadona dalam cadangan devisa global.
Tanpa dukungan bank sentral, harga perak sangat sensitif terhadap arus dana investor ritel maupun institusi. Sedikit saja penurunan minat investasi bisa memicu koreksi signifikan.
Kelangkaan Pasokan Dorong Harga
Sejak akhir Agustus 2025, harga perak telah naik lebih dari 35 persen. Salah satu pendorong utamanya adalah kelangkaan pasokan di pusat perdagangan London.
Cadangan perak di sana dilaporkan turun ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Kombinasi pasokan yang ketat dan meningkatnya permintaan industri, khususnya untuk panel surya dan kendaraan listrik, membuat harga semakin terdorong naik.
Namun kondisi ini juga menjadi pedang bermata dua.
Analis menilai, jika arus investasi mulai melemah, ketatnya pasokan bisa cepat berbalik menjadi tekanan harga. Pasar perak yang lebih kecil membuat volatilitasnya jauh lebih tinggi dibanding emas.
Prospek Jangka Pendek dan Menengah
Dalam jangka menengah, harga perak masih berpeluang naik jika The Fed benar-benar memangkas suku bunga.
Pelonggaran moneter biasanya melemahkan dolar AS dan mendorong kenaikan harga komoditas, termasuk logam mulia.
Namun untuk jangka pendek, risiko gejolak dinilai jauh lebih besar dibanding emas.
Baca Juga: Gempa Pacitan M6,4 Jenis Megathrust Guncang Jawa Timur, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Fluktuasi tajam bisa terjadi dalam waktu singkat, terutama jika sentimen geopolitik mereda atau ekspektasi suku bunga berubah.
Pertanyaannya, apakah saat ini waktu yang tepat beralih ke perak?
Sejumlah pakar menyarankan investor menyesuaikan pilihan dengan tujuan investasi.
Jika mengincar ketahanan nilai jangka panjang, emas masih menjadi pilihan utama.
Namun bagi investor yang berani mengambil risiko tinggi demi potensi keuntungan cepat, perak bisa menjadi alternatif menarik.
Harga perak melonjak memang menawarkan peluang cuan lebih besar dalam waktu singkat.
Tetapi seperti pedang bermata dua, pergerakannya juga bisa berbalik tajam saat sentimen global berubah.
Investor pun dituntut lebih cermat membaca arah pasar sebelum memutuskan masuk ke logam mulia yang sedang panas ini.
Baca Juga: Rapel Gaji Pensiunan ASN 2026: Hoaks atau Fakta? TASPEN Tegaskan Belum Ada Kenaikan Resmi
Editor : Nabiyah Putri Wibowo