Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Benny Santoso Bangun Usaha Tempe Inovatif dari Bali, Berawal dari Tugas Kuliah Kini Jadi Produk Olahan Tempe Unik

Axsha Zazhika • Minggu, 15 Maret 2026 | 16:45 WIB
Kisah Benny Santoso Bangun Usaha Tempe Inovatif dari Bali, Berawal dari Tugas Kuliah Kini Jadi Produk Olahan Tempe Unik
Kisah Benny Santoso Bangun Usaha Tempe Inovatif dari Bali, Berawal dari Tugas Kuliah Kini Jadi Produk Olahan Tempe Unik

 

TULUNGAGUNG - Kisah usaha tempe inovatif yang dirintis anak muda asal Solo menjadi inspirasi bagi banyak calon wirausaha. Berawal dari tugas kuliah, usaha tersebut kini berkembang menjadi produk olahan tempe dengan berbagai inovasi rasa.

Usaha tersebut dirintis oleh Benny Santoso, pemuda berusia 24 tahun yang merantau ke Bali untuk menempuh pendidikan di bidang kuliner. Ia melihat bahwa tempe, makanan tradisional khas Indonesia, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih modern.

Menurut Benny, selama ini tempe sering dipandang sebagai makanan sederhana yang biasanya hanya diolah menjadi tempe goreng atau tempe bacem. Padahal, bahan pangan berbasis kedelai ini memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk inovatif yang bisa bersaing di pasar internasional.

Baca Juga: Dr Desi Kembali Pimpin IKA Unair Cabang Tulungagung

Bahkan di luar negeri, tempe sering disebut sebagai “the next gold” karena nilai gizinya yang tinggi serta potensinya sebagai makanan sehat berbasis nabati.

Berawal dari Proyek Kuliah

Ide membangun usaha tempe inovatif tersebut muncul saat Benny mengerjakan proyek akhir kuliah di bidang kuliner. Ia mencoba membuat tempe dengan berbagai rasa yang berbeda dari tempe pada umumnya.

Dalam eksperimen tersebut, Benny mencoba dua varian rasa, yakni tempe rasa keju dan tempe rasa bawang putih. Hasil percobaan pertama cukup menjanjikan, terutama untuk varian tempe keju yang dinilai memiliki rasa unik dan menarik.

Baca Juga: Rekomendasi HP Lebaran 2026: Kenapa HP Tahun 2025 Justru Lebih Worth It? Ini Alasannya dan Daftar Pilihannya

Namun tidak semua percobaan berjalan lancar. Tempe dengan rasa bawang putih justru berkali-kali mengalami kegagalan karena bawang putih memiliki sifat antibakteri yang dapat menghambat proses fermentasi tempe.

Meski demikian, pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran penting bagi Benny untuk memahami proses pembuatan tempe secara lebih mendalam.

Awal Mula Usaha Tempe di Bali

Setelah menyelesaikan proyek kuliah tersebut, Benny memutuskan untuk menjadikannya sebagai peluang usaha. Ia mulai memproduksi tempe sendiri di daerah Ubud, Bali.

Baca Juga: Sejarah Bani Israil dari Nabi Ibrahim hingga Nabi Sulaiman, Kisah Panjang Bangsa Yahudi yang Jarang Dibahas

Pada awal produksi, Benny menggunakan sekitar 25 kilogram kedelai untuk membuat tempe. Namun usaha pertamanya mengalami kegagalan total karena proses fermentasi tidak berjalan dengan baik.

Kegagalan tersebut sempat membuatnya ragu untuk melanjutkan usaha. Namun Benny memilih untuk belajar kembali dan memperbaiki proses produksinya.

Setelah beberapa kali percobaan, ia akhirnya berhasil memproduksi tempe dengan kualitas yang baik.

Baca Juga: Resmi Pimpin PAN Tulungagung, Rijal Abdulloh Siapkan Transformasi Parpol Modern

Tempe pertama yang berhasil ia jual dibeli oleh tetangganya di Bali dengan harga Rp10 ribu. Kebetulan tetangganya tersebut merupakan warga negara asing yang tertarik dengan proses pembuatan tempe yang dilakukan Benny.

Dari pengalaman itu, Benny mulai menyadari bahwa tempe memiliki potensi besar sebagai produk makanan yang bisa dikembangkan lebih jauh.

Mengembangkan Produk Olahan Tempe

Tidak ingin hanya menjual tempe biasa, Benny kemudian mencoba mengembangkan berbagai produk olahan berbahan dasar tempe.

Salah satu inovasi yang berhasil ia ciptakan adalah kue kering berbahan dasar tempe. Ide tersebut muncul ketika ia melihat ibunya membuat kue kering di rumah.

Baca Juga: Perdebatan Tuhan, Mesias, dan Kitab Suci: Dialog Islam–Yahudi Ungkap Perbedaan Besar Antara Yudaisme, Kristen, dan Islam

Benny kemudian mencoba memadukan tempe dengan resep kue kering tersebut. Percobaan pertama masih menghasilkan rasa pahit karena pengolahan tempe yang belum sempurna.

Namun setelah beberapa kali percobaan, ia akhirnya berhasil menciptakan kue kering tempe dengan rasa yang lebih seimbang dan dapat diterima konsumen.

Produk tersebut kemudian menjadi salah satu inovasi menarik dalam usaha tempe yang ia jalankan.

Baca Juga: Sejarah Perpecahan Sunni dan Syiah: Dari Konflik Suksesi Nabi Muhammad hingga Tragedi Karbala yang Mengubah Dunia Islam

Modal Usaha Tidak Selalu Uang

Dalam menjalankan usaha tempe inovatif, Benny mengaku bahwa modal utama bukan hanya uang. Ia menyebut ada empat jenis modal yang penting bagi seorang pengusaha pemula.

Modal pertama adalah mindset atau pola pikir. Menurutnya, seseorang yang ingin memulai usaha harus memiliki pola pikir yang benar dan tidak hanya fokus mencari keuntungan.

Modal kedua adalah ilmu. Pengetahuan yang dimiliki seseorang dapat menjadi dasar kuat dalam membangun usaha.

Baca Juga: Kenapa Allah Tidak Membinasakan Zionis Israel? Ustaz Abdul Somad Ungkap Jawaban Ulama Al-Azhar yang Bikin Jamaah Tersentak

Modal ketiga adalah networking atau jaringan relasi. Dengan bertemu banyak orang, seorang pengusaha bisa mendapatkan berbagai perspektif baru yang bermanfaat untuk mengembangkan bisnis.

Barulah modal keempat adalah modal keuangan.

Benny mengaku memulai usahanya dengan modal sekitar Rp5 juta yang digunakan untuk membeli mesin pengolah kedelai serta bahan baku kedelai.

Modal tersebut ia peroleh dari pinjaman orang tuanya yang ia sebut sebagai “angel investor” dalam perjalanan bisnisnya.

Baca Juga: Gagal Login Coretax DJP? Ini Cara Ampuh Masuk Aplikasi Cortex Pajak Tanpa Error yang Wajib Dicoba

Menatap Pasar Nasional dan Internasional

Saat ini produk tempe inovatif yang ia kembangkan dipasarkan secara online dan juga tersedia di beberapa toko makanan sehat di Bali.

Ke depan, Benny berharap produknya dapat dikenal lebih luas, baik di pasar nasional maupun internasional.

Ia juga percaya bahwa kerja keras dan ketekunan merupakan kunci utama dalam menjalankan usaha.

Baca Juga: Ceramah Gus Baha Viral Bahas Tobat dan Istighfar: Umat Nabi Muhammad Cukup Istighfar, Tak Perlu Seperti Bani Israel

Menurut Benny, kegagalan dalam bisnis merupakan bagian dari proses pembelajaran yang harus dilalui oleh setiap pengusaha.

Editor : Axsha Zazhika
#usaha tempe inovatif #Benny Santoso #tempe Bali #produk olahan tempe #bisnis tempe Indonesia