RADAR TULUNGAGUNG- Investasi stabil 2026 menjadi topik yang banyak dicari investor setelah berbagai instrumen keuangan mengalami tekanan sepanjang Maret hingga April tahun ini. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran membuat harga minyak melonjak, rupiah tertekan, serta memicu pelemahan di pasar saham, obligasi, kripto, hingga emas.
Di tengah kondisi tersebut, banyak investor mulai mengevaluasi kembali strategi pengelolaan aset dan toleransi risiko mereka. Investasi stabil 2026 dinilai penting sebagai penyeimbang portofolio agar tetap memberikan ketenangan saat pasar mengalami volatilitas tinggi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan sempat turun dari level 9.000 ke kisaran 7.000 dan menyentuh area 6.900. Kondisi tersebut membuat banyak investor mengalami penurunan nilai portofolio dalam waktu singkat.
Memahami Dua Label Harga Investasi
Dalam dunia investasi, banyak orang hanya fokus pada potensi keuntungan atau return. Padahal, ada faktor lain yang tidak kalah penting, yakni volatilitas atau risiko fluktuasi harga.
Sebagai contoh, saham BBCA selama 20 tahun terakhir mencatat rata-rata pertumbuhan tahunan sekitar 14,1 persen. Investasi Rp100 juta yang ditempatkan dua dekade lalu bisa berkembang menjadi sekitar Rp1,4 miliar.
Namun di balik potensi keuntungan tersebut, investor harus siap menghadapi risiko penurunan harga. Dalam setahun terakhir, saham BBCA sempat mengalami koreksi hingga lebih dari 35 persen dari titik tertingginya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa setiap instrumen investasi memiliki "harga" yang harus dibayar, baik dalam bentuk volatilitas, likuiditas, maupun risiko lainnya.
Pentingnya Porsi Aset Stabil dalam Portofolio
Para investor disarankan memiliki porsi aset stabil sebagai penyeimbang investasi yang lebih agresif seperti saham.
Untuk profil konservatif, sekitar 70 persen dana dapat ditempatkan pada aset stabil dan 30 persen pada saham. Investor moderat dapat menerapkan komposisi 50:50, sedangkan investor agresif dapat menempatkan 30 persen dana di aset stabil dan 70 persen di instrumen berisiko lebih tinggi.
Tujuannya adalah menjaga kestabilan portofolio dan mengurangi tekanan psikologis saat pasar mengalami gejolak.
Deposito, RDPU, dan SBN Masih Jadi Pilihan Utama
Instrumen pertama yang umum digunakan adalah deposito bank umum. Produk ini menawarkan bunga sekitar 3,5 persen per tahun dengan tingkat keamanan tinggi dan likuiditas yang baik. Namun, return bersihnya relatif rendah setelah dipotong pajak bunga.
Pilihan kedua adalah reksa dana pasar uang (RDPU). Instrumen ini mampu memberikan imbal hasil rata-rata sekitar 4,8 persen per tahun secara bersih. Selain likuid, RDPU juga tidak dikenakan pajak tambahan bagi investor.
Sementara itu, Surat Berharga Negara (SBN) ritel seperti seri SR24 menawarkan kupon sekitar 5,55 persen per tahun. Setelah pajak, hasil bersihnya mendekati 5 persen. Keunggulan utama SBN adalah jaminan penuh dari negara dan pembayaran kupon secara rutin setiap bulan.
Namun, dana investor biasanya terkunci selama masa tenor tertentu sehingga fleksibilitasnya lebih terbatas dibanding RDPU.
Opsi Return Lebih Tinggi dengan Risiko Tambahan
Bagi investor yang mengincar hasil lebih tinggi, bank digital menjadi salah satu alternatif. Beberapa bank digital menawarkan bunga hingga 5 hingga 8 persen per tahun.
Meski menarik, investor perlu memperhatikan aturan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Simpanan dengan bunga di atas tingkat penjaminan tidak mendapatkan perlindungan LPS.
Selain itu, terdapat reksa dana pendapatan tetap (RDPT) yang berpotensi memberikan return 6 hingga 8 persen per tahun. Namun, instrumen ini tetap memiliki risiko fluktuasi harga karena dipengaruhi pergerakan pasar obligasi.
Ketika ketidakpastian global meningkat dan yield obligasi naik, nilai RDPT dapat mengalami penurunan meski relatif lebih kecil dibanding saham.
Deposito BPR Jadi Alternatif Menarik
Salah satu instrumen yang mulai banyak dilirik adalah deposito Bank Perekonomian Rakyat (BPR). Produk ini menawarkan bunga hingga 6 persen per tahun yang masih masuk dalam batas penjaminan LPS.
Dengan bunga tersebut, return bersih setelah pajak berada di kisaran 4,8 persen. Angka ini mampu bersaing dengan RDPU maupun SBN ritel.
Keunggulan lainnya adalah volatilitas yang nyaris nol, pembayaran bunga yang pasti, serta jaminan LPS hingga Rp2 miliar per nasabah per bank.
Di tengah ketidakpastian pasar global dan fluktuasi berbagai instrumen investasi, aset stabil seperti deposito, RDPU, SBN, maupun deposito BPR dapat menjadi pilihan penting untuk menjaga keseimbangan portofolio sekaligus memberikan ketenangan bagi investor.
Editor : Cholifatun Nisak