RADAR TULUNGAGUNG- Saham LQ45 murah Mei 2026 menjadi perhatian investor di tengah pelemahan rupiah dan tekanan yang masih terjadi di pasar modal Indonesia. Kondisi ini membuat sejumlah saham berkapitalisasi besar diperdagangkan pada valuasi yang lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya.
Pengamat pasar menilai saham LQ45 murah Mei 2026 dapat menjadi peluang menarik bagi investor jangka panjang. Ketika sentimen pasar membaik, saham-saham yang saat ini berada di level undervalued berpotensi mengalami apresiasi harga dan menghasilkan capital gain yang signifikan.
Dalam sebuah ulasan pasar, terdapat tujuh saham LQ45 yang dinilai memiliki valuasi menarik berdasarkan rasio Price to Book Value (PBV) maupun Price Earnings Ratio (PER). Saham-saham tersebut berasal dari sektor pertambangan, perbankan, konsumer, hingga industri pulp dan kertas.
ADRO Masih Menarik di Tengah Transformasi Bisnis
Saham pertama yang masuk daftar adalah ADRO atau Adaro Energy. Pada kisaran harga Rp2.400 per saham, ADRO memiliki PBV sekitar 0,9 kali.
Perusahaan ini telah melakukan transformasi bisnis dengan memisahkan bisnis batu bara termalnya dan kini lebih fokus pada batu bara kalori tinggi serta pengembangan energi hijau. Meski laba bersih tahun 2025 tercatat turun dibanding beberapa tahun sebelumnya, perusahaan masih membukukan keuntungan sebesar USD447 juta.
Valuasi yang relatif rendah membuat saham ini dinilai masih memiliki potensi menarik untuk jangka panjang.
Saham Perbankan Mendominasi Daftar
Sektor perbankan menjadi sektor yang paling banyak masuk dalam daftar saham murah kali ini. Salah satunya adalah BBNI atau Bank Negara Indonesia.
Sebagai bank terbesar keempat di Indonesia, BBNI saat ini diperdagangkan dengan PBV sekitar 0,8 kali. Valuasi tersebut dianggap cukup murah dibandingkan posisi historisnya. Jika sektor perbankan kembali mendapat sentimen positif, saham ini berpotensi mencatat kenaikan harga yang signifikan.
Selain BBNI, saham BBTN juga menjadi sorotan. Bank BTN membukukan laba bersih Rp1,1 triliun pada kuartal pertama 2026 atau tumbuh 22 persen secara tahunan.
Meski tahun ini tidak membagikan dividen kepada pemegang saham, valuasi BBTN dinilai sangat murah. Pada harga sekitar Rp1.300 per saham, PBV BBTN hanya berada di level 0,5 kali.
Sementara itu, dua bank besar lainnya yakni BMRI dan BBCA juga masuk dalam daftar. Meski PBV keduanya masih berada di atas satu kali, rasio PER yang dimiliki sudah berada di level yang sangat rendah.
BMRI atau Bank Mandiri memiliki PER sekitar 7 kali pada harga Rp4.400 per saham. Angka tersebut termasuk yang terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Adapun BBCA atau Bank Central Asia diperdagangkan di bawah Rp6.000 per saham dengan PER sekitar 12 kali. Valuasi ini disebut sebagai salah satu yang terendah sejak krisis keuangan global 2008.
Saham Konsumer dan Industri Juga Menarik
Dari sektor konsumer, saham INDF atau Indofood Sukses Makmur masuk dalam daftar saham undervalued. Saat ini PBV INDF hanya sekitar 0,8 kali.
Padahal, saham sektor konsumer umumnya mendapatkan valuasi premium karena dianggap memiliki bisnis yang lebih stabil dan tahan terhadap perlambatan ekonomi. Kondisi tersebut membuat INDF dinilai menarik bagi investor yang mencari saham defensif dengan harga diskon.
Sementara itu, saham ketujuh adalah INKP atau Indah Kiat Pulp & Paper. Pada harga sekitar Rp9.600 per saham, INKP memiliki PBV sekitar 0,47 kali.
Perusahaan yang bergerak di industri pulp dan kertas ini memiliki lini bisnis yang cukup luas, mulai dari produksi bubur kertas hingga berbagai produk kertas olahan. Dengan valuasi yang berada jauh di bawah nilai bukunya, saham ini dinilai memiliki ruang apresiasi yang cukup besar jika kondisi industri membaik.
Peluang di Tengah Volatilitas Pasar
Pelemahan rupiah dalam beberapa tahun terakhir memang memberikan tekanan terhadap pasar saham. Namun di sisi lain, kondisi tersebut menciptakan peluang bagi investor untuk mengoleksi saham-saham berkualitas dengan harga yang relatif murah.
Tujuh saham LQ45 murah Mei 2026 tersebut menjadi pilihan yang menarik untuk dipantau. Meski demikian, investor tetap perlu mempertimbangkan profil risiko, kondisi fundamental perusahaan, serta prospek sektor masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi.
Editor : Cholifatun Nisak