Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Saham BBRI 2026 Jadi Sorotan! Laba Turun Tipis tapi Prospek Kredit dan Dividen Bikin Investor Optimistis

Muhammad Rusdian Nuzula • Jumat, 27 Februari 2026 | 19:50 WIB

Saham BBRI 2026 disorot! Laba turun tipis, tapi prospek kredit dan dividen tetap menarik investor.
Saham BBRI 2026 disorot! Laba turun tipis, tapi prospek kredit dan dividen tetap menarik investor.

RADAR TULUNGAGUNG - Kinerja saham BBRI kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah laporan keuangan terbaru menunjukkan dinamika yang cukup kompleks sepanjang 2025 hingga awal 2026. Emiten perbankan milik Bank Rakyat Indonesia ini mencatatkan penurunan laba tahunan, namun tetap menunjukkan sinyal stabilitas yang dinilai positif oleh investor.

Sepanjang 2025, laba bersih BBRI tercatat sebesar Rp56,7 triliun atau turun sekitar 5 persen secara tahunan (year on year/YoY). Meski mengalami penurunan, capaian ini masih sesuai dengan ekspektasi pasar, bahkan mencapai sekitar 101 persen dari estimasi konsensus.

Namun, yang menarik perhatian adalah kinerja pada kuartal IV 2025. Dalam periode tersebut, BBRI justru mencatatkan laba bersih sebesar Rp15,9 triliun, tumbuh 7 persen YoY dan 9 persen secara kuartalan (QoQ). Hal ini menjadi sinyal bahwa pemulihan kinerja mulai terlihat di penghujung tahun.

Baca Juga: Rapel Pensiunan ASN 2026 Kapan Cair? Ini Penjelasan Resmi, Alasan Belum Masuk dan Kepastian Hak Pensiunan

Perbaikan Kinerja di Akhir Tahun Jadi Kunci

Perbaikan kinerja saham BBRI tidak lepas dari peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income) yang tumbuh signifikan. Hal ini didorong oleh perbaikan struktur dana murah atau CASA yang meningkat hingga 70 persen dari total dana pihak ketiga.

Selain itu, pertumbuhan kredit juga menjadi faktor utama. Hingga akhir 2025, kredit BBRI tumbuh sekitar 12 persen YoY, meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan ini turut didukung oleh pembiayaan dari berbagai sektor, termasuk segmen mikro dan pembiayaan berbasis program pemerintah.

Kinerja operasional juga menunjukkan perbaikan. Pre-Provision Operating Profit (PPOP) tumbuh 13 persen YoY pada kuartal IV 2025, menandakan efisiensi dan peningkatan pendapatan yang semakin solid.

Baca Juga: Hak Rapel Pensiunan ASN 2026 Dipastikan Cair, Ini Fakta Penting yang Harus Diketahui dan Alasan Keterlambatan

Tantangan 2026: Margin dan Kredit Melambat

Meski menunjukkan pemulihan, prospek saham BBRI pada 2026 tetap diwarnai sejumlah tantangan. Salah satunya adalah potensi penurunan Net Interest Margin (NIM) yang dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga.

Seiring dengan potensi penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia, margin bunga bersih diperkirakan akan tertekan. Hal ini menjadi tantangan bagi perbankan besar, termasuk BBRI, dalam menjaga profitabilitas.

Selain itu, pertumbuhan kredit pada 2026 diproyeksikan tidak setinggi tahun sebelumnya. Manajemen BBRI memberikan guidance pertumbuhan yang lebih konservatif, terutama karena tingginya basis pertumbuhan pada 2025.

Segmen mikro yang selama ini menjadi tulang punggung BBRI juga diperkirakan hanya tumbuh dalam kisaran rendah (low single digit). Sebagai gantinya, segmen konsumer seperti kredit pemilikan rumah (KPR) diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan baru dengan estimasi kenaikan 11–13 persen YoY.

Baca Juga: Rapel Pensiunan ASN 2026 Kapan Cair? Ini Penjelasan Resmi, Alasan Belum Masuk dan Hak yang Wajib Diterima

Strategi dan Dividen Jadi Daya Tarik

Di tengah tantangan tersebut, saham BBRI tetap menarik bagi investor, terutama dari sisi fundamental. Salah satu faktor utama adalah kebijakan dividen yang tetap agresif.

Manajemen BBRI berencana mempertahankan dividend payout ratio di kisaran 85–90 persen untuk tahun buku 2025. Angka ini tergolong tinggi dan menjadi daya tarik utama bagi investor yang mencari passive income dari pasar saham.

Selain itu, langkah perusahaan dalam memperbaiki kualitas aset juga menjadi perhatian. Cost of Credit (CoC) yang sempat meningkat pada 2025 diproyeksikan akan menurun ke kisaran 2,9–3,2 persen pada 2026, seiring normalisasi risiko kredit.

Sentimen Global dan IHSG Berpengaruh

Pergerakan saham BBRI juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar secara keseluruhan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menghadapi tekanan, salah satunya akibat arus keluar dana asing (foreign outflow) sejak awal 2026.

Ketidakpastian global, termasuk dinamika ekonomi internasional dan nilai tukar rupiah, turut memengaruhi sentimen investor. Meski demikian, saham perbankan besar seperti BBRI tetap menjadi pilihan utama karena fundamental yang relatif kuat.

Dengan kombinasi antara kinerja yang mulai membaik, strategi bisnis yang adaptif, serta kebijakan dividen yang menarik, saham BBRI diperkirakan masih memiliki potensi jangka menengah hingga panjang.

Investor kini hanya perlu mencermati bagaimana perusahaan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan risiko di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
#InvestasiSaham #BBRI #SahamBBRI