RADAR TULUNGAGUNG- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan dengan pelemahan tipis 0,05 persen pada akhir pekan setelah pasar menghadapi dampak rebalancing indeks MSCI yang efektif berlaku mulai 1 Juni 2026. Meski sejumlah saham Grup Barito seperti BRPT, BREN, dan CUAN sempat mencatatkan kenaikan signifikan hingga auto reject atas, tekanan pada saham perbankan berkapitalisasi besar membuat laju indeks tertahan.
Perhatian pelaku pasar tertuju pada keputusan MSCI yang menghapus sejumlah emiten dari indeks globalnya. Sentimen tersebut memicu arus keluar dana asing dan menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan IHSG dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam perdagangan terakhir sebelum cut off rebalancing MSCI, saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BMRI, BBNI, dan BBRI mengalami tekanan jual cukup besar. Bahkan BBNI tercatat turun lebih dari 3 persen dengan volume transaksi yang melonjak signifikan.
Rebalancing MSCI Picu Outflow Besar
Analis pasar modal Ellen May menjelaskan bahwa proses rebalancing MSCI kali ini berpotensi memicu outflow hingga Rp10,53 triliun dari pasar saham Indonesia. Dana tersebut berasal dari penyesuaian portofolio investor global yang menjadikan MSCI sebagai acuan investasi.
Beberapa saham yang terdampak antara lain BREN, CUAN, AMMN, DSSA, AMRT, ANTM, BSDE, DSNG, AALI, SIDO, MIDI, MIKA, dan sejumlah emiten lainnya.
Menariknya, meski BREN dan CUAN resmi keluar dari indeks MSCI, kedua saham tersebut justru mencatat kenaikan tajam hingga auto reject atas. Menurut Ellen, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan tekanan jual telah berakhir.
Ia menilai kenaikan tersebut lebih mencerminkan adanya dorongan permintaan jangka pendek dari pelaku pasar tertentu yang berusaha membangun momentum. Dengan demikian, potensi tekanan jual masih bisa berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Bobot Indonesia di MSCI Semakin Kecil
Selain penghapusan sejumlah saham, pasar juga menyoroti penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI. Jika sebelumnya Indonesia memiliki porsi sekitar 0,7 persen, kini bobotnya turun menjadi hanya 0,5 persen.
Penurunan ini membuat alokasi dana investor global yang mengikuti indeks MSCI otomatis berkurang. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh saham yang keluar dari indeks, tetapi juga berpotensi menekan pasar saham Indonesia secara keseluruhan.
Menurut Ellen, kondisi tersebut menciptakan persepsi bahwa daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor internasional sedang menurun, sehingga meningkatkan risiko keluarnya dana asing dari dalam negeri.
GOTO Masih Bertahan, Tapi Dalam Pengawasan MSCI
Di tengah rebalancing MSCI, saham GOTO menjadi salah satu emiten yang masih berhasil mempertahankan posisinya dalam indeks global MSCI.
Namun demikian, MSCI memberikan catatan khusus terkait likuiditas saham GOTO yang dinilai masih rendah. Harga saham yang bertahan di level Rp50 serta aktivitas transaksi yang terbatas membuat MSCI memutuskan membekukan sementara penyesuaian terhadap saham tersebut.
MSCI juga mengingatkan bahwa GOTO akan kembali dievaluasi pada Agustus 2026. Jika hingga saat itu likuiditasnya belum memenuhi standar yang ditetapkan, saham teknologi tersebut berpotensi dikeluarkan dari indeks.
Rupiah Tertekan dan Risiko Ekonomi Masih Tinggi
Selain tekanan dari MSCI, pasar domestik juga dibayangi pelemahan nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda dilaporkan terus melemah hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS di sejumlah penukaran valuta asing.
Pelemahan rupiah dipicu berbagai faktor, mulai dari kekhawatiran terhadap defisit APBN, tingginya risiko ekonomi nasional, hingga potensi keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia.
Di sisi lain, investor juga mencermati pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang berpotensi menarik dana dari negara berkembang apabila kembali naik.
Investor Mulai Melirik Peluang di Bursa Amerika
Melihat tantangan yang dihadapi pasar domestik, Ellen menyarankan investor untuk mulai mempelajari instrumen investasi global sebagai bentuk diversifikasi portofolio.
Menurutnya, sejumlah sektor di pasar saham Amerika Serikat saat ini menunjukkan tren pertumbuhan menarik, terutama sektor kecerdasan buatan (AI), infrastruktur data center, pertahanan, serta komputasi kuantum.
Beberapa saham yang menjadi perhatian investor global antara lain Dell, Hewlett Packard Enterprise (HPE), Microsoft, Nvidia, Oracle hingga IBM yang dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan jangka menengah.
Meski demikian, ia mengingatkan investor agar tidak terburu-buru membeli saham yang sudah mengalami kenaikan tajam. Strategi menunggu koreksi atau retracement dinilai lebih aman dibandingkan mengejar harga yang sudah terlalu tinggi.
Baca Juga: Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tulungagung Terkendala Lahan, Baru 37 Desa Rampung
Editor : Cholifatun Nisak