JAKARTA, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan dalam pada perdagangan sesi kedua hari ini. IHSG ditutup melemah lebih dari 3 persen ke level 5.643, memperpanjang tren penurunan yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Secara year to date, indeks bahkan tercatat anjlok hingga lebih dari 34 persen, menandakan tekanan besar yang melanda pasar modal Indonesia.
Penurunan tajam ini juga terlihat pada indeks lain seperti LQ45, Jakarta Islamic Index (JII), hingga MNC36 yang semuanya kompak berada di zona merah. Kondisi tersebut mempertegas bahwa pelemahan tidak hanya terjadi pada saham tertentu, melainkan bersifat menyeluruh di hampir seluruh sektor.
IHSG Terkoreksi Dalam, Semua Sektor Kompak Melemah
Berdasarkan data perdagangan, seluruh sektor utama seperti barang baku, energi, konsumsi non-primer, hingga properti mengalami tekanan jual. Tidak ada sektor yang mampu bertahan di zona hijau pada perdagangan hari ini.
Meski demikian, beberapa saham tetap mampu bertahan sebagai top gainers, di antaranya UNTR, CPIN, UNVR, dan ICBP. Saham-saham konsumer dinilai masih menjadi penopang di tengah koreksi dalam yang terjadi pada indeks.
Sementara itu, saham-saham seperti MBMA, BNBR, dan EPAC tercatat sebagai top losers dengan tekanan jual yang cukup signifikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor masih cenderung melakukan aksi keluar dari pasar (risk off).
Baca Juga: BIG BANK IHSG Lagi Diskon 50%: BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, Bris Mana Paling Cuan?
Analis: IHSG Masih Dalam Fase Penentuan Tren
Analis pasar modal menilai pelemahan IHSG saat ini masih berada dalam fase penentuan arah tren jangka menengah. Menurutnya, selama indeks masih bergerak di rentang 5.300 hingga 6.400, pasar belum keluar dari fase konsolidasi.
“Selama IHSG tidak membuat titik terendah baru di bawah 5.300, masih ada peluang untuk rebound dan membentuk tren naik baru,” ujar seorang analis sekuritas dalam diskusi bersama IDX Channel.
Ia menambahkan, tekanan utama saat ini berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah serta arus keluar dana asing (foreign outflow), terutama dari sektor perbankan yang selama ini menjadi motor penggerak IHSG.
Rupiah dan Foreign Flow Jadi Penentu Arah Pasar
Tekanan terhadap pasar saham juga tidak lepas dari kondisi makroekonomi, terutama pelemahan rupiah yang masih berada di kisaran tinggi. Analis menyebut bahwa selama rupiah belum kembali stabil di bawah level psikologis tertentu, IHSG akan sulit kembali menguat secara signifikan.
Saham perbankan menjadi sektor yang paling terdampak aksi jual asing. Salah satu yang paling tertekan adalah BBCA, yang turun lebih dari 6 persen dalam satu sesi perdagangan. Saham ini bahkan disebut masih berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 4.800 apabila tekanan jual berlanjut.
Sektor perbankan lain seperti BMRI, BBRI, dan BBNI juga ikut tertekan akibat keluarnya dana asing secara masif.
Peluang Rebound Masih Terbuka, Tapi Butuh Sinyal Makro
Meski tekanan masih tinggi, analis menilai peluang rebound IHSG tetap terbuka. Namun, beberapa syarat utama harus terpenuhi, seperti stabilnya rupiah, meredanya aksi jual asing, serta kebijakan suku bunga yang lebih kondusif.
Jika faktor tersebut mulai membaik, pasar diperkirakan dapat kembali bergerak menuju level psikologis 6.000. Namun untuk saat ini, investor disarankan tetap waspada terhadap volatilitas yang masih tinggi.
Baca Juga: Dividen Investing Saat IHSG Berdarah: Peluang Cuan Besar atau Justru Jebakan Value
Editor : Cholifatun Nisak