JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir kembali memunculkan pertanyaan besar di kalangan investor: apakah kondisi ini menjadi momen terbaik untuk memulai dividen investing?
Sejumlah saham unggulan seperti BBRI, BMRI, hingga emiten pertambangan seperti PTBA dan ITMG tercatat mengalami penurunan signifikan. Bahkan beberapa saham perbankan dan komoditas terkoreksi hingga puluhan persen dari level tertingginya.
IHSG Turun, Dividen Yield Justru Naik
Kondisi pasar yang melemah justru menciptakan fenomena menarik: dividend yield meningkat. Hal ini terjadi karena harga saham turun sementara dividen yang dibagikan perusahaan relatif stabil. Akibatnya, imbal hasil dividen menjadi lebih tinggi dibandingkan periode normal.
Fenomena ini membuat banyak investor mulai melirik strategi dividen investing, yaitu membeli saham untuk mendapatkan pendapatan pasif dari dividen secara rutin, bukan semata-mata dari capital gain.
Dalam kondisi seperti ini, aksi jual investor asing juga menjadi salah satu faktor yang menekan harga saham. Namun di sisi lain, kondisi tersebut membuka peluang bagi investor domestik untuk mengakumulasi saham dengan valuasi lebih murah.
Saham Bank Jadi Sorotan Utama
Sektor perbankan menjadi salah satu yang paling banyak dibahas dalam strategi dividen. Saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI dinilai tetap memiliki fundamental kuat meskipun harga terkoreksi cukup dalam.
BBRI dan BMRI, misalnya, masih mencatat dividend yield yang kompetitif di kisaran dua digit dalam kondisi harga saat ini. Sementara BBCA tetap menjadi pilihan utama investor institusi karena kualitas aset dan stabilitas kinerja, meski valuasinya relatif lebih mahal.
Namun, risiko tetap membayangi sektor ini. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia serta perlambatan pertumbuhan kredit menjadi faktor utama yang menekan profitabilitas perbankan. Kondisi ini dapat memengaruhi net interest margin dan pertumbuhan laba ke depan.
Baca Juga: Antrian IPO Ramai, Saham Jelly dan PRDL Oversubscribe Ratusan Ribu Lot, Ini Strategi Investor Ritel
Saham Siklikal: Batu Bara dan Dividen Tinggi
Selain sektor perbankan, saham komoditas seperti PTBA dan ITMG juga menjadi favorit dalam strategi dividen. Emiten batu bara dikenal memiliki kebijakan pembagian dividen yang agresif terutama saat harga komoditas berada pada fase super cycle.
Dalam beberapa tahun terakhir, kedua emiten tersebut bahkan mencatat dividend yield yang sempat mencapai level sangat tinggi ketika harga batu bara melonjak. Meski bersifat siklikal, sektor ini tetap menarik bagi investor yang mengejar imbal hasil jangka panjang.
Strategi Dividen Investing: Bukan Sekadar Yield
Para investor yang menerapkan strategi dividen umumnya tidak hanya melihat yield, tetapi juga stabilitas bisnis dan keberlanjutan pembayaran dividen. Faktor seperti utang perusahaan, siklus industri, serta kondisi makro ekonomi menjadi pertimbangan penting.
Selain itu, investor juga perlu mempertimbangkan risiko volatilitas harga saham. Meski dividen tetap dibagikan, nilai portofolio dapat berfluktuasi signifikan tergantung kondisi pasar.
Momentum atau Risiko?
Penurunan IHSG saat ini dinilai sebagian pihak sebagai peluang masuk (entry point) menarik untuk jangka panjang. Namun, kondisi ini juga bisa berubah menjadi jebakan nilai (value trap) jika kinerja perusahaan melemah lebih dalam akibat tekanan makro ekonomi.
Faktor seperti stabilitas rupiah, kebijakan suku bunga, serta arus dana asing menjadi kunci utama arah pasar ke depan. Jika kondisi membaik, sektor perbankan dan komoditas berpotensi kembali menjadi motor penggerak IHSG.
Kesimpulan
Dividen investing di tengah koreksi pasar menawarkan peluang menarik, terutama dari sisi dividend yield yang meningkat. Namun strategi ini tetap membutuhkan analisis mendalam dan kesabaran tinggi.
Investor disarankan untuk tidak hanya tergiur oleh yield tinggi, tetapi juga memastikan fundamental emiten tetap sehat dan prospek jangka panjangnya berkelanjutan.
Baca Juga: BIG BANK IHSG Lagi Diskon 50%: BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, Bris Mana Paling Cuan?
Editor : Cholifatun Nisak