RADAR TULUNGAGUNG– Sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai masih berada pada level harga yang menarik menjelang awal Juni 2026. Di tengah koreksi pasar yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, beberapa emiten berkualitas disebut menawarkan valuasi yang lebih murah dibandingkan potensi bisnis jangka panjang yang dimiliki.
Selain saham perbankan besar yang selama ini menjadi favorit investor, sejumlah emiten dari sektor ritel, multifinance, pertambangan, properti hingga energi terbarukan juga mulai masuk radar investor jangka panjang.
Salah satu saham yang mendapat perhatian adalah ACES. Emiten ritel yang mengelola jaringan toko perlengkapan rumah tangga ini dinilai memiliki fundamental yang cukup kuat. Perusahaan tercatat memiliki posisi kas yang besar, arus kas operasional positif, serta kemampuan membayar kewajiban yang relatif baik.
Selain itu, ACES juga dikenal sebagai salah satu emiten yang rutin membagikan dividen dengan tingkat imbal hasil yang menarik. Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan risiko pelemahan rupiah karena sebagian produk yang dijual masih bergantung pada impor sehingga berpotensi meningkatkan biaya operasional perusahaan.
Di sektor multifinance, saham ADMF dan BFIN juga dinilai menarik untuk strategi investasi dividen jangka panjang. Kedua perusahaan memiliki valuasi yang relatif rendah dengan dividend yield yang cukup tinggi.
Namun, sektor pembiayaan diperkirakan menghadapi tantangan akibat kenaikan suku bunga. Beban bunga yang lebih tinggi dapat menekan profitabilitas perusahaan multifinance sekaligus meningkatkan risiko pembiayaan bermasalah dalam beberapa kuartal ke depan.
Sementara itu, sektor pertambangan masih menawarkan peluang melalui saham ADRO dan ADMR. Keduanya mendapat dukungan dari prospek bisnis batu bara metalurgi yang dinilai masih kuat serta pengembangan proyek hilirisasi aluminium yang sedang berjalan.
Selain itu, pendapatan berbasis dolar Amerika Serikat berpotensi memberikan keuntungan tambahan ketika nilai tukar rupiah melemah. Kondisi keuangan perusahaan juga dinilai masih sehat dengan posisi kas yang besar dan kemampuan ekspansi yang memadai.
Di sektor perbankan, sejumlah bank daerah dan bank syariah juga masuk dalam daftar saham yang dianggap menarik. BJBR dan BJTM menawarkan dividend yield yang relatif tinggi, sementara BRIS dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang lebih agresif melalui pengembangan layanan bullion bank atau bisnis emas.
Selain itu, saham BNGA juga dinilai memiliki potensi pertumbuhan laba yang stabil berkat efisiensi operasional yang terus dilakukan perusahaan. Meskipun pertumbuhan pendapatannya tidak terlalu tinggi, strategi efisiensi dinilai mampu menjaga kinerja keuntungan perusahaan.
Untuk sektor properti, perhatian tertuju pada CBDK dan PWON. CBDK dianggap memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang yang besar berkat cadangan lahan yang luas serta berbagai proyek pengembangan yang masih berlangsung.
Sementara itu, PWON dinilai menarik dari sudut pandang value investing karena memiliki pendapatan berulang dari bisnis pusat perbelanjaan dan properti komersial. Arus kas yang stabil membuat perusahaan memiliki fleksibilitas untuk terus mengembangkan proyek baru di masa depan.
Investor yang mencari saham dividen juga dapat mempertimbangkan LPIN, PBRX, SMSM hingga TSPC. Emiten-emiten tersebut dinilai memiliki kondisi keuangan yang sehat, utang yang relatif terkendali, serta kemampuan menghasilkan arus kas yang positif.
Di sektor energi terbarukan, PGEO menjadi salah satu pilihan yang disebut memiliki prospek menarik untuk investasi jangka panjang. Perusahaan bergerak di bidang energi panas bumi yang dinilai memiliki keunggulan karena mampu menghasilkan energi secara lebih stabil dibandingkan sumber energi terbarukan lain seperti tenaga surya atau angin.
Dukungan kontrak jangka panjang dengan PLN juga memberikan kepastian pendapatan sehingga memungkinkan perusahaan terus melakukan ekspansi kapasitas di masa mendatang.
Selain saham Indonesia, sejumlah saham Amerika Serikat juga disebut masih menarik setelah mengalami koreksi harga. Beberapa di antaranya adalah Meta, Coca-Cola, McDonald's, Uber, Sony, PayPal hingga Accenture.
Untuk investor yang menginginkan diversifikasi lebih luas, instrumen ETF seperti VOO, IVV, VTI, VUG hingga VT juga dinilai layak dipertimbangkan. ETF tersebut memberikan akses ke ratusan bahkan ribuan saham global dengan biaya pengelolaan yang relatif rendah.
Meski demikian, investor tetap disarankan melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Faktor fundamental perusahaan, kondisi ekonomi global, suku bunga, hingga pergerakan nilai tukar tetap menjadi variabel penting yang dapat memengaruhi kinerja saham dalam jangka panjang.
Editor : Cholifatun Nisak