TULUNGAGUNG - Kisah usaha tempe inovatif yang dirintis anak muda asal Solo menjadi inspirasi bagi banyak calon wirausaha. Berawal dari tugas kuliah, usaha tersebut kini berkembang menjadi produk olahan tempe dengan berbagai inovasi rasa.
Usaha tersebut dirintis oleh Benny Santoso, pemuda berusia 24 tahun yang merantau ke Bali untuk menempuh pendidikan di bidang kuliner. Ia melihat bahwa tempe, makanan tradisional khas Indonesia, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih modern.
Menurut Benny, selama ini tempe sering dipandang sebagai makanan sederhana yang biasanya hanya diolah menjadi tempe goreng atau tempe bacem. Padahal, bahan pangan berbasis kedelai ini memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk inovatif yang bisa bersaing di pasar internasional.
Baca Juga: Dr Desi Kembali Pimpin IKA Unair Cabang Tulungagung
Bahkan di luar negeri, tempe sering disebut sebagai “the next gold” karena nilai gizinya yang tinggi serta potensinya sebagai makanan sehat berbasis nabati.
Berawal dari Proyek Kuliah
Ide membangun usaha tempe inovatif tersebut muncul saat Benny mengerjakan proyek akhir kuliah di bidang kuliner. Ia mencoba membuat tempe dengan berbagai rasa yang berbeda dari tempe pada umumnya.
Dalam eksperimen tersebut, Benny mencoba dua varian rasa, yakni tempe rasa keju dan tempe rasa bawang putih. Hasil percobaan pertama cukup menjanjikan, terutama untuk varian tempe keju yang dinilai memiliki rasa unik dan menarik.
Namun tidak semua percobaan berjalan lancar. Tempe dengan rasa bawang putih justru berkali-kali mengalami kegagalan karena bawang putih memiliki sifat antibakteri yang dapat menghambat proses fermentasi tempe.
Meski demikian, pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran penting bagi Benny untuk memahami proses pembuatan tempe secara lebih mendalam.
Awal Mula Usaha Tempe di Bali
Setelah menyelesaikan proyek kuliah tersebut, Benny memutuskan untuk menjadikannya sebagai peluang usaha. Ia mulai memproduksi tempe sendiri di daerah Ubud, Bali.
Pada awal produksi, Benny menggunakan sekitar 25 kilogram kedelai untuk membuat tempe. Namun usaha pertamanya mengalami kegagalan total karena proses fermentasi tidak berjalan dengan baik.
Kegagalan tersebut sempat membuatnya ragu untuk melanjutkan usaha. Namun Benny memilih untuk belajar kembali dan memperbaiki proses produksinya.
Setelah beberapa kali percobaan, ia akhirnya berhasil memproduksi tempe dengan kualitas yang baik.
Baca Juga: Resmi Pimpin PAN Tulungagung, Rijal Abdulloh Siapkan Transformasi Parpol Modern
Tempe pertama yang berhasil ia jual dibeli oleh tetangganya di Bali dengan harga Rp10 ribu. Kebetulan tetangganya tersebut merupakan warga negara asing yang tertarik dengan proses pembuatan tempe yang dilakukan Benny.
Dari pengalaman itu, Benny mulai menyadari bahwa tempe memiliki potensi besar sebagai produk makanan yang bisa dikembangkan lebih jauh.
Mengembangkan Produk Olahan Tempe
Tidak ingin hanya menjual tempe biasa, Benny kemudian mencoba mengembangkan berbagai produk olahan berbahan dasar tempe.
Salah satu inovasi yang berhasil ia ciptakan adalah kue kering berbahan dasar tempe. Ide tersebut muncul ketika ia melihat ibunya membuat kue kering di rumah.
Benny kemudian mencoba memadukan tempe dengan resep kue kering tersebut. Percobaan pertama masih menghasilkan rasa pahit karena pengolahan tempe yang belum sempurna.
Namun setelah beberapa kali percobaan, ia akhirnya berhasil menciptakan kue kering tempe dengan rasa yang lebih seimbang dan dapat diterima konsumen.
Produk tersebut kemudian menjadi salah satu inovasi menarik dalam usaha tempe yang ia jalankan.
Modal Usaha Tidak Selalu Uang
Dalam menjalankan usaha tempe inovatif, Benny mengaku bahwa modal utama bukan hanya uang. Ia menyebut ada empat jenis modal yang penting bagi seorang pengusaha pemula.
Modal pertama adalah mindset atau pola pikir. Menurutnya, seseorang yang ingin memulai usaha harus memiliki pola pikir yang benar dan tidak hanya fokus mencari keuntungan.
Modal kedua adalah ilmu. Pengetahuan yang dimiliki seseorang dapat menjadi dasar kuat dalam membangun usaha.
Modal ketiga adalah networking atau jaringan relasi. Dengan bertemu banyak orang, seorang pengusaha bisa mendapatkan berbagai perspektif baru yang bermanfaat untuk mengembangkan bisnis.
Barulah modal keempat adalah modal keuangan.
Benny mengaku memulai usahanya dengan modal sekitar Rp5 juta yang digunakan untuk membeli mesin pengolah kedelai serta bahan baku kedelai.
Modal tersebut ia peroleh dari pinjaman orang tuanya yang ia sebut sebagai “angel investor” dalam perjalanan bisnisnya.
Baca Juga: Gagal Login Coretax DJP? Ini Cara Ampuh Masuk Aplikasi Cortex Pajak Tanpa Error yang Wajib Dicoba
Menatap Pasar Nasional dan Internasional
Saat ini produk tempe inovatif yang ia kembangkan dipasarkan secara online dan juga tersedia di beberapa toko makanan sehat di Bali.
Ke depan, Benny berharap produknya dapat dikenal lebih luas, baik di pasar nasional maupun internasional.
Ia juga percaya bahwa kerja keras dan ketekunan merupakan kunci utama dalam menjalankan usaha.
Menurut Benny, kegagalan dalam bisnis merupakan bagian dari proses pembelajaran yang harus dilalui oleh setiap pengusaha.
Editor : Axsha Zazhika