Calon IPO 2026 di BEI mulai ramai diperbincangkan pasar. Meski hingga akhir Februari belum ada satu pun emiten baru yang resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), rumor mengenai daftar calon IPO 2026 di BEI justru semakin kencang beredar.
Berdasarkan pipeline Bursa Efek Indonesia, setidaknya terdapat delapan perusahaan yang sedang bersiap menuju penawaran umum perdana saham. Namun, identitas resmi emiten tersebut belum diumumkan ke publik. Di tengah minimnya keterbukaan, pasar diramaikan kabar bahwa sejumlah calon IPO 2026 di BEI berasal dari grup konglomerasi besar Tanah Air.
Mulai dari grup Prajogo Pangestu, MTEK, Jarum, hingga Happy Hapsoro disebut-sebut tengah menyiapkan anak usahanya untuk melantai tahun ini. Lantas, siapa saja yang dirumorkan masuk daftar?
Baca juga:Grup MTEK: DANA dan Vidio.com Siap Unlocking Value?
Dari grup Elang Mahkota Teknologi (MTEK), ada dua nama yang santer disebut bakal IPO, yakni DANA dan Vidio.com.
DANA, perusahaan teknologi finansial (fintech) yang juga didukung Sinar Mas melalui Dian Swastatika Sentosa (DSSA), dikabarkan mendapat tambahan modal sekitar USD 25 juta. Kolaborasi teknologi dengan ANT International, afiliasi pengelola Alipay, memperkuat spekulasi bahwa IPO menjadi strategi pertumbuhan jangka panjang.
Sementara itu, Vidio.com yang bergerak di sektor OTT dan streaming disebut-sebut akan melantai demi unlocking value. Target pelanggan diproyeksikan menembus 8 juta dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Estimasi valuasi grup pada 2024 bahkan sempat menyentuh Rp 14,96 triliun bersama SCMA dan entitas terkait lainnya.
Baca juga:Grup Prajogo Pangestu: Diversifikasi dari Batu Bara ke Emas
Dari kubu konglomerat Prajogo Pangestu melalui Barito Group, dua nama mencuat: Gria Idola dan Intam.
Gria Idola bergerak di sektor properti, kawasan industri, residensial, perkantoran hingga hospitality. Perusahaan ini terafiliasi dengan Barito Pacific (BRPT). IPO Gria Idola dinilai bisa membuka valuasi bisnis properti yang selama ini tertutup dominasi sektor petrokimia dan energi di dalam grup.
Adapun Intam disebut bergerak di tambang emas dan perak, dengan konsesi sekitar 18.500 hektare di Nusa Tenggara Barat hingga 2035. Jika benar melantai, langkah ini berpotensi menjadi strategi diversifikasi dari bisnis batu bara menuju logam mulia.
Baca juga:Grup Jarum dan Happy Hapsoro Tak Mau Ketinggalan
Dari Grup Jarum, Blue BCA yang merupakan bank digital anak usaha Bank Central Asia (BCA)Prajogo Pangestu kembali masuk radar calon IPO 2026 di BEI. Fokusnya menyasar segmen ritel dan generasi muda. Jika terealisasi, IPO ini dapat membuka valuasi terpisah dari induknya.
Sementara itu, Panji Raya Alamindo yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro melalui Raja (Rukun Raharja) bergerak di distribusi gas dan infrastruktur energi. IPO berpotensi memperluas ekosistem energi sekaligus meningkatkan transparansi bisnis distribusi gas.
Nama lain yang juga sempat dirumorkan adalah Medco Power dari grup Medco Energi, serta entitas properti komersial afiliasi Sumarecon.
Baca juga:Kinerja Saham Induk Masih Fluktuatif
Menariknya, performa saham induk sepanjang tahun ini terpantau fluktuatif. BRPT tercatat turun cukup dalam. DSSA dan beberapa emiten energi juga terkoreksi. Sementara saham berbasis emas seperti Aneka Tambang (Antam) justru menguat signifikan seiring kenaikan harga emas global.
Di sisi lain, beberapa emiten mencatat pertumbuhan laba impresif hingga ribuan persen secara tahunan, meski sebagian lainnya masih menghadapi tekanan laba akibat melemahnya harga komoditas dan kondisi pasar.
Baca juga:Kenapa Belum Ada yang IPO?
Pertanyaan besar investor: mengapa belum ada realisasi IPO?
Sejumlah faktor disebut menjadi penyebab. Di antaranya penyesuaian aturan free float baru, kewajiban keterbukaan informasi yang semakin ketat, serta pembagian 28 kategori sektor di BEI. Selain itu, kondisi IHSG yang sempat tertekan juga membuat banyak calon emiten memilih menunggu momentum pasar lebih kondusif.
Momentum setelah Lebaran dinilai bisa menjadi titik balik. Dengan delapan perusahaan sudah masuk pipeline, pasar tinggal menunggu pengumuman resmi dari otoritas bursa.
Meski demikian, investor tetap diimbau mencermati fundamental dan valuasi sebelum berburu saham IPO. Sebab hingga kini, identitas resmi delapan calon emiten dalam pipeline BEI belum diumumkan secara terbuka.
Rumor boleh kencang, tetapi keputusan investasi tetap harus berbasis analisis.
Editor : Ayu Dhea Cheryl