Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

21 Tahun Petik Ilmu dari 19 Guru, Begini Perjalanan Imam Syafi'i Menjadi Pendiri Mazhab yang Diikuti Jutaan Muslim

Gita Dwi Nuraini • Jumat, 19 Juni 2026 | 19:45 WIB
21 tahun petik ilmu dari 19 guru, perjalanan Imam Syafi
21 tahun petik ilmu dari 19 guru, perjalanan Imam Syafi'i dari anak yatim hingga menjadi pendiri Mazhab Syafi'i.(Gemini AI)

 

RADAR TULUNGAGUNG - Perjalanan menuntut ilmu Imam Syafi'i menjadi salah satu kisah yang paling banyak dikenang dalam sejarah Islam. Sosok pendiri Mazhab Syafi'i ini dikenal tidak hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena semangatnya mencari ilmu kepada banyak ulama di berbagai wilayah dunia Islam. Melalui proses belajar yang panjang dan pengembaraan dari satu negeri ke negeri lain, Imam Syafi'i tumbuh menjadi salah satu imam mazhab terbesar yang pengaruhnya masih terasa hingga saat ini.

Imam Syafi'i memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman. Beliau lahir pada tahun 150 Hijriah di Gaza, Palestina, atau menurut riwayat lain di Asqalan yang berada di perbatasan Mesir. Sejak lahir, beliau telah menjadi yatim dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas.

Meski hidup dalam kemiskinan, semangat belajar Imam Syafi'i sudah terlihat sejak usia dini. Beliau memulai pendidikan dengan mempelajari baca tulis dan menghafal Al-Qur'an. Kecerdasannya membuat banyak orang kagum. Pada usia tujuh tahun, Imam Syafi'i telah berhasil menghafal Al-Qur'an dengan lancar.

Baca Juga: Primbon Jawa Ungkap Keistimewaan Weton Selasa Wage, Disebut Memiliki Jiwa Mandiri dan Potensi Rezeki yang Terus Berkembang

Menimba Ilmu dari Makkah hingga Madinah

Setelah menguasai dasar-dasar ilmu agama, Imam Syafi'i pergi ke perkampungan Bani Hudzail untuk mempelajari sastra dan bahasa Arab yang terkenal sangat fasih. Kemampuan bahasa Arab yang kuat kemudian menjadi salah satu keunggulan beliau dalam memahami Al-Qur'an dan hadis.

Di Makkah, Imam Syafi'i belajar kepada sejumlah ulama terkemuka, di antaranya Muslim bin Khalid Az-Zanji yang merupakan Mufti Makkah dan Sufyan bin Uyainah, seorang ahli hadis ternama. Kedua guru tersebut memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan keilmuan Imam Syafi'i.

Keistimewaan Imam Syafi'i semakin terlihat ketika pada usia 10 tahun beliau telah menghafal kitab Al-Muwatta karya Imam Malik. Bahkan saat berusia 15 tahun, gurunya telah memberikan izin kepada beliau untuk menyampaikan fatwa di Masjidil Haram.

Keinginan untuk memperdalam ilmu membawa Imam Syafi'i ke Madinah. Pada tahun 163 Hijriah, beliau berangkat untuk berguru langsung kepada Imam Malik bin Anas, salah satu ulama terbesar pada masanya dan penyusun kitab Al-Muwatta.

Awalnya Imam Malik tidak begitu menyukai penggunaan surat rekomendasi dalam urusan menuntut ilmu. Namun setelah mengetahui kecerdasan dan kesungguhan Imam Syafi'i, beliau akhirnya menerima pemuda tersebut sebagai murid. Sejak saat itu, Imam Syafi'i menjadi salah satu murid yang paling dekat dengan Imam Malik dan bahkan dipercaya membacakan kitab Al-Muwatta dalam majelis ilmu.

Baca Juga: Gaji 13 Cair Pekan Ini, Ribuan PPPK Paruh Waktu di Tulungagung Juga Ikut Menerima

Mengembara ke Berbagai Negeri Islam

Semangat belajar Imam Syafi'i tidak berhenti di Madinah. Setelah mendapatkan banyak ilmu dari Imam Malik, beliau meminta izin untuk melanjutkan pengembaraan ke Irak. Di wilayah tersebut, Imam Syafi'i mempelajari fiqih dari murid-murid Imam Abu Hanifah, termasuk Muhammad Al-Hasan dan Abu Yusuf.

Tidak hanya Irak, perjalanan ilmiah Imam Syafi'i juga membawanya ke Persia, Anatolia, Hirah, Palestina, Ramlah, dan sejumlah wilayah lain. Dalam setiap perjalanan, beliau berdiskusi dengan para ulama setempat, mempelajari berbagai pandangan keilmuan, serta memahami kondisi masyarakat di daerah yang dikunjungi.

Setelah wafatnya Imam Malik pada tahun 179 Hijriah, Imam Syafi'i terus melanjutkan pencarian ilmu. Beliau sempat berada di Yaman dan kemudian ke Baghdad. Di kota itu, Imam Syafi'i dikenal sebagai ulama yang aktif mengajar dan menyampaikan pandangan-pandangannya dalam bidang fiqih.

Baca Juga: Pemadaman Listrik Berulang di Tulungagung, Pelaku Usaha dan Mahasiswa Mengaku Resah Aktivitas Terganggu

Melahirkan Dasar Ilmu Ushul Fiqih

Perjalanan panjang dalam menuntut ilmu akhirnya melahirkan pemikiran besar yang berpengaruh dalam dunia Islam. Imam Syafi'i dikenal sebagai ulama pertama yang menyusun ilmu ushul fiqih secara sistematis melalui kitab Ar-Risalah.

Dalam metode ijtihadnya, beliau menggunakan Al-Qur'an, hadis, ijma, qiyas, dan istidlal sebagai dasar pengambilan hukum. Pendekatan tersebut kemudian menjadi ciri khas Mazhab Syafi'i yang berkembang luas di berbagai negara Muslim, termasuk Indonesia.

Selain Ar-Risalah, Imam Syafi'i juga menulis kitab Al-Umm yang menjadi salah satu rujukan utama dalam kajian fiqih Islam. Karya-karyanya terus dipelajari hingga sekarang dan menjadi warisan intelektual yang sangat berharga.

Pada masa akhir kehidupannya, Imam Syafi'i menetap di Mesir. Di negeri tersebut beliau mengajar, memberikan fatwa, dan menyusun berbagai pemikiran fiqih yang kemudian dikenal sebagai qaul jadid atau pendapat baru. Imam Syafi'i wafat pada akhir bulan Rajab tahun 204 Hijriah dalam usia 52 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Mesir dan umat Islam secara umum.

Warisan ilmu yang dibangun melalui proses belajar kepada banyak guru dan pengembaraan ke berbagai pusat keilmuan Islam menjadikan Imam Syafi'i dikenang sebagai salah satu ulama paling berpengaruh sepanjang sejarah.

Editor : Gita Dwi Nuraini
#Imam Syafi'i #Mazhab Syafi'i #19 Guru Imam Syafi'i #Perjalanan Menuntut Ilmu #Imam Malik bin Anas