JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini terus mengalami volatilitas tinggi. Situasi pasar yang tidak menentu dan terkesan gonjang-ganjing ini diperparah oleh keputusan sepihak dari MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang membekukan sementara indeks saham Indonesia. Langkah pembekuan rebalancing ini memicu kepanikan investor global yang memandang kondisi pasar modal dalam negeri secara negatif. Namun, gejolak ini dinilai bukan cerminan dari rusaknya fundamental ekonomi Indonesia.
Pengamat pasar modal sekaligus praktisi investasi, Michael Ye, mengungkapkan bahwa situasi bursa saham yang anjlok belakangan ini murni disebabkan oleh masalah struktural internal, bukan persoalan makroekonomi. Penurunan outlook utang Indonesia menjadi negatif oleh Moody's Rating dinilai sebagai dampak domino dari kepanikan psikologis pasar setelah MSCI mengeluarkan rilisnya. Menurut Michael, banyak investor ritel yang salah paham dan mengira bursa saham domestik sedang hancur karena fondasi ekonomi yang retak. Padahal, jika dicermati lebih dalam, bursa global seperti bursa saham Amerika Serikat sebenarnya jauh lebih ringkih dibandingkan daya tahan ekonomi Indonesia.
Investor asing global saat ini cenderung defensif karena aturan transparansi dan pengawasan corporate governance di Indonesia masih dinilai longgar oleh standar internasional. Kendati demikian, aksi korporasi berupa buyback jumbo senilai triliunan rupiah dari emiten-emiten besar membuktikan bahwa manajemen perusahaan lokal masih sangat percaya diri dengan prospek bisnis mereka. Gejolak bursa saham saat ini justru menjadi momen big reset yang menciptakan ruang diskon besar-besaran bagi saham-saham berfundamental kokoh.
Baca Juga: Timnas Indonesia Diundang Presiden Prabowo, Ole Romeny Ungkap Pesan Khusus Jelang Lawan Jepang
Memahami Akar Masalah Pembekuan Indeks MSCI
Michael Ye menegaskan bahwa kebijakan pembekuan yang dilakukan oleh MSCI dan FTSE belakangan ini tidak ada hubungannya dengan nilai tukar rupiah, utang negara, maupun pertumbuhan GDP. Masalah utama terletak pada kerapian struktur kepemilikan saham emiten (structural ownership) dan batasan free float yang diperdagangkan di publik. Pihak asing menyoroti banyaknya akun korporasi di Indonesia yang aktif bertransaksi di bursa, namun ternyata hanya digunakan sebagai instrumen tax planning oleh perorangan. Hal inilah yang dinilai tidak objektif dan tidak sesuai dengan matriks kualitatif internasional.
Kondisi kepanikan pasar ini mirip dengan skandal saham Adani di India pada tahun 2023 silam, di mana indeks bursa India sempat terkoreksi hingga belasan persen sebelum akhirnya berhasil fight back dan bangkit lebih kuat setelah perbaikan struktural. Michael optimistis Indonesia tidak akan terlempar ke level frontier market seperti yang dikhawatirkan banyak pihak. Pemerintah melalui bursa dan OJK dipastikan sedang melakukan pembenaran regulasi sebelum tenggat waktu yang ditentukan agar volatilitas pasar segera mereda.
Strategi Jalan Tengah Bagi Investor Ritel
Di tengah badai outflow dana asing, Michael Ye menyarankan investor ritel untuk tidak langsung panik atau sekadar melakukan wait and see tanpa strategi. Menggunakan pendekatan analisis tunggal seperti value investing atau melihat foreign flow saja sudah tidak cukup relevan di tahun 2026. Karakter bursa saat ini sangat dipengaruhi oleh pemetaan kepentingan institusi besar dan arah kebijakan badan finansial baru seperti Danantara.
Jalan tengah terbaik bagi investor ritel saat ini adalah membidik saham yang berada di irisan kurva tengah: memiliki karakteristik saham konglomerat yang lincah secara aksi korporasi, namun juga memiliki fundamental bisnis yang sangat sehat dan rutin membagikan dividen. Model saham hibrida ini dinilai paling aman menjadi bantalan portofolio dari risiko kejatuhan pasar yang lebih dalam.
Berburu Saham Emiten Di Harga Diskon
Sebagai contoh konkret, Michael menyebut saham di sektor komoditas dan energi yang memiliki potensi dividen besar dan valuasi murah seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) sebagai salah satu pilihan yang relatif aman. Ketika harga saham-saham berkinerja prima tertekan ke level terendahnya akibat sentimen eksternal, itulah waktu yang paling tepat untuk melakukan akumulasi pembelian secara bertahap.
"Prinsipnya sederhana, jika sebuah perusahaan besar terbukti mencetak laba bersih yang konsisten dan mampu membagikan dividen hingga dua digit secara berkala, maka dalam jangka panjang modal investor pasti akan kembali. Pasar saham yang sedang gonjang-ganjing akibat isu MSCI ini justru merupakan kesempatan emas bagi investor lokal untuk mengoleksi aset bagus di harga diskon sebelum dana asing kembali berputar masuk ke negara berkembang," pungkas Michael.
Editor : Natasha Eka Safrina