RADAR TULUNGAGUNG- Simulasi 100 lot saham BBRI menjadi salah satu contoh yang sering digunakan investor pemula untuk memahami potensi keuntungan investasi saham jangka panjang. Saham milik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk ini memang dikenal sebagai salah satu saham perbankan paling populer di Bursa Efek Indonesia (BEI) karena kinerja yang relatif stabil dan rutin membagikan dividen.
Melalui simulasi 100 lot saham BBRI, investor dapat melihat gambaran berapa modal yang diperlukan, potensi kenaikan harga saham, hingga jumlah dividen yang bisa diperoleh jika saham tersebut disimpan dalam jangka panjang.
Berapa Modal untuk Membeli 100 Lot Saham BBRI?
Pada saat simulasi ini dibuat, harga saham BBRI berada di kisaran Rp5.425 per lembar saham. Dalam satu lot terdapat 100 lembar saham. Artinya, untuk membeli 100 lot saham BBRI diperlukan perhitungan sebagai berikut:
Rp5.425 x 100 lembar x 100 lot = Rp54.250.000
Dengan demikian, investor membutuhkan modal sekitar Rp54,25 juta untuk memiliki 100 lot saham BBRI pada harga tersebut.
Namun bagaimana jika investasi ini dilakukan jauh sebelumnya?
Jika mengacu pada harga saham BBRI pada Desember 2012, harga per lembar saham berada di sekitar Rp1.356. Dengan harga tersebut, modal yang diperlukan untuk membeli 100 lot hanya sekitar:
Rp1.356 x 100 lembar x 100 lot = Rp13.560.000
Perbedaan harga ini menunjukkan betapa besar potensi pertumbuhan saham dalam jangka panjang.
Kenaikan Harga Saham BBRI dalam 10 Tahun
Sejak tahun 2012 hingga beberapa tahun terakhir, harga saham BBRI tercatat mengalami kenaikan sekitar 300 persen. Dengan modal awal Rp13,56 juta pada 2012, nilai investasi tersebut saat ini bisa mencapai lebih dari Rp54 juta.
Jika dihitung sebagai floating profit, keuntungan yang diperoleh investor bisa mencapai sekitar Rp40,69 juta.
Dalam simulasi optimistis, jika harga saham BBRI mampu tumbuh rata-rata 25 persen per tahun, maka potensi nilainya dalam 10 tahun ke depan bisa meningkat signifikan.
Dengan asumsi tersebut, harga saham BBRI pada tahun 2033 diproyeksikan bisa mencapai sekitar Rp59.216 per lembar. Jika investor masih memegang 100 lot saham, maka nilai portofolio bisa mencapai sekitar Rp592 juta.
Namun simulasi tersebut tentu saja bersifat optimistis. Jika menggunakan asumsi yang lebih konservatif, misalnya kenaikan harga rata-rata 12 persen per tahun, maka harga saham BBRI pada 2033 diperkirakan berada di kisaran Rp16.849 per lembar.
Dengan jumlah kepemilikan yang sama, nilai portofolio investor diproyeksikan mencapai sekitar Rp168 juta.
Baca Juga: Harga Emas Terbaru Hari Ini 12 Maret 2026 Naik Tajam, Emas Antam Tembus Rp3,22 Juta per Gram
Berapa Dividen dari 100 Lot Saham BBRI?
Selain potensi kenaikan harga saham, BBRI juga dikenal sebagai salah satu emiten yang rajin membagikan dividen kepada pemegang saham.
Sebagai contoh, pada 2012 BBRI membagikan dividen sekitar Rp112,28 per saham. Dengan kepemilikan 100 lot (10.000 lembar saham), investor saat itu menerima dividen sekitar Rp1.122.800.
Pada 2021, dividen sempat turun akibat dampak pandemi COVID-19 yang menekan laba perusahaan. Namun kondisi tersebut berangsur pulih.
Pada 2023, BBRI membagikan dividen total sekitar Rp288,22 per saham melalui dua kali pembagian dividen.
Dengan jumlah saham yang sama, investor yang memiliki 100 lot berpotensi menerima dividen sekitar Rp2.880.200 dalam satu tahun.
Jika dihitung sejak 2012 hingga 2023, total dividen yang diterima investor dengan kepemilikan 100 lot saham BBRI mencapai sekitar Rp27.373.800.
Strategi Reinvestasi Dividen
Salah satu strategi yang sering digunakan investor jangka panjang adalah reinvestasi dividen, yaitu membeli kembali saham menggunakan uang dividen yang diterima.
Sebagai contoh, dividen tahun 2012 sebesar Rp1.122.800 dapat digunakan untuk membeli kembali saham BBRI sekitar 9 lot dengan harga saat itu.
Jika strategi ini terus dilakukan setiap tahun, jumlah saham yang dimiliki investor akan terus bertambah.
Dalam simulasi yang dilakukan, jumlah kepemilikan saham yang awalnya 100 lot pada 2012 dapat meningkat menjadi sekitar 262 lot pada 2023 karena pembelian tambahan dari dividen.
Dengan strategi ini, nilai investasi mengalami pertumbuhan hingga sekitar 947 persen, atau meningkat sekitar Rp128 juta dari modal awal sekitar Rp13 juta.
Meski demikian, investor tetap perlu memahami bahwa simulasi investasi saham seperti ini tidak selalu mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya. Pergerakan harga saham dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi, kinerja perusahaan, hingga aktivitas investor asing di pasar modal.
Karena itu, penting bagi investor untuk melakukan riset sebelum memutuskan berinvestasi di pasar saham.
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani