RADAR TULUNGAGUNG - Konflik Timur Tengah kembali memanas dan dampaknya mulai terasa hingga ke pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu perubahan signifikan pada perilaku investor dunia.
Harga emas dan minyak melonjak tajam, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menghadapi tekanan dalam jangka pendek.
Konflik Timur Tengah yang memanas ini mendorong pasar global masuk ke fase risk off. Investor cenderung meninggalkan aset berisiko seperti saham dan beralih ke instrumen safe haven seperti emas dan obligasi.
Baca Juga: Prediksi IHSG 2–6 Maret 2026 Rebound ke 8.392? Ini 3 Saham Potensi Naik: ERAA, TAPG, ASA
Data perdagangan menunjukkan harga emas global menguat lebih dari 1 persen, sementara harga minyak mentah dunia—baik West Texas Intermediate (WTI) maupun Brent—melonjak hampir 3 persen hanya dalam waktu singkat.
Menurut Hendra Wardana, pendiri Republic Investor, lonjakan harga energi mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.
Salah satu titik paling krusial adalah Selat Hormus, jalur vital yang menyalurkan sekitar 30 persen distribusi minyak dunia. Setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut berpotensi mendorong harga minyak naik lebih tinggi.
Jika jalur distribusi energi terganggu, dampaknya tidak hanya berhenti pada sektor energi.
Efek berantai bisa muncul secara global, mulai dari lonjakan inflasi, pelemahan nilai tukar negara berkembang, hingga kebijakan moneter yang lebih ketat.
Bank sentral di berbagai negara berpotensi menyesuaikan suku bunga untuk meredam tekanan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi.
Dari sisi domestik, konflik Timur Tengah berpotensi memberi tekanan ganda terhadap IHSG. Pertama, arus modal asing diperkirakan keluar (capital outflow) karena investor global mengurangi eksposur di pasar negara berkembang.
Kedua, inflasi impor berisiko meningkat seiring lonjakan harga minyak dan energi, yang pada akhirnya menekan kinerja emiten, khususnya sektor yang sensitif terhadap biaya logistik dan bahan baku.
Hendra memperkirakan IHSG berpotensi turun menguji level support di kisaran 8.133. Jika tekanan berlanjut dan level tersebut ditembus, maka area psikologis 8.000 menjadi zona support berikutnya yang patut dicermati pelaku pasar.
Adapun resistance terdekat IHSG berada di kisaran 8.300, yang akan menjadi tantangan jika pasar mencoba melakukan pemulihan jangka pendek.
Meski demikian, tidak semua sektor diprediksi terpuruk akibat konflik Timur Tengah. Sektor komoditas justru berpeluang menjadi penopang pasar.
Kenaikan harga emas dan minyak membuka peluang bagi saham-saham berbasis sumber daya alam dan energi.
Saham tambang emas seperti MDKA diproyeksikan berpotensi menuju level Rp3.900, sementara ANTM diperkirakan mengarah ke Rp4.500 seiring penguatan harga emas dunia.
Di sektor energi, sejumlah saham dinilai masih memiliki prospek positif. ELSA diproyeksikan menuju target Rp900, sementara ENRG berpotensi melanjutkan penguatan seiring meningkatnya aktivitas eksplorasi dan distribusi energi.
Saham AKRA juga dinilai menarik secara spekulatif dengan target Rp400, serta SOCI yang berpotensi menguat ke Rp750 seiring meningkatnya kebutuhan pengangkutan energi.
Dalam kondisi geopolitik global yang tidak menentu, Hendra menegaskan bahwa kunci utama bagi investor bukan sekadar menentukan waktu masuk atau keluar pasar.
Lebih penting adalah membaca rotasi sektor, memahami risiko global, dan mengelola portofolio secara disiplin. Keputusan investasi yang tepat harus didasarkan pada data dan analisis, bukan spekulasi semata.
Editor : Manda Dwi Agustin